Bayangkan ada seorang ibu rumah tangga di depan pasar tradisional, dia membuka dompetnya lebar, membuka tas kecilnya, mencari uang yang mungkin masih terselip, untuk membeli daging ayam potong, yang di luar perkiraannya sebelumnya, dia hanya membawa Rp.40.000,- setelah sisa membeli sayuran, kini ayam itu menembus Rp. 42.000,- per kilogram. Dia sontak terkaget dengan kenyataan ada anak-anak yang menunggu di rumah untuk di masakkan ayam goreng kesukaannya. Alhamdulillah masih ada Rp.2000,- yang terselip di saku bajunya, namun dia berpikir keras untuk menu makan malam apa yang akan di beli kalau habis untuk makan siang saja. Inilah kenyataan di Indonesia saat ini, bukan sekedar harga naik, melainkan sebuah sistem pengaman yang goyah.
Apakah ayam sudah menjadi barang yang mewah?
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik mencatat inflasi bulan Agustus 2026 sebesar 0,26 persen. Ini mengangkat inflasi tahunan menjadi 3,19 persen, naik 2,88 persen dari juli dan jauh di atas 2,31 persen pada bulan Agustus tahun lalu. Daging ayam potong telah tercatat sebagai penyumbang inflasi terbesar di kelompok makanan. Argumen BPS mengaitkan lonjakan ini dengan bersamaanya tiga momentum sekaligus, Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, perayaan HUT ke 81 Kemerdekaan, serta telah aktifnya dapur program Makan Bergizi Gratis setelah masa libur sekolah. Di berbagai daerah, bahkan mencatat kenaikan ayam potong dipicu oleh harga pakan yang naik serta permintaan Masyarakat yang melonjak. Inilah ironi ditengah ketidakpastian global yang menghantui, terbatasnya BBM subsidi, serta melemahnya daya beli Masyarakat. Masyarakat bawah terutama dipaksa menerima kondisi yang sekan mereka tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolaknya. Mau tidak mau, anak-anak mereka menanyakan menu yang akan di masak siang dan malam ini. Apakah memang ayam akan menjadi barang yang mewah? Ini menjadi tantangan untuk kita cari solusinya bersama.
Ketika Telur justru anjlok
Di bagian belahan lain seperti Bojonegoro, Jeneponto, Klaten, Boyolali dan Jepara justru mengalami tekanan akibat harga telur ayam justru anjlok. Dari data mencatat harga telur di tingkat peternak angkanya berkisar Rp. 20.500-21.500 per kilogram. Padahal di saat yang sama harga jagung sebagai bahan pakan utama mengalami lonjakan di kisaran Rp. 6.400 per kilogram. Bayangkan sejumlah peternak terpaksa menjual barang pribadinya hanya untuk membeli pakan, sekedar untuk mempertahankan usaha agar tetap berjalan. Bukan daging ayam saja yang butuh berpikir keras, tetapi juga pakan jagungnya juga harus diusahakan ekstra. Inilah kenyataan di lapangan, ada dua sisi persoalan yang berbeda. Sebagai Warga Negara yang baik, tentunya kita tidak hanya sibuk menyalahkan, tapi bagaimana cara kita untuk mencari Solusi dari kondisi tersebut. Apakah olahan telur bisa sementara menggantikan ayam? Ini perlu kita cermati agar tidak di rundung rasa menggerutu akibat kondisi yang demikian.
Kelangkaan Susu yang tak pernah selesai
Pada sisi yang lain, susu tetap menjadi barang yang cukup langka, produksi susu segar domestic hanya sekitar 635 ribu ton per tahun, sedangkan kebutuhan untuk program MBG saja diproyeksikan mencapai 741 ribu ton. Bayangkan produksi yang harus disiapkan untuk mencukupi defisit tersebut. Ditengah gencar program penanganan stunting, susu menjadi barang yang paling di cari untuk memenuhi kebutuhan itu. Anak-anak kurang mampu perlu perhatian khusus agar juga mendapatkan suplemen susu untuk meningkatkan gizi mereka yang akhirnya akan meningkatkan kemampuan berfikir untuk Indonesia Emas 2045. Peran kita sebagai Masyarakat sangat penting disini untuk saling membantu dan berbagi antar sesama.
Satu penyakit, Tiga gejala
Kita mungkin berfikir, apa masalah utamanya sehingga terjadi berbagai kondisi tersebut, ayam yang mahal, telur yang anjlok dan susu yang langka. Sebenarnya bukanlah tiga masalah yang terpisah, mereka adalah gejala dari satu penyakit yang sama yaitu rantai pasuk pangan hewani Nasional yang rapuh, sistem yang terlalu bergantung pada harga pakan impor yang fluktuatif dan kebijakan harga acuan yang reaktif tanpa fondasi structural yang kuat. Para peternak unggas dihajar dari dua sisi sekaligus, harga jual yang naik turun, gejolak musiman dan biaya pakan yang mengikuti nilai tukar rupiah serta standar harga jagung dunia. Di saat permintaan tiba-tiba melonjak di musim Agustusan dan Ajaran baru, kebutuhan sekolah yang meningkat, harga ayam juga melejit menekan Masyarakat. Disisi lain daerah tertentu terjadi pasokan telur yang berlimpah sementara daya beli juga melemah sehingga harga telur ambruk dan memberi tekanan pada peternak. Sebenarnya Pemerintah telah menetapkan harga acuan pada kedua sisi, namun tanpa disertai dengan kekuatan penegakan dan tanpa membenahi akar masalahnya, maka angka ketergantungan pakan impor serta lemahnya tata kelola komunitas peternak rakyat, angka harga diatas kerta itu hanya jadi pajangan yang dilampaui pasar dalam hitungan hari.
Bagaimana peran ekonomi islam?
Disinlah peran Pemikiran Ekonomi Islam klasik yang justru terasa memberikan Solusi ditengah masalah kontemporer saat ini. Melalui kitabnya al-hisbah, Ibnu Taimiyah telah menegaskan bahwa Negara tidak boleh mematok harga secara paksa ketika kenaikan atau penurunan harga murni disebabkan oleh perubahan yang wajar antara permintaan dan penawaran. Itu merupakan sunatullah yang dalam teori umum menyebutnya sebagai mekanisme pasar. Namun, Negara harus bertindak tegas ketika ada kedzaliman yang dilakukan oleh Manusia seperti penimbunan (ihtikar), permainan tengkulak yang menekan harga, serta distorsi informasi yang membuat peternak tak berdaya menghadapi tekanan pasar. Fenomena yang terjadi sekarang ini persis seperti yang telah Ibnu Taimiyah sampaikan, semestinya ditindak melalui pengawasan pasar, bukan hanya pengumuman harga acuan yang belum tentu ditegakkan.
Menurut Al-Ghazali bahwa pasar yang sehat adalah pasar yang dijaga kejujuran dan kesimbangan antara berbagai pihak. Peternak tidak boleh terus menerus dirugikan demi menjaga harga tetap murah untuk konsumen, karena itu akan mengancam keberlangsungan usahanya di masa yang akan datang. Dalam kitab Muqaddimah, Ibnu Khaldun juga mengingatkan bahwa kemakmuran suatu Negeri ditentukan oleh kekuatan produksinya, bukan oleh besarnya permintaan yang diciptakan secara mendadak lewat program Pemerintah. Ketika Negara memberikan intervensi permintaan melalui program MBG tanpa memperkuat basis peternak rakyat dan rantai pasok pakan dalam Negeri, yang terjadi hanyalah pemindahan tekanan antara peternak kecil dan konsumen. M. Umer Chapra juga menekankan bahwa kebijakan pangan harus sesuai dengan maqashid syariah, artinya pemeliharan jiwa dan keturunan tidak hanya dipenuhi jangka pendek, tetapi juga jangka Panjang. Keuangan Sosial Islam seperti zakat produktif dan wakaf uang sebenarnya dapat diarahkan untuk membiayai kemandirian peternak kecil, serta pengembangan jagung lokal, sehingga tidak membebani dana APBN yang ruang geraknya semakin sempit.
Apa yang bisa ditawarkan?
Kita mungkin berfikir bahwa, apakah gagasan Pemikir Ekonomi Islam itu bisa diterapkan di era sekarang?. Jawabannya sangat bisa, apabila dilakukan berbagai tahapan berikut. Yang pertama, apabila dibangun kesadaran dari seluruh lapisan Masyarakat tentang kewajiban zakat, terutama zakat produktif, Dana hasil zakat produktif dapat digunakan untuk membiayai Pembangunan Cadangan pakan strategis seperti jagung sehingga peternak dapat memperoleh harga yang lebih murah. Hasilnya pun pemerintah tidak bergantung sepenuhnya pada harga jagung impor yang mengikuti fluktuasi nilai rupiah. Ketahanan pakan ternak itu dapat tercapai apabila tingkat partisipasi zakat, terutama zakat produktif semakin tinggi. Yang kedua adalah, menguatkan program koperasi peternak berbasis syariah melalui skema bagi hasil (musyarakah), ini dibutuhkan untuk memutus rantai tengkulak yang menekan harga telur, peternak punya daya tawar kolektif melalui koperasi syariah tersebut. Yang ketiga adalah Literasi program wakaf uang, dengan meningkatkan kesadaran untuk wakaf uang di Indonesia yang memiliki potensi muslim terbesar di Dunia saat ini, maka sangat mungkin untuk memperoleh pendanaan wakaf uang yang bisa produktif dalam membiayai peternak ayam, sapi perah dan produksi penyediaan pakan. Akhirnya, memang peran Negara sangat penting untuk menjaga stabilitas harga, namun peran kita sebagai Masyarakat juga sama pentingnya, Islam mengajarkan kita untuk menjadi Masyarakat madani, Masyarakat yang beradab, demokratis, sadar akan prinsip moral dan hukum, serta menjamin keseimbangan antara kebebasan individu dan stabilitas sosial, sehingga sangat mungkin untuk mencapai Indonesia Emas di Tahun 2045.
Oleh:
Kharis Fadlullah HanaMerupakan seorang Dosen UIN Sunan Kudus yang telah berkecimpung di dunia akademisi dan praktisi sejak tahun 2018, aktif sebagai Pembina dalam kelolmpok studi pasar modal syariah, kelompok studi ekonomi islam, Masyarakat Ekonomi Syariah, Analis Sekuritas dalam asosiasi analis efek Indonesia, Wakil Sekretaris pada Lembaga Kemaslahatan Keluarga NU Jawa Tengah dan Sedang menempuh Pendidikan Doktoral di Universitas Airlangga.
Referensi:
Tirto.id. (2026). Harga Ayam dan Cabai Naik, Inflasi Agustus 2026 Tembus 0,21%. https://tirto.id/harga-ayam-dan-cabai-naik-inflasi-agustus-2026-tembus-021-hB8v
Informasi.com. (2026). Inflasi Agustus 2026 Capai 3,19 Persen, Harga Daging Ayam Biang Utama Kenaikan.
https://informasi.com/ekonomi/infrms-27792/inflasi-agustus-2026-capai-319-persen-harga-daging-ayam-biang-utama-kenaikan
Media Indonesia. (2026). Inflasi DIY Agustus 2026 Capai 0,27 Persen, Dipicu Harga Daging Ayam dan Emas.
https://mediaindonesia.com/nusantara/928510/inflasi-diy-agustus-2026-capai-027-persen-dipicu-harga-daging-ayam-dan-emas
The Iconomics. (2026). Inflasi Agustus 2026 Capai 0,21%, Harga Daging Ayam dan Cabai Jadi Pendorong Utama. https://www.theiconomics.com/art-of-execution/inflasi-agustus-2026-capai-021-harga-daging-ayam-dan-cabai-jadi-pendorong-utama/
Arina.id. (2026). Gejolak Pangan, Harga Cabai Rawit dan Daging Ayam Sumbang Inflasi di September Ini. https://www.arina.id/berita/ar-hsqoe/gejolak-pangan-harga-cabai-rawit-dan-daging-ayam-sumbang-inflasi-di-september-ini
Bisnisterkini.com. (2026). Inflasi Agustus 2026 Tembus 3,19 Persen, Harga Daging Ayam hingga Cabai Meroket. https://bisnisterkini.com/detail/591283/inflasi-agustus-2026-tembus-319-persen-harga-daging-ayam-hingga-cabai-meroket
Badan Pusat Statistik. (2026). Inflasi Year-on-Year (y-on-y) pada Agustus 2026 Sebesar 3,19 Persen. https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/09/01/2611/inflasi-year-on-year–y-on-y–pada-agustus-2026-sebesar-3-19-persen-.html
CNN Indonesia. (2026). Harga Telur Turun, Peternak Menjerit saat Sentuh Rp20 Ribuan per Kg. https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260602130815-92-1364463/harga-telur-turun-peternak-menjerit-saat-sentuh-rp20-ribuan-per-kg
MerahPutih.com. (2026). Kendalikan Harga Telur Ayam, Bulog Diperintahkan Gelontorkan Jagung Pakan ke Peternak. https://www.merahputih.com/post/amp/kendalikan-harga-telur-ayam-bulog-diperintahkan-gelontorkan-jagung-pakan-ke-peternak
Bloomberg Technoz. (2026). Harga Telur dan Ayam Broiler Turun, Pakan Kian Mahal. https://www.bloombergtechnoz.com/detail-foto/1615/harga-telur-dan-ayam-broiler-turun-pakan-kian-mahal
Gema Surya FM. (2026). Peternak Ayam Petelur Keluhkan Harga Pakan Naik Sementara Telur Turun.
Peternak Ayam Petelur Keluhkan Harga Pakan Naik Sementara Telur Turun
IndonesiaInside.id. (2026). Pemerintah Tetapkan Harga Ayam dan Telur Baru, Berlaku Mulai 15 Juli 2026.
https://indonesiainside.id/ekonomi/2026/07/15/pemerintah-tetapkan-harga-ayam-dan-telur-baru-berlaku-mulai-15-juli-2026
Kompas.id. (2026). Harga Beras Kian Mahal, Harga Telur Makin Jeblok. https://www.kompas.id/artikel/harga-beras-kian-mahal-harga-telur-makin-jeblok
Jawa Pos. (2026). Program MBG Butuh Susu Banyak, BGN Akui Kewalahan Penuhi Pasokan. https://www.jawapos.com/ekonomi/2606020241/program-mbg-butuh-susu-banyak-bgn-akui-kewalahan-penuhi-pasokan
WRI Indonesia. (2025). Menimbang Ulang Pemberian Susu Sapi pada Program Makan Bergizi Gratis. https://wri-indonesia.org/en/insights/reconsidering-milk-mbg-program
Tempo.co. (2024). Tak Wajib Susu dalam Program Makan Bergizi Gratis. https://www.tempo.co/ekonomi/susu-sapi-makan-bergizi-gratis-1167578
IDN Times Sumsel. (2025). Padang Kekurangan Pasokan Susu Sapi Segar untuk Program MBG. https://sumsel.idntimes.com/news/sumatera-selatan/padang-kekurangan-pasokan-susu-sapi-segar-untuk-program-mbg-c1c2-01-2jz43-wqvxs1
Ibn Taymiyyah. Al-Hisbah fi al-Islam (Fungsi Pengawasan Pasar dalam Islam). Edisi terjemahan, Pustaka Al-Kautsar.
Al-Ghazali. Ihya’ ‘Ulum al-Din, Kitab Adab al-Kasb wa al-Ma’ash (Etika Berusaha dan Mata Pencaharian).
Ibn Khaldun. Muqaddimah. (terj. Franz Rosenthal / edisi terjemahan Indonesia, Pustaka Al Kautsar).
Chapra, M.U. (1992). Islam and the Economic Challenge. Leicester: The Islamic Foundation.
Mannan, M.A. (1986). Islamic Economics: Theory and Practice. Cambridge: Hodder & Stoughton.







