KlikFakta.com, JEPARA – Suasana tegang bercampur harap menyelimuti ruang seleksi yang dipenuhi ratusan pelajar di Pendopo Kartini Kabupaten Jepara. Di balik wajah-wajah muda itu, tersimpan satu tekad yang sama melindungi generasi mereka dari ancaman narkoba.
Sebanyak 224 peserta mengikuti Seleksi Duta Anti Narkoba Kabupaten Jepara 2026. Bagi mereka, ini bukan sekadar ajang unjuk kemampuan, melainkan langkah awal untuk mengambil peran dalam persoalan yang kian kompleks dan dekat dengan kehidupan remaja (05/05).
Para peserta diseleksi langsung sesuai kapasitas, pengetahuan, dan kriteria sebagai calon duta anti narkotika.
Sebagian peserta datang dengan pengalaman pribadi. Ada yang pernah melihat temannya terjerumus, ada pula yang ingin memastikan lingkungannya tetap aman.
Dari situ tumbuh kesadaran bahwa perang melawan narkoba tidak bisa hanya dibebankan pada aparat, tetapi membutuhkan keterlibatan generasi muda.
Toton Rasyid, S.H., M.H. sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah. menegaskan, anak muda kini berada di garis terdepan dalam upaya pencegahan.
“Remaja hari ini hidup di masa yang sangat rentan. Tekanan sosial, pergaulan, bahkan masalah pribadi bisa menjadi pintu masuk penyalahgunaan narkoba,” ujar Toton.
Pendekatan pencegahan pun terus berkembang. Tidak lagi sekadar larangan, tetapi membangun kesadaran sejak dini melalui program “Ananda Bersinar” yang menyasar anak usia PAUD hingga remaja.
Pada usia dini, anak-anak tidak langsung dikenalkan pada narkoba, melainkan dibekali pola hidup sehat serta keberanian untuk mengatakan “tidak”. Sementara di kalangan remaja, pendekatan lebih aktif dilakukan dengan mendorong mereka menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing.
Semangat itu terlihat dalam proses seleksi. Para peserta tidak hanya diuji pengetahuan, tetapi juga kepemimpinan dan kemampuan komunikasi sebagai bekal mengedukasi teman sebaya.
Wakil Bupati Jepara menilai kegiatan ini lebih dari sekadar kompetisi.
“Ini adalah proses membentuk karakter dan kepemimpinan generasi muda,” katanya.
Ke depan, peserta terpilih akan mengemban peran sebagai Duta Anti Narkoba yang akan turun langsung ke sekolah dan komunitas, menyampaikan pesan pencegahan sekaligus menjadi contoh nyata gaya hidup sehat.
Di tengah kompleksnya persoalan narkoba, upaya kecil dari ruang seleksi itu menjadi simbol harapan bahwa perubahan bisa dimulai dari keberanian anak muda untuk berkata: cukup, sampai di sini.
Sebagai penguatan edukasi, dalam kegiatan tersebut juga dipaparkan data terkait ancaman narkotika jenis baru (New Psychoactive Substances/NPS). Secara global, tercatat 1.386 jenis NPS telah terdeteksi, dengan 175 jenis di antaranya sudah masuk ke Indonesia.
Selain itu, muncul tren penyalahgunaan zat etomidate yang dicampurkan dalam cairan rokok elektrik (vape), serta penyalahgunaan nitrous oxide atau gas tertawa yang dikenal dengan istilah “whip pink”.
Zat-zat tersebut memiliki risiko serius, mulai dari hipoksia (kekurangan oksigen), kerusakan saraf, hingga kematian mendadak.(ADV)
Duta Anti Narkoba Jepara 2026, 224 Pelajar Siap Jadi Agen Perubahan






