Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Ombak Rezeki di Pantai Perawehan, Sehari Bisa Kantongi Rp800 Ribu

KlikFakta.com, JEPARA – Di pesisir Jepara, debur ombak dan semilir angin laut menyambut wisatawan yang hendak menyeberang ke Pulau Panjang. Hamparan pasir putih dan air laut yang jernih menjadikan pulau kecil ini destinasi favorit untuk bersantai, berenang, dan menikmati panorama laut. Akses menuju pulau relatif mudah karena tersedia penyeberangan perahu sederhana dari beberapa titik, salah satunya melalui Pantai Perawehan. Sepanjang perjalanan, wisatawan disuguhi pemandangan laut yang menenangkan sebelum tiba di tujuan.

Supawi (54), Ketua Paguyuban Perawehan, menuturkan bahwa layanan penyeberangan dari Pantai Perawehan baru berjalan sekitar tiga tahun terakhir. Layanan ini lahir dari kesepakatan warga setempat yang kemudian diajukan kepada pengelola hingga akhirnya mendapat izin operasional.

“Saya bekerja di sini sejak dibukanya penyeberangan dari Pantai Perawehan, sekitar tiga tahun lalu. Awalnya ini hasil kesepakatan warga, kami berkumpul, bersepakat, lalu mengajukan ke pengelola sampai akhirnya bisa berjalan,” ujarnya.

Rute menuju Pulau Panjang tidak hanya dari Perawehan, tetapi juga dapat diakses dari Pantai Kartini dan Pantai Bandengan. Waktu tempuh penyeberangan berkisar 10–15 menit. Jam operasional dimulai pukul 07.00 hingga 16.00 WIB. Namun, jika ada wisatawan datang lebih awal, perahu tetap diberangkatkan.

“Kalau sudah ada pengunjung pukul enam pagi, tetap kami berangkatkan. Untuk waktu tempuh sekitar 10 sampai 15 menit,” jelasnya.

Dalam satu paguyuban terdapat 12 perahu milik pribadi anggota. Setiap perahu dapat mengangkut sekitar 20 penumpang. Meski kepemilikan perahu bersifat pribadi, sistem operasional diatur paguyuban secara bergiliran agar adil bagi seluruh anggota.

Soal pendapatan, Supawi menyebut omzet kotor per hari bisa bervariasi, tergantung tingkat keramaian.

“Kalau sepi, paling hanya satu kali penyeberangan dengan pendapatan sekitar Rp320 ribu. Kalau ramai, bisa empat kali bolak-balik, pendapatan kotor bisa sampai
Rp800 ribu per hari. Tapi itu belum bersih, karena masih dipotong kas, tenaga, dan asuransi. Semua pendapatan dikumpulkan dulu ke pengelola, lalu dibagikan setelah dipotong kewajiban,” paparnya.

Tingkat kunjungan sangat dipengaruhi faktor cuaca. Menurutnya, kendala utama penyeberangan adalah gelombang tinggi saat angin barat. Jika kondisi berbahaya, perahu tidak diberangkatkan. Namun, saat hujan dengan gelombang relatif stabil, penyeberangan masih memungkinkan. Pihak paguyuban juga menyiapkan alat keselamatan dan asuransi bagi penumpang.

“Kalau musim angin barat dan gelombang tinggi, kami tidak berani berangkat. Tapi kalau hanya hujan dan gelombangnya stabil, masih bisa menyeberang. Kami juga sudah menyiapkan pelampung dan asuransi untuk keselamatan penumpang,” tambahnya saat diwawancarai pada Minggu (03/05/2026).

Sementara itu, Aurelia, mahasiswi semester dua dari Universitas Negeri Semarang, mengaku mengunjungi Pulau Panjang bersama rekan-rekannya untuk kegiatan liburan organisasi. Mereka menyeberang melalui Pantai Kartini setelah mendapat rekomendasi teman asal Jepara.

“Awalnya kami ingin ke Jogja, tapi mencari yang dekat dengan pemandangan pantai dan alam yang segar. Sempat direkomendasikan ke Karimunjawa, tapi biayanya mahal. Akhirnya memilih ke sini dan ternyata tidak mengecewakan. Cuacanya cerah, penyeberangannya juga menyenangkan. Dengan harga tiket segitu, menurut kami sangat worth it,” ungkapnya.

Keberadaan paguyuban penyeberangan di Pantai Perawehan tidak hanya memudahkan akses wisata, tetapi juga menjadi sumber penghasilan menjanjikan bagi warga. Dengan modal perahu pribadi dan sistem pengelolaan bersama, para anggota paguyuban mampu meraup omzet jutaan rupiah per hari saat musim ramai wisatawan.

Penulis: Qonitatul Kholishoh

Share: