Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Literasi Digital Bukan Sekadar Bisa Membaca dan Menulis

Silvia Oti Nugraheni

Silvia Oti Nugraheni*

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kemampuan mengakses informasi melalui perangkat digital seolah telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa dapat dengan mudah memperoleh informasi melalui media sosial, mesin pencari, dan berbagai platform digital. Namun, kemudahan tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa masyarakat telah memiliki kemampuan literasi digital yang memadai.

Fenomena penyebaran berita bohong, kesalahpahaman terhadap informasi, hingga maraknya konten yang tidak mendidik menjadi pengingat bahwa kemampuan menggunakan teknologi perlu diimbangi dengan kecakapan berpikir kritis. Seseorang mungkin mampu membaca ribuan informasi setiap hari, tetapi belum tentu mampu memahami, mengevaluasi, dan menentukan kebenaran informasi yang dibacanya.

Persoalan ini menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan, khususnya dalam pembelajaran bahasa dan sastra. Selama ini, literasi kerap dikaitkan dengan kemampuan membaca dan menulis. Padahal, dalam kehidupan digital, literasi juga mencakup kemampuan memahami konteks, menafsirkan makna, mengidentifikasi kepentingan di balik suatu informasi, serta menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab.

Membaca Banyak, Memahami Sedikit

Kemudahan mengakses informasi telah mengubah kebiasaan membaca masyarakat. Informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik melalui berbagai platform digital. Sayangnya, kecepatan mengakses informasi tidak selalu diikuti dengan kedalaman pemahaman.

Tidak sedikit pengguna media sosial yang langsung membagikan informasi tanpa memeriksa sumber dan kebenarannya. Judul berita yang provokatif sering kali lebih menarik perhatian daripada isi berita itu sendiri. Akibatnya, informasi yang belum tentu benar dapat menyebar luas dan memengaruhi cara masyarakat memahami suatu persoalan.

Dalam konteks ini, literasi digital tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan mengoperasikan perangkat atau menemukan informasi di internet. Literasi digital juga menuntut kemampuan untuk mempertanyakan informasi, membandingkan berbagai sumber, dan memahami bagaimana bahasa digunakan untuk membentuk persepsi pembaca.

Kemampuan tersebut berkaitan erat dengan pembelajaran bahasa. Bahasa bukan sekadar alat untuk menyampaikan pesan, melainkan juga sarana untuk membangun pemahaman dan memengaruhi cara seseorang memandang realitas. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa seharusnya tidak berhenti pada penguasaan kaidah kebahasaan, tetapi juga mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memahami dan mengkritisi berbagai bentuk teks.

Pembelajaran Bahasa Perlu Beradaptasi

Perkembangan teknologi menuntut adanya penyesuaian dalam kurikulum dan praktik pembelajaran. Pembelajaran bahasa yang hanya berorientasi pada penguasaan materi dan penyelesaian soal belum cukup untuk membekali peserta didik menghadapi kompleksitas komunikasi digital.

Peserta didik perlu memperoleh pengalaman belajar yang memungkinkan mereka berinteraksi langsung dengan berbagai teks yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Berita daring, unggahan media sosial, iklan digital, hingga konten video dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran yang kontekstual.

Misalnya, dalam pembelajaran teks berita, guru tidak hanya meminta peserta didik mengidentifikasi unsur 5W+1H. Mereka juga dapat diajak membandingkan pemberitaan dari beberapa media, mengidentifikasi pilihan kata yang digunakan, serta menganalisis perbedaan sudut pandang dalam penyajian suatu peristiwa.

Kegiatan semacam ini dapat mengembangkan keterampilan membaca sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis. Peserta didik tidak hanya memahami apa yang disampaikan dalam sebuah teks, tetapi juga belajar mempertanyakan bagaimana dan mengapa informasi tersebut disajikan dengan cara tertentu.

Pembelajaran sastra pun memiliki peluang yang sama. Karya sastra yang dihadirkan melalui platform digital dapat menjadi sarana untuk mengembangkan kepekaan terhadap bahasa, memahami perspektif orang lain, serta merefleksikan berbagai persoalan sosial. Dengan demikian, sastra tidak hanya dipelajari sebagai kumpulan karya atau teori, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun pemahaman terhadap kehidupan.

Inovasi Pembelajaran di Tengah Perubahan Digital

Inovasi pembelajaran tidak selalu berarti menghadirkan teknologi yang canggih di ruang kelas. Hal yang lebih mendasar adalah bagaimana guru merancang pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan perkembangan zaman.

Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah pembelajaran berbasis proyek dengan memanfaatkan media digital. Peserta didik, misalnya, dapat diminta membuat artikel opini, podcast, video edukasi, atau ulasan karya sastra berdasarkan hasil pengamatan dan kajian mereka terhadap suatu persoalan.

Melalui kegiatan tersebut, peserta didik tidak hanya berlatih menulis atau berbicara, tetapi juga belajar memilih informasi, menyusun argumen, mempertimbangkan pembaca, dan menggunakan bahasa secara tepat. Proses pembelajaran pun menjadi lebih bermakna karena keterampilan berbahasa diterapkan dalam situasi yang dekat dengan kehidupan mereka.

Kehadiran kecerdasan buatan juga memberikan tantangan baru. Teknologi ini dapat membantu peserta didik menemukan ide, menyusun kerangka tulisan, dan memperbaiki penggunaan bahasa. Namun, pemanfaatannya perlu disertai kemampuan untuk memeriksa ketepatan informasi, mengevaluasi hasil yang dihasilkan, serta mempertanggungjawabkan karya yang dibuat.

Dalam hal ini, guru tidak cukup hanya melarang atau membolehkan penggunaan teknologi. Guru perlu membimbing peserta didik agar mampu memanfaatkannya secara kritis, etis, dan bertanggung jawab. Kurikulum pun perlu memberikan ruang bagi pengembangan keterampilan tersebut melalui kegiatan pembelajaran yang relevan.

Membangun Literasi yang Bermakna

Pada akhirnya, keberhasilan literasi digital tidak dapat diukur hanya dari seberapa sering seseorang menggunakan teknologi atau seberapa cepat ia menemukan informasi. Hal yang lebih penting adalah bagaimana seseorang memahami, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran bahasa dan sastra memiliki peran strategis dalam membangun kemampuan tersebut. Melalui kegiatan membaca kritis, berdiskusi, menulis, dan mengapresiasi karya sastra, peserta didik dapat mengembangkan kemampuan berbahasa sekaligus membangun kesadaran terhadap informasi yang mereka konsumsi dan produksi.

Oleh karena itu, inovasi pembelajaran bahasa dan sastra perlu diarahkan pada pengembangan literasi yang lebih bermakna. Bukan sekadar membuat peserta didik mahir menggunakan teknologi, melainkan juga membekali mereka dengan kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi secara efektif, dan bertanggung jawab dalam ruang digital.

Sebab, di tengah derasnya arus informasi, tantangan pendidikan bukan lagi sekadar membuat peserta didik mampu membaca dan menulis, melainkan membantu mereka memahami apa yang dibaca, mempertimbangkan apa yang dipercaya, dan bertanggung jawab atas apa yang dituliskan.

*Penulis adalah mahasiswa program doktor (S3) Pascasarjana UNNES Semarang, Jawa tengah dan dosen di UIN Sunan Kudus

Share: