Di tengah riuh tawa wisatawan yang menikmati semilir angin pantai, seorang pedagang tetap setia menunggu di balik dagangannya yang tampak sepi pembeli.
Suara ombak yang bersahutan dengan dering sepeda dan teriakan bahagia para pelancong, menghadirkan suasana liburan yang begitu hidup. Sementara udara segar pantai seakan menjadi teman paling setia siang itu.
Siti Sukiyem (63) sebagai pedagang kerupuk dan gesek di pulau Panjang menyampaikan susah senangnya berjualan disini dikarenakan harus menyebrang menggunakan kapal dahulu.
“Saya nyebrang ke sini jam 8 pagi nanti nyebrang lagi jam 4 an sore, biasanya saya jualan di pulau Panjang hari jumat sampai minggu saja,” ungkap Siti saat diwawancarai di pulau Panjang, Minggu (3/5/26).
Ia menambahkan, dagangan yang dijual beragam macamnya, mulai dari kerupuk kepiting, tengiri super, terasi udang, ikan gabus, teri tawar, dendeng gapoh, gimbal, teri nasi, cumi kering, layur, petek emping, munjaer, gentong grabah, gimbal. Gesek yang paling laris diborong ada jambal, kerupuk cumi, dan dendeng tengiri.
“Kalau harga gesek dan kerupuknya ini udah paling murah semua dek, saya jual mulai Rp 5.000 paling mahal Rp 35.000 itu pun saya ga ambil untung banyak , ada yang beli aja udah alhamdulillah yang penting saya berusaha, masalah hasil pasrahkan ke allah saja,” ujarnya.
Selain itu, ia mengungkapkan penghasilan dagangannya perhari yang tidak menentu, terkadang bisa 500 ribu, atau bahkan 10 ribu, serta alasan di usia nya yang 63 tahun ini ia berjualan dikarenakan lebih nyaman punya uang hasil keringat sendiri.
“Saya yang penting kerja, dan ga merepotkan anak saya saja itu sudah lebih cukup, kalau dikasih uang dari anak ya saya terima alhamdulillah, saya jualan di sini menyesuaikan kondisi alam juga, kalau udah masuk musim penghujan agak jarang disini. Karena saya pernah berangkat jam 8 pagi tapi langsung balik nyebrang lagi karena ombaknya kenceng banget,” katanya.
Menurut Nada, dagangan yang dijual sangat beragam dan memang cocok dijadikan oleh-oleh para wisatawan atau orang-orang yang berziarah di sini. Selain harganya yang murah, isian gesek dan terinya juga banyak.
“Pas nyoba beli terasi nya, bau nya sedep banget. Harganya segini cuman Rp 10.000 dan terasinya gede banget, cocok untuk ibuku yang suka masak dirumah,” terangnya.
Penulis :
Naylatul Jannah (Mahasiswa Unismuh Jepara)







