Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Oktober dan Indonesia yang Belum Selesai Kita Rawat

Dari Pancasila, batik, ukir, santri, hingga pemuda, persatuan Indonesia membutuhkan tindakan nyata, bukan sekadar peringatan.

Oktober menghadirkan sejumlah hari penting bagi Indonesia. Ada Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober, Hari Batik Nasional pada 2 Oktober, Hari Santri pada 22
Oktober, dan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober. Sejarahnya berbeda-beda, tetapi semuanya bermuara pada satu pertanyaan: bagaimana kita merawat Indonesia?

Setiap tahun, peringatan itu hadir lewat upacara, seragam batik, kegiatan pesantren, dan acara kepemudaan. Semua itu tentu merupakan hal positif. Namun, apakah semangat pada hari peringatan juga hadir dalam kehidupan sehari-hari?

Pancasila Bukan Sekadar Hafalan

Hari Kesaktian Pancasila mengingatkan kita pada perjuangan bangsa mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. Namun, Pancasila tidak boleh berhenti sebagai lima sila yang dihafal sejak sekolah. Nilainya harus terlihat dalam sikap: menghormati orang lain, bersikap adil, membantu tetangga, dan menyelesaikan persoalan lewat musyawarah.

Perbedaan pilihan politik, pandangan keagamaan, atau kebiasaan adalah hal wajar. Yang berbahaya adalah ketika perbedaan membuat kita saling merendahkan dan menganggap yang berbeda sebagai lawan. Persatuan bukan berarti semua orang berpandangan sama, melainkan mampu hidup bersama tanpa menghilangkan hak dan martabat orang lain.

Batik dan Kebanggaan terhadap Identitas Sendiri

Sehari setelahnya, kita memperingati Hari Batik Nasional. Batik bukan sekadar pakaian untuk acara tertentu. Di dalamnya ada kreativitas, nilai budaya, dan kerja panjang para pembuatnya. Setiap daerah punya corak dan khas tersendiri, dan keberagaman itulah kekayaan bangsa.

Jepara, yang dikenal sebagai Kota Ukir, punya contoh nyata. Ukiran kayu Jepara dikenal jauh melampaui daerahnya, dan keterampilan itu diwariskan dari generasi ke generasi oleh para perajin. Batik dan ukiran memang berbeda, tetapi keduanya mengingatkan bahwa kebudayaan Indonesia tidak otomatis bertahan. Ia hidup jika ada anak muda yang mau belajar, ada pembeli yang menghargai kerja tangan, dan ada masyarakat yang bangga merawatnya.

Kebanggaan pada daerah sendiri tidak perlu membuat kita merasa lebih unggul dari daerah lain. Cinta budaya sendiri seharusnya berjalan bersama sikap menghargai budaya orang lain. Melestarikan budaya pun tidak cukup dengan memakai batik pada hari tertentu. Kita perlu mengenal maknanya, menghargai pembuatnya, dan memberi ruang bagi generasi muda untuk belajar dan mengembangkannya.

Santri dan Semangat Kebangsaan

Hari Santri pada 22 Oktober berkaitan dengan peran kalangan pesantren dalam perjuangan bangsa, termasuk Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Sejarah itu
menunjukkan bahwa kehidupan beragama dan cinta tanah air tidak perlu dipertentangkan.

Di masa sekarang, peran santri tidak hanya diukur dari penguasaan kitab, tetapi juga dari akhlak, kemampuan menjaga kerukunan, dan manfaatnya bagi lingkungan. Hal-hal sederhana seperti menghormati tetangga yang berbeda latar belakang, membantu warga yang membutuhkan, dan tidak mudah menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya adalah bagian dari tanggung jawab sosial itu.

Sumpah Pemuda dan Pekerjaan Generasi Sekarang

Rangkaian Oktober ditutup dengan Sumpah Pemuda. Ikrar Kongres Pemuda II tahun 1928 menunjukkan bahwa para pemuda kala itu mampu menempatkan persatuan di
atas perbedaan asal daerah.

Tantangan generasi sekarang memang berbeda. Informasi mudah didapat dan komunikasi berlangsung cepat, tetapi kemudahan itu tidak selalu mendekatkan kita. Kabar yang belum diverifikasi, pertengkaran di ruang digital, dan kebiasaan saling hina masih menjadi masalah. Maka semangat Sumpah Pemuda perlu diterjemahkan ke
zaman ini: memakai media sosial dengan bertanggung jawab, mempelajari budaya sendiri, dan terlibat dalam kegiatan yang bermanfaat.

Pemuda juga tidak perlu menunggu menjadi pejabat untuk berkontribusi. Mengajar anak-anak di sekitar rumah, membantu kegiatan desa, atau belajar dari perajin di
kampung sendiri merupakan langkah yang berarti.

Indonesia Harus Dirawat Bersama

Pancasila memberi dasar bernegara, batik dan ukir mencerminkan kekayaan budaya, santri menjadi bagian dari perjalanan keagamaan dan kebangsaan, sedangkan Sumpah Pemuda mengajarkan persatuan lintas perbedaan. Keempatnya tidak cukup dikenang lewat upacara. Nilainya perlu dibawa ke rumah, sekolah, pesantren, tempat kerja, dan lingkungan tempat kita tinggal.

Kita tidak harus melakukan hal besar untuk menunjukkan cinta kepada Indonesia. Menghargai tetangga, tidak merendahkan orang yang berbeda, menjaga budaya daerah, dan bijak bermedia sosial adalah langkah yang bisa dimulai siapa saja.

Indonesia bukan hanya milik mereka yang namanya tercatat di buku sejarah. Ia juga tanggung jawab kita yang hidup hari ini. Oktober akan berlalu, tetapi pekerjaan merawat Indonesia tidak pernah selesai.

Penulis:

Misbahul Munir, Mahasiswa PJJ UIN Siber Sekh Nurjati Cirebon.

Share: