Tradisionalitas selalu dikaitkan dengan lokalitas. Pesantren sebagai bentuk pendidikan tradisional selalu diasosiasikan sebagai bentuk lokalitas atau Islam lokal, namun demikian bukan berarti tidak memiliki universalitas.
Santri itu sangat lokal. Ia lahir dari bilik bambu, tidur beralaskan tikar, makan dari nampan bersama, belajar kitab kuning dengan makna gandul Jawa. Bahasanya ngoko, adabnya sungkem, pakaiannya sarung. Kalau dilihat dari luar, ia adalah potret Islam yang paling tradisional, paling kampung, paling tidak modern.
Tapi justru di dalam ke-lokal-an itulah letak kekuatan universalnya. Hal ini sejalan dengan yang ditegaskan Prof. Nadirsyah Hosen bahwa “pesantren menjadi kawah candradimuka untuk mencetak para pendidik dan tokoh bangsa”. Kawah Candradimuka itu memang panas, tradisional, dan ditempa secara lokal, namun yang keluar darinya adalah tokoh-tokoh yang siap menjawab tantangan bangsa dan dunia. Seperti Raden Wisanggeni dalam cerita wayang Jawa.
Apa yang diajarkan pesantren? Bukan hanya fiqih halal-haram saja, tapi adab. Adab terhadap Kiai, terhadap teman, terhadap ilmu, bahkan terhadap sandal yang harus ditata rapi. Adab itu universal. Di mana pun di dunia, manusia butuh adab. Pesantren juga mengajarkan _ta’awun_ lewat ro’an, _tawadhu_ lewat ngaji nunduk, dan _istiqamah_ lewat rutinitas wirid harian.
Inilah yang dijelaskan M. Arifin (1993) bahwa “lembaga pendidikan memang sejak dulu berperan sebagai gerbong kemajuan sebuah bangsa yang melestarikan, mengalihkan serta mentransformasikan nilai-nilai kebudayaan kepada generasi penerus.” Pesantren melakukan itu. Ia melestarikan tradisi kitab kuning yang lokal, namun mentransformasikan nilainya menjadi etos kerja, toleransi, dan keilmuan yang universal.
Banyak orang mengira untuk menjadi universal harus menjadi modern, harus meninggalkan tradisi. Padahal santri membuktikan sebaliknya. K.H. Hasyim Asy’ari menjadi tokoh universal bukan karena meninggalkan pesantren, justru karena mendalami tradisi pesantren.
Hari ini santri tidak hanya di surau kampung atau gotakan-kitakan bambu lawas saja. Ia hadir di laboratorium, di parlemen, di startup, di panggung seni. Ia membawa logika sorogan untuk membedah masalah modern, membawa nalar bandongan untuk mendengar perbedaan pendapat.
Itulah santri. Ia tetap lokal dengan sarungnya, tapi pikirannya mampu menembus cakrawala. Ia tradisional dengan kitabnya, tapi solusinya dapat menjawab persoalan dunia. Karena pesantren tidak pernah mengajarkan untuk menolak dunia. Ia hanya mengajarkan: dari mana pun kamu berangkat, jangan lupa pulangnya untuk umat.
Selamat Hari Santri Nasional 2026
Oleh: Jajang Abdul Hamid, S.Pd., M.Pd.
(Guru PAI MA MATHOLIBUL HUDA MLONGGO JEPARA)







