Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Suasana Ramai Penyeberangan Warnai Liburan Pengunjung di Pulau Panjang Jepara

Panas matahari siang itu terasa menyengat, namun sesekali angin sejuk berhembus menghadirkan rasa adem di tepi pantai. Di hadapan mata, perahu hilir-mudik mengantar penumpang menuju Pulau Panjang, sementara deretan penjual makanan dan minuman sibuk melayani pengunjung yang memadati area gazebo.

Pohon-pohon tinggi berdiri kokoh, menaungi beberapa orang yang asyik memancing di pinggir pantai. Suara ombak yang bergulung berpadu dengan deru mesin perahu, diselingi percakapan hangat para pengunjung dan panggilan pembeli yang memesan hidangan, menciptakan suasana khas yang hidup dan penuh cerita di kawasan wisata tersebut.

Supawi (54) selaku ketua paguyuban yang menghubungakan pantai perawehan dengan pesisir eksotis Pulau Panjang mengungkapkan bahwa Penyeberangan dari Parawean diketahui mulai dibuka sejak tiga tahun lalu. Waktu tempuh perjalanan sekitar 15 menit dan seluruh armada kapal yang beroperasi merupakan milik pribadi warga. Adapun jam operasional dimulai pukul 07.00 hingga 16.00, namun penyeberangan dapat diberangkatkan lebih awal apabila sudah terdapat penumpang sejak pukul 06.00.

“Udah 3 tahun, karena Pantai perawehan baru dibuka sekitar tiga tahunan untuk wisata. Perjalanan dari perawehan ke Pulai Panjang sekitar kurang lebih 15 menit karena dekat, satu kapal biasanya beranggotakan 15-20 orang. Kalau jam operasional mulai dari jam 07.00 pagi sampai jam 16.00 sore, tapi jika jam 06.00 pagi sudah ada penumpang ya berangkat awal,” ujar Supawi.

Ia menambahkan, Dalam operasionalnya faktor cuaca menjadi kendala utama. Pada musim angin barat, gelombang laut cenderung tinggi sehingga mereka tidak berani melakukan penyeberangan. Sementara itu, saat hujan penyeberangan masih dapat dilakukan selama kondisi gelombang tetap stabil, mengingat gelombang sangat dipengaruhi oleh angin.

“Kendalanya tergantung cuaca ya, kalau cuaca angin musim barat itu kan gelombang tinggi jadi nggak berani nyebrang maka keberangkatan di off kan. dan hujan belum tentu gelombang, kalau hujan memang buat basah ya tapi kan belum tentu gelombang. kalau gelombang kan angin, dari angin,” terangnya.

Sementara itu, Arifin (45) penjaga Pulau Panjang menegaskan bahwa Pulau Panjang tidak memiliki penduduk tetap yang menetap sebagai warga desa. Pulau tersebut hanya dihuni oleh navigator serta penjaga makam yang bertugas di kawasan tersebut. Ia juga menjelaskan tiket masuk ke pulau panjang weekday dan weekend Rp8.000 tetapi ada hari tertentu harga tiket masuk menjadi Rp15.000.

“Untuk penduduk tidak ada, memang dari dulu tidak ada penduduk yang menetap. Cuma ada navigasi dan penjaga makam. tiket masuk ke pulau panjang weekday maupun weekend tetap sama Rp8.000 tapi kalau hari raya ataupun hari natal itu Rp15.000,” kata Arifin.

‎Aurelia dan Reina yang tengah berlibur ke Pulau Panjang mengaku bahwa menyesal tidak nge-camp di Pulau Panjang tetapi mereka juga merasa puas berlibur di Pulau Panjang.

“Alhamdulillah hari ini cerah tidak hujan, semuanya lancar. jadi pas sampai disini kita juga have fun. kalau kita berlibur kan nggak mikirin tugas-tugas jadi ya have fun tapi kurang lama sih disini seharusnya nge-camp tapi ya dikasih waktu libur cuma satu hari jadi habis ini kita langsung pulang,” jelasnya.

Penulis:
Tsaniya Aika (Mahasiswa Unisnu Jepara)

Share: