Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Evi Septiana Farida, Ketegasan dan Dedikasi dalam Mendidik Generasi Berkarakter

Evi Septiana Farida merupakan sosok guru yang dikenal memiliki pembawaan sederhana dengan penampilan yang rapi dan bersahaja. Berkulit putih, postur yang proporsional serta berkepribadian tegas dan disiplin.

Ia menjalankan profesinya sebagai guru Kimia, Sejarah Indonesia serta Sejarah Umum di Madrasah Aliyah Negeri 1 Jepara dengan penuh tanggung jawab. Ketegasan yang dimilikinya berpadu dengan dedikasi dalam mendidik, sehingga mampu menciptakan suasana belajar yang tertib sekaligus mendorong peserta didik untuk berkembang.

Perjalanan pendidikan Evi Septiana Farida dimulai di SD Negeri 3 Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia melanjutkan ke SMP Negeri 2 Karangreja, kemudian menempuh pendidikan di MAN 2 Purwokerto yang kini bernama MAN 2 Banyumas.

Setelah lulus dari madrasah aliyah, ia bercita-cita melanjutkan pendidikan ke Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) pada Program Studi Bahasa Inggris. Namun, karena belum diterima, ia memilih pilihan keduanya, yaitu menempuh pendidikan di Program Studi Kimia UIN Walisongo Semarang hingga berhasil menyelesaikan studi sarjananya.

Lahir di Purbalingga, Jawa Tengah, Evi Septiana Farida tumbuh di tengah keluarga sederhana yang penuh kasih sayang sebagai anak keempat dari empat bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai petani, sedangkan ibunya berprofesi sebagai pedagang.

Latar belakang keluarga tersebut membentuk nilai-nilai kerja keras, kedisiplinan, dan semangat pengabdian yang menjadi bekal dalam perjalanan hidupnya.

Evi membangun rumah tangga bersama Arda Kesatria Kinasihing Gusty dan dikaruniai empat orang anak, yaitu Nawiby Islafa Anugrahing Gusty, Muhammad Kaisu Satrianing Gusty, Muhammad Al Ghozi Chandraning Gusty, dan Syalena Gastari Widarining Gusty. Keharmonisan keluarga menjadi sumber semangat baginya dalam menjalankan peran sebagai istri, ibu, sekaligus pendidik.

Menjadi guru bukanlah cita-cita awal Evi Septiana Farida. Ia pernah bercita-cita menjadi pramugari, tetapi tidak mendapat persetujuan dari ayahnya. Sang ayah yang dahulu juga bercita-cita menjadi guru kemudian mendorong Evi untuk menekuni profesi tersebut. Kini, ia justru menikmati perannya sebagai guru karena setiap hari selalu menghadirkan pengalaman dan cerita baru bersama para siswanya.

Evi Septiana Farida mulai mengabdi sebagai guru di MAN 1 Jepara pada 11 Juli 2011. Pada awal masa pengabdiannya, ia mengampu mata pelajaran Kimia. Seiring berjalannya waktu, karena sekolah mengalami kekurangan tenaga pendidik pada mata pelajaran Sejarah, ia turut dipercaya mengajar Sejarah Indonesia dan Sejarah Umum.

Selain itu, ia juga pernah mengampu mata pelajaran Kewirausahaan, Projek Penguatan Profil Pelajar Rahmatan lil Alamin (P5RA), serta Keterampilan Ibadah. Hingga saat ini, ia telah mengabdikan diri sebagai guru selama lebih dari lima belas tahun.

Selama menjalankan profesinya, Evi menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam menghadapi keberagaman karakter peserta didik yang memiliki tingkat pemahaman, gaya belajar, dan perilaku yang berbeda-beda.

Disisi lain, tuntutan administrasi, seperti penyusunan RPP, modul ajar, dan berbagai laporan, juga menjadi tantangan karena menyita cukup banyak waktu. Untuk mengatasinya, ia menerapkan skala prioritas, menyelesaikan pekerjaan administrasi secara bertahap, agar pekerjaannya dapat dilakukan secara lebih efektif dan efisien.

Selama menjadi guru, Evi mengaku belum memiliki pencapaian khusus yang bersifat formal. Meskipun demikian, pengalaman yang paling berkesan baginya adalah ketika berhasil membimbing peserta didik yang mengalami kesulitan belajar maupun memiliki permasalahan perilaku hingga menunjukkan perubahan yang signifikan.

Melihat siswa mampu berkembang, lebih percaya diri, dan menemukan solusi atas permasalahan yang dihadapinya menjadi kepuasan tersendiri sekaligus pencapaian paling bermakna dalam perjalanan pengabdiannya sebagai seorang pendidik.

Perjalanan hidup Evi Septiana Farida mencerminkan sosok pendidik yang tegas, disiplin, dan berdedikasi dalam membentuk generasi yang berkarakter. Baginya, “Mengajar adalah menyalakan lilin, bukan mengisi wadah yang kosong. Jadi, teruslah menyala dan menginspirasi.” Ia juga meyakini bahwa membentuk siswa menjadi pribadi yang lebih beradab jauh lebih penting daripada sekadar mengajarkan ilmu pengetahuan.

Penulis: Tsaniya Aika R (Mahasiswa KPI UNISNU Jepara)

 

Share: