Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

PEREMPUAN DALAM DUNIA KEWIRAUSAHAAN: MENEMBUS BATAS STEREOTIP

Dr. Hj. Siti Malaiha Dewi, S.Sos., M.Si., CIQaR

Penulis: Dr. Hj. Siti Malaiha Dewi, S.Sos., M.Si., CIQaR

Ketika membicarakan kewirausahaan, kita sering kali masih membayangkan sosok pengusaha sebagai figur laki-laki yang berani mengambil risiko, tegas dalam mengambil keputusan, dan memiliki keleluasaan untuk mengembangkan bisnis. Gambaran semacam ini bukan sekadar persoalan citra. Ia merupakan bagian dari stereotip gender yang secara tidak sadar ikut membentuk cara kita memandang perempuan di dunia usaha.

Padahal, realitas menunjukkan hal yang berbeda. Perempuan justru memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia. Data menunjukkan bahwa sekitar 64,5 persen pelaku UMKM di Indonesia adalah perempuan, atau setara dengan lebih dari 37 juta unit usaha. Dominasi tersebut menunjukkan bahwa perempuan bukan pendatang baru dalam dunia kewirausahaan. Mereka telah menjadi salah satu penggerak penting ekonomi keluarga sekaligus ekonomi nasional.

Persoalannya, mengapa kontribusi sebesar itu belum selalu diikuti dengan kesempatan yang setara untuk berkembang?

Jawabannya tidak sederhana. Perempuan menghadapi hambatan yang berlapis, mulai dari stereotip sosial dan budaya, beban domestik, keterbatasan akses pendanaan, minimnya jaringan bisnis, kesenjangan literasi digital, hingga hambatan psikologis. Karena itu, membicarakan kewirausahaan perempuan tidak cukup dengan mendorong perempuan agar lebih berani dan percaya diri. Yang juga perlu dilakukan adalah membenahi sistem dan lingkungan yang selama ini membuat perempuan harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan peluang yang sama.

Perempuan dan Stereotip yang Belum Usai

Stereotip terhadap perempuan dalam dunia usaha masih mudah ditemukan. Perempuan sering dianggap lebih cocok berada di ranah domestik daripada dunia bisnis. Ketika terlibat dalam pengambilan keputusan, mereka kadang dicap terlalu emosional. Ketika mengambil risiko, keberanian mereka dipertanyakan. Bahkan ketika berhasil, kesuksesan perempuan tidak jarang dianggap sebagai keberuntungan semata, sementara keberhasilan laki-laki lebih mudah dipandang sebagai hasil kerja keras dan kompetensi.

Stereotip semacam ini adalah “tembok kaca” yang tidak selalu terlihat, tetapi nyata membatasi ruang gerak perempuan.

Ada pula standar ganda dalam kepemimpinan. Pengusaha perempuan dituntut tegas dan agresif agar dianggap serius. Namun, ketika menunjukkan ketegasan yang sama, mereka justru berisiko dinilai tidak feminin. Pada saat yang sama, perempuan masih diharapkan menjadi pengurus utama rumah tangga. Akibatnya, perempuan menghadapi beban ganda: membangun bisnis sekaligus menjalankan tanggung jawab domestik yang sering kali tidak terbagi secara setara.

Kita perlu berhenti melihat persoalan ini sebagai kelemahan individual perempuan. Jika seorang perempuan harus mengurus rumah, mendampingi keluarga, sekaligus mengembangkan bisnis, maka keterbatasan waktu dan energi bukan semata-mata persoalan kemampuan manajemen dirinya. Ada struktur sosial yang perlu dibenahi.

Ketika Modal Menjadi Tembok Berikutnya

Selain stereotip, persoalan serius yang dihadapi wirausaha perempuan adalah akses terhadap pembiayaan. Perempuan lebih sulit mengakses pendanaan formal karena berbagai faktor, termasuk keterbatasan agunan, bias dalam lembaga keuangan, dan rendahnya literasi keuangan. Aset keluarga, misalnya, sering kali tercatat atas nama suami sehingga perempuan kesulitan memenuhi persyaratan agunan ketika mengajukan pembiayaan.

Masalahnya kemudian berlanjut pada tahap scaling up. Banyak usaha perempuan mampu bertahan, tetapi sulit naik kelas menjadi usaha yang lebih besar. Modal terbatas, jaringan bisnis yang sempit, kemampuan pemasaran yang belum optimal, dan pemanfaatan teknologi digital yang masih rendah menjadi beberapa faktor penghambat.

Di sini kita menemukan sebuah ironi. Perempuan telah terbukti mampu menciptakan dan mempertahankan usaha, tetapi ketika hendak memperbesar skala bisnis, tembok yang dihadapi semakin tinggi.

Maka, keberhasilan pemberdayaan kewirausahaan perempuan tidak cukup diukur dari berapa banyak perempuan yang memiliki usaha. Pertanyaan yang lebih penting adalah: berapa banyak usaha perempuan yang berhasil tumbuh, menciptakan lapangan kerja, memasuki pasar yang lebih luas, mengakses pembiayaan, dan menghasilkan inovasi?

Jangan Menyalahkan Perempuan

Ada kecenderungan dalam berbagai program pemberdayaan untuk mengatakan bahwa perempuan harus diperbaiki: harus lebih percaya diri, lebih berani mengambil risiko, lebih melek teknologi, dan lebih cakap mengelola keuangan.

Semua itu memang penting. Tetapi, solusi masa depan perlu bergeser dari sekadar “memperbaiki perempuan” menjadi “memperbaiki sistem.” Hambatan yang dihadapi perempuan bukan hanya berasal dari dalam dirinya, tetapi juga dari lingkungan sosial, ekonomi, kelembagaan, dan kebijakan.

Karena itu, peningkatan kapasitas perempuan harus berjalan beriringan dengan perubahan ekosistem.

Pemerintah perlu menyediakan kebijakan dan program pendanaan yang lebih mudah diakses. Lembaga keuangan perlu mengurangi bias gender dalam evaluasi kredit. Institusi pendidikan perlu memperkuat literasi bisnis, digital, dan keuangan. Dunia usaha perlu membuka jaringan dan peluang yang lebih inklusif. Sementara para wirausaha perempuan sendiri perlu terus membangun kapasitas, jaringan, serta kepercayaan diri.

Teknologi: Peluang Sekaligus Tantangan

Transformasi digital memberikan peluang besar bagi perempuan. Teknologi memungkinkan seseorang menjalankan bisnis tanpa harus memiliki toko fisik, memperluas jangkauan pasar, dan memberikan fleksibilitas dalam mengatur waktu. Platform digital bahkan terbukti membantu UMKM bertahan ketika terjadi krisis seperti pandemi.

Namun, teknologi juga dapat menciptakan kesenjangan baru. Tidak semua perempuan memiliki akses internet dan perangkat yang memadai. Bahkan ketika sudah mampu menggunakan media digital untuk promosi, belum tentu mereka memiliki kemampuan dalam analisis data, pembukuan digital, manajemen inventaris, atau keamanan siber.

Karena itu, digitalisasi UMKM perempuan tidak boleh berhenti pada kemampuan membuat konten atau berjualan melalui media sosial. Perempuan perlu didorong menguasai teknologi sebagai instrumen strategis untuk membaca pasar, mengelola keuangan, meningkatkan efisiensi, menjaga keamanan usaha, dan mengambil keputusan berbasis data.

Belajar dari Perempuan yang Menembus Batas

Kisah Nurhayati Subakat melalui PT Paragon menunjukkan bahwa perempuan dapat membangun bisnis besar dengan keberanian membaca peluang dan konsistensi melakukan inovasi. Wardah diluncurkan pada 1995 sebagai pionir kosmetik halal ketika pasar tersebut belum banyak digarap. Kesuksesan kemudian dikembangkan melalui diversifikasi merek dan investasi pada riset serta pengembangan produk.

Kisah Amanda Cole melalui Sayurbox memperlihatkan wajah lain dari kewirausahaan perempuan. Teknologi digunakan bukan sekadar untuk menjual produk, tetapi untuk memperpendek rantai pasok dan menghubungkan petani dengan konsumen secara lebih langsung. Model tersebut menempatkan pemberdayaan petani sebagai bagian dari DNA bisnis, sekaligus menciptakan nilai ekonomi dan sosial.

Dua contoh tersebut menunjukkan bahwa kewirausahaan perempuan tidak harus didefinisikan semata-mata sebagai aktivitas mencari keuntungan. Kewirausahaan dapat menjadi instrumen untuk menciptakan perubahan sosial dan ekonomi.

Jaringan, Mentor, dan Keberanian untuk Tumbuh

Salah satu kunci penting yang sering luput dalam pembicaraan mengenai kewirausahaan adalah jaringan. Perempuan membutuhkan komunitas yang memungkinkan mereka bertukar pengalaman, berbagi solusi, mendapatkan akses pelatihan, dan membuka peluang kolaborasi. Mentor juga memiliki peran penting karena dapat memberikan arahan berdasarkan pengalaman, membantu mengenali peluang, membuka jaringan profesional, serta memberikan dukungan moral ketika menghadapi kegagalan.

Jaringan juga dapat menjadi antidot terhadap imposter syndrome, yaitu kondisi ketika seseorang meragukan kemampuannya sendiri dan merasa bahwa keberhasilannya terjadi hanya karena keberuntungan. Keraguan terhadap kemampuan dan ketakutan terhadap kegagalan disebut sebagai salah satu hambatan psikologis yang dapat menghalangi perempuan mengambil risiko yang diperhitungkan dan mengembangkan usaha ke skala yang lebih besar.

Karena itu, perempuan perlu didorong untuk tidak hanya bertahan dalam bisnis, tetapi juga berani tumbuh.

Saatnya Mengubah Cara Pandang

Masa depan kewirausahaan perempuan akan semakin dipengaruhi oleh ekonomi digital, e-commerce, startup yang dipimpin perempuan, kecerdasan buatan, otomatisasi, dan tuntutan terhadap bisnis yang berkelanjutan. Keterampilan yang dibutuhkan pun semakin kompleks: literasi digital tingkat lanjut, kecakapan keuangan digital, green skills, serta kemampuan soft skills.

Karena itu, agenda pemberdayaan perempuan harus bergerak dari sekadar menciptakan “perempuan yang bisa berusaha” menuju “perempuan yang mampu membangun usaha yang tangguh, inovatif, berkelanjutan, dan kompetitif.”

Pada akhirnya, perempuan tidak membutuhkan belas kasihan untuk masuk ke dunia kewirausahaan. Mereka membutuhkan kesempatan yang adil, akses yang setara, lingkungan yang inklusif, jaringan yang kuat, serta sistem yang tidak bias.

Jika perempuan telah menjadi pengelola mayoritas UMKM di Indonesia, maka pertanyaannya bukan lagi apakah perempuan mampu berwirausaha. Pertanyaan yang lebih relevan adalah: mengapa mereka masih harus menghadapi begitu banyak tembok untuk berkembang?

Menembus stereotip berarti membongkar keyakinan lama bahwa bisnis adalah dunia laki-laki dan perempuan cukup menjadi pelengkap. Menembus stereotip berarti mengakui bahwa ketelitian, ketekunan, kemampuan berkolaborasi, empati, dan orientasi pada keberlanjutan bukan kelemahan, melainkan modal kewirausahaan.

Lebih dari itu, ketika perempuan diberdayakan secara ekonomi, manfaatnya tidak berhenti pada perempuan itu sendiri. Keluarga, komunitas, tenaga kerja, dan perekonomian secara lebih luas ikut mendapatkan dampaknya.

Maka, sudah saatnya perempuan tidak hanya diberi ruang untuk masuk ke dunia kewirausahaan, tetapi juga diberi jalan untuk tumbuh dan memimpin di dalamnya. Sebab, menyingkirkan batas stereotip bukan hanya perjuangan perempuan. Ini adalah pekerjaan bersama untuk membangun ekonomi yang lebih adil, inklusif, dan tangguh.

Share: