Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Kisah Mbah Sokiyem: Menjemput Rezeki dari Ikan Asin di Pulau Panjang

Rasa senang langsung terasa begitu menjejakkan kaki di Pulau Panjang. Pemandangan pepohonan yang rindang berpadu dengan birunya pantai menciptakan panorama yang memikat.

Di tengah keramaian suara pengunjung, debur ombak dari pantai terus terdengar, seolah menjadi latar alami yang menghidupkan suasana pulau tersebut.

Sementara di sudut lain seorang wanita yang sudah memasuki usia tua, tampak menawarkan dagangan ikan asin kepada para wisatawan yang hilir mudik.

Sokiyem (63) seorang pedagang ikan asin di Pulau Panjang. Ia berjualan sejak tahun 2018 sampai sekarang. Sebelum berjualan di pulau panjang, Sokiyem pada mulanya berjualan di Pantai Kartini, lalu pada tahun 2022 berpindah dagangan ke Pulau Panjang.

Dagangan yang dibawa yaitu ada ikan asin, kerupuk kepiting, kerupuk tenggiri super dan biasa, terasi udang, cumi kering, ikan gabus, dendeng gapoh, teri nasi, teri tawar, layur, sekar waru, ikan mujair, dan juga gambal.

“Harga daganan saya mulai dari Rp.5.000 sampai Rp.35.000 saja,” ungkap Sokiyem.

Ia menambahkan bahwa pendapatan dari dagangannya tidak menentu, saat dagangan ramai pembeli biasanya bisa mendapatkan sekitar Rp.300.000 sampai Rp.400.000, tapi saat dagangan sepi bisa hanya mendapatkan Rp.10.000 saja sehari.

“Saya jualan mulai dari jam 08.00 sampai jam 16.00 setiap hari Sabtu, Minggu dan saat hari libur nasional, saya aslinya orang Jogja lalu menikah dengan orang Jepara jadi sekarang saya tinggal di Jepara tepatnya di desa kopen, saya berangkat dari kopen jam 07.00 jadi jam 08.00 saya sudah di pulau panjang dan siap berjualan,” ujarnya

Di tengah panasnya cuaca pantai dan ramainya wisatawan yang datang silih berganti, Mbah Sokiyem tetap sabar melayani pembeli. Baginya, berjualan bukan hanya untuk mencari penghasilan, tetapi juga menjadi cara untuk tetap aktif dan mandiri di usia senja.

Menurut sari, dagangan mbah Sokiyem harganya sangat murah dan sangat banyak macamnya, cocok untuk dijadikan oleh-oleh saat berkunjung ke pulau panjang.

“Saya membeli ikan asin, terasi udang, dan juga kerupuk kepiting dari dagangannya mbah Sokiyem, harganya sangat murah dan juga banyak pilihan mulai dari ikan, cumi, kerupuk dan masih banyak lagi,” jelasnya.

Kisah Mbah Sokiyem mengajarkan bahwa semangat bekerja dan berusaha tidak mengenal usia. Di tengah keterbatasan dan pendapatan yang tidak menentu, ia tetap gigih mencari rezeki dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Ketekunan serta kerja kerasnya menjadi inspirasi bahwa seseorang harus tetap semangat menjalani hidup dan tidak mudah menyerah dalam keadaan apa pun.

Penulis:
Nur Widia (Mahasiswa Unisnu Jepara)

Share: