Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Deklarasi Pasuruan “Pesantrenku Aman” Targetkan Pesantren Menjadi Rumah Kedua yang Nyaman

RMI PBNU bersama SAKA PBNU meluncurkan Kampanye Gerakan Nasional “Pesantrenku Aman” di Pondok Pesantren Al Yasini, Pasuruan (Foto: KlikFakta/Istimewa)

KlikFakta.com, PASURUAN – Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) bersama Satuan Anti Kekerasan (SAKA) PBNU resmi meluncurkan Kampanye Gerakan Nasional “Pesantrenku Aman” di Pondok Pesantren Al Yasini, Pasuruan, Jawa Timur. Mengusung jargon “Menjaga Amanah, Merawat Masa Depan,” gerakan ini diinisiasi sebagai langkah konkret dunia pesantren dalam menjamin lingkungan pendidikan yang aman, sehat, nyaman, serta ramah anak.

Rangkaian acara yang berlangsung intensif sejak 1 hingga 2 Juni 2026 ini mempertemukan seluruh ekosistem pesantren, mulai dari jajaran Pengasuh, Pengurus, Dewan Guru, Musyrif/Musyrifah (pembimbing asrama), hingga ribuan santri.

Santri Adalah Amanah yang Harus Dijaga

Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), menegaskan bahwa tugas utama institusi pesantren adalah menjaga kemaslahatan umat serta mencetak generasi penerus yang berakhlak mulia. Menurutnya, pelindungan terhadap santri merupakan hal yang mutlak dan tidak bisa ditawar.

“Santri merupakan amanah Allah SWT yang dititipkan kepada pesantren untuk dididik, dibimbing, serta dijaga keselamatan, kehormatan, dan masa depannya. Mewujudkan Pesantren Aman adalah bagian mutlak dari khidmah tersebut,” ujar Gus Yahya dalam arahannya.

Gus Yahya menambahkan bahwa PBNU berkomitmen penuh untuk membangun sistem pengawasan yang terstruktur dari tingkat pusat hingga daerah guna memastikan lingkungan pesantren tetap menjadi ruang yang aman dan sehat bagi anak.

IMG 20260602 WA0029
Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf

Senada dengan hal tersebut, Ketua RMI PBNU, KH. Hodri Ariev, menyatakan bahwa gerakan nasional ini dirancang untuk melampaui sekadar aspek seremonial belaka. Melalui konsolidasi para pengasuh, RMI ingin membangun benteng pertahanan internal yang kuat dari segala potensi kekerasan.

“Gerakan ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah ikhtiar bersama untuk memastikan pesantren tetap menjadi tempat yang aman, nyaman, dan bermartabat bagi santri dalam menuntut ilmu dan membangun masa depannya,” kata KH. Hodri Ariev.

Sementara itu, Ketua SAKA PBNU, Nyai Hj. Alissa Wahid, menyoroti pentingnya penanganan yang menyeluruh di dalam institusi pendidikan Islam, mulai dari mitigasi hingga pemulihan.

“Kita harus menggarisbawahi pentingnya aspek pencegahan, penanganan cepat, dan pemulihan terhadap segala bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan Islam,” tegas Alissa Wahid.

Di tingkat implementasi lapangan, Sekretaris RMI PBNU, Gus Ulunuha, menjelaskan bahwa pasca-deklarasi ini pihaknya menargetkan adopsi pakta integritas oleh sedikitnya 1.000 pesantren yang bernaung di bawah RMI. Kampanye ini juga diproyeksikan akan dikawal secara ketat melalui indikator yang terukur agar menjadi agenda wajib berkala.

Edukasi Santri Hingga Penyusunan SOP Penanganan Korban

Gerakan nasional ini tidak hanya berhenti pada pembacaan ikrar deklarasi, melainkan langsung diwujudkan dalam serangkaian pembekalan edukatif yang komprehensif: Edukasi Seksual dan Digital bagi Santri: Santri putri dibekali Pelatihan Tarbiyah Jinsiyah bersama Ning Nuvis dan Tim Nawaning untuk memahami kesehatan reproduksi dan batasan diri. Di sisi lain, santri putra mengikuti Pelatihan Santri Cakap Media bersama Dr. Abdulloh Hamid untuk literasi digital yang sehat.

Pelatihan Pengasuh Asrama: Dewan guru dan pengasuh asrama mengikuti pelatihan intensif bersama pakar anak seperti Dr. Marzuki Wahid dan Dr. Mohammad Maphur. Pelatihan ini difokuskan pada psikologi perkembangan anak serta penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan dan pendampingan korban kekerasan.

Halaqoh Pengasuh: Pertemuan ilmiah ilmiah para pengasuh pesantren se-wilayah Pasuruan bersama KH. Miftah Faqih dan KH. Agus Muhammad untuk menyamakan visi pengasuhan berbasis hak dan kemaslahatan anak.

Hasil dari Halaqah ini menyepakati rekomendasi “Deklarasi Pasuruan” yang berisi tentang lima hal: Pertama, menguatkan sistem pengasuhan berbasis kemaslahatan santri, Kedua menetapkan kebijakan dan mekanisme perlindungan santri, ketiga membentuk satgas pesantren aman, keempat menyediakan lingkungan, infrastruktur dan saluran pengaduan yang aman dan kelima membangun partisipasi dan budaya aman.

Lima hal tadi dibacakan langsung oleh Dr. KH. Wafiyul Ahdi (PP Bahrul Ulum Tambakberas) didampingi oleh KH. Nasih Aschol (PP Syaikhona Kholil Bangkalan) dan Dr. KH. Ahmad Munib Syafa’at (PP Darussalam Blokagung Banyuwangi).

Momen puncak yang dihadiri oleh sekitar 1.000 peserta tersebut ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa serta pembacaan naskah deklarasi secara khidmat. Setelah pembukaan di Jawa Timur, roadshow Gerakan Nasional “Pesantrenku Aman” direncanakan akan terus bergerak menyambangi berbagai wilayah lain di Indonesia. (hib-Ah)

 

Share: