Ada satu bagian menarik dari kuliah umum Menteri Agama RI, Prof. Nasaruddin Umar, di UIN Sunan Kudus yang rasanya sayang jika berhenti sebagai pesan seremonial dalam sebuah kunjungan. Ia mengajak perguruan tinggi Islam melihat kembali bagaimana peradaban Islam pada masa lalu dibangun. Nama-nama besar seperti Ibn Sina, Al-Ghazali, dan Ibn Rushd disebut. Baitul Hikmah juga menjadi salah satu gambaran tentang bagaimana tradisi keilmuan Islam pernah berkembang begitu dinamis.
Pesan semacam ini sebenarnya bukan hal baru. Kita cukup sering mendengar cerita tentang masa ketika dunia Islam menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan. Tetapi yang menarik bukanlah romantisme bahwa “Islam pernah berjaya”.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: mengapa pada masa itu peradaban Islam bisa melahirkan begitu banyak ilmuwan besar?
Dan setelah mendengar kuliah umum Menteri Agama, saya justru terpikir pertanyaan lain: kalau semangat Baitul Hikmah hendak dihidupkan kembali, seperti apa bentuknya pada zaman kecerdasan buatan seperti sekarang?
Bukan Sekadar Mengenang Baghdad
Baitul Hikmah sering digambarkan sebagai salah satu simbol penting perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Abbasiyah. Di sana terjadi aktivitas penerjemahan dan pengembangan pengetahuan dari berbagai tradisi.
Yang menarik, para ilmuwan Muslim ketika itu tidak merasa bahwa berinteraksi dengan pengetahuan dari luar Islam akan otomatis mengancam iman mereka.
Filsafat Yunani dipelajari. Tradisi kedokteran dikembangkan. Matematika, astronomi, logika, dan berbagai cabang pengetahuan lainnya tumbuh melalui perjumpaan dengan khazanah ilmu yang berasal dari beragam peradaban.
Tentu proses tersebut tidak selalu berlangsung harmonis. Ada perdebatan, kritik, bahkan pertentangan pemikiran. Dan justru di situlah menariknya.
Pengetahuan tidak hanya diterjemahkan, kemudian diterima begitu saja. Ia dibaca, diperdebatkan, dikritik, dan pada akhirnya dikembangkan. Dari ekosistem semacam itulah kita mengenal nama-nama seperti Ibn Sina, Al-Ghazali, Ibn Rushd, Al-Khawarizmi, Al-Farabi, dan banyak ilmuwan lainnya. Karena itu, menurut saya, hal terpenting dari Baitul Hikmah bukan gedungnya. Bukan pula romantisme tentang kejayaan Baghdad. Yang jauh lebih penting adalah keberanian intelektualnya. Keberanian untuk bertemu dengan pengetahuan baru.
Zaman Berubah, Tantangannya Juga Berubah
Kalau pada masa itu salah satu tantangan intelektual umat Islam adalah bagaimana berinteraksi dengan filsafat Yunani dan tradisi pengetahuan dari berbagai peradaban, tantangan kita hari ini tentu berbeda.
Kita sedang berhadapan dengan kecerdasan buatan. Algoritma semakin menentukan informasi apa yang kita baca, tontonan apa yang kita lihat, bahkan orang seperti apa yang kita kenal di ruang digital.
Bioteknologi berkembang sangat cepat. Neurosains semakin jauh menjelaskan kerja otak dan kesadaran manusia. Teknologi mulai memasuki wilayah yang dahulu kita bayangkan hanya bisa dilakukan manusia.
AI bahkan sudah bisa menulis, menggambar, membuat musik, berbicara, dan membantu manusia mengambil keputusan. Pertanyaannya kemudian bukan lagi sekadar: bolehkah umat Islam menggunakan AI?
Pertanyaannya jauh lebih besar. Apa arti menjadi manusia ketika mesin semakin mampu meniru kecerdasan manusia? Bagaimana agama berbicara tentang otoritas ketika orang bisa bertanya tentang agama kepada mesin selama 24 jam? Bagaimana konsep kerja, pendidikan, dakwah, etika, bahkan spiritualitas akan berubah ketika kehidupan manusia semakin berdampingan dengan algoritma?
Di sinilah menurut saya semangat Baitul Hikmah menemukan relevansinya kembali. Kita tidak perlu membangun ulang Baghdad abad kesembilan. Kita membutuhkan keberanian intelektual yang sama untuk menghadapi abad ke-21. UIN Tidak Cukup Hanya Berganti Nama.
Pesan Menteri Agama tersebut menjadi semakin relevan ketika disampaikan di UIN Sunan Kudus. Perubahan dari sekolah tinggi menjadi institut, kemudian menjadi universitas, seharusnya tidak berhenti pada perubahan nomenklatur kelembagaan.
Menjadi universitas membawa konsekuensi intelektual yang jauh lebih besar. Perguruan tinggi Islam harus menjadi ruang perjumpaan berbagai disiplin ilmu. Bayangkan misalnya ahli tafsir berdiskusi serius dengan ilmuwan komputer mengenai AI. Ahli fikih duduk bersama ahli teknologi membicarakan etika kecerdasan buatan. Ahli tasawuf berdialog dengan psikolog dan ilmuwan neurosains tentang kesadaran manusia. Ilmuwan dakwah bekerja bersama data scientist untuk memahami perubahan perilaku keagamaan masyarakat digital. Ahli ekoteologi bertemu ilmuwan lingkungan untuk mencari solusi terhadap krisis ekologis.
Pertemuan-pertemuan seperti itulah yang menurut saya lebih mendekati semangat Baitul Hikmah daripada sekadar seminar tentang kejayaan peradaban Islam. Sebab peradaban tidak lahir karena kita sering menceritakan kejayaan masa lalu.
Peradaban lahir ketika pengetahuan baru diproduksi.
Ada satu gagasan lain dari Menteri Agama yang menurut saya juga menarik. Ia mendorong agar kampus memiliki “ruang” yang dapat menjadi tempat meditasi atau kontemplasi bagi masyarakat.
Sekilas gagasan ini mungkin terdengar sederhana. Namun jika dibaca lebih jauh, sebenarnya ada pertanyaan besar di belakangnya. Manusia modern ternyata menghadapi paradoks. Teknologi semakin canggih, tetapi manusia belum tentu semakin tenang.
Informasi semakin mudah diperoleh, tetapi kita belum tentu semakin memahami kehidupan. Kita bisa berbicara dengan orang di belahan dunia lain dalam hitungan detik, tetapi kesepian justru menjadi persoalan masyarakat modern. AI semakin pintar menjawab pertanyaan, tetapi ada pertanyaan yang mungkin tetap harus dijawab manusia sendiri:
Untuk apa saya hidup?
Di titik itulah agama masih mempunyai ruang yang sangat penting. Perguruan tinggi Islam seharusnya tidak hanya menjadi tempat orang belajar tentang agama. Ia juga bisa menjadi tempat masyarakat menemukan makna, ketenangan, kesadaran, etika, dan orientasi hidup.
Dalam bahasa yang lebih luas, UIN dapat menjadi salah satu ruang bagi manusia untuk bertumbuh secara utuh: intelektual sekaligus spiritual.
Mungkin gagasan pusat meditasi yang disampaikan Menteri Agama dapat dibaca dari perspektif tersebut. Bukan sekadar menyediakan sebuah ruangan untuk duduk dan merenung, tetapi membangun ruang perjumpaan antara ilmu pengetahuan, agama, spiritualitas, dan persoalan nyata manusia modern.
Jangan Berhenti pada Nostalgia Peradaban
Kita sebenarnya tidak kekurangan cerita mengenai kejayaan Islam. Nama Ibn Sina sudah sangat sering disebut. Begitu pula Al-Ghazali, Ibn Rushd, Al-Khawarizmi, Al-Farabi, dan ilmuwan Muslim lainnya. Baitul Hikmah juga berulang kali hadir dalam seminar tentang peradaban Islam.
Yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah bagaimana cerita-cerita tersebut diterjemahkan menjadi ekosistem pengetahuan hari ini. Apakah kampus memberikan ruang yang cukup untuk eksperimen intelektual? Apakah disiplin ilmu masih sibuk mempertahankan temboknya masing-masing?
Apakah penelitian kita hanya berakhir menjadi laporan dan angka kredit, atau benar-benar melahirkan pengetahuan yang dibutuhkan masyarakat? Apakah ilmuwan agama cukup berani memasuki perdebatan mengenai AI, bioteknologi, perubahan iklim, kesehatan mental, krisis makna, dan masa depan manusia?
Dan sebaliknya, apakah perkembangan sains dan teknologi masih memberikan tempat yang cukup bagi pertanyaan tentang etika, nilai, spiritualitas, dan tujuan hidup manusia?
Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang menurut saya perlu juga dibaca dari pesan Menteri Agama di UIN Sunan Kudus.
Baitul Hikmah Baru
Mungkin kita memang membutuhkan Baitul Hikmah baru. Tetapi bentuknya tidak harus sebuah bangunan megah dengan tulisan besar “Baitul Hikmah” di bagian depan.
Ia bisa berbentuk laboratorium, Pusat riset, Kelompok diskusi kecil, Kolaborasi lintas disiplin, Jurnal ilmiah, Ruang kontemplasi, atau bahkan percakapan sederhana antara ahli agama dan ilmuwan teknologi yang sebelumnya tidak pernah duduk bersama.
Yang penting adalah semangatnya: keterbukaan terhadap pengetahuan, keberanian berdialog, kebebasan berpikir, kedalaman spiritual, dan kesediaan mencari jawaban atas persoalan zaman.
Setiap peradaban mempunyai pertanyaannya sendiri. Para ilmuwan Muslim masa lalu telah menjawab sebagian pertanyaan pada zamannya. Kita boleh mengagumi mereka. Kita bahkan perlu mempelajari mereka. Tetapi tugas generasi hari ini bukan menjadi Ibn Sina kedua, Al-Ghazali kedua, atau Ibn Rushd kedua. Tugas kita adalah menjawab pertanyaan zaman kita sendiri.
Salah satu pertanyaan terbesar abad ini mungkin sedang berada di depan mata: bagaimana agama, ilmu pengetahuan, dan kemanusiaan akan hidup bersama ketika kecerdasan buatan semakin menjadi bagian dari kehidupan manusia?
Jika Baitul Hikmah pada masanya menjadi ruang perjumpaan Islam dengan pengetahuan dunia, maka perguruan tinggi Islam hari ini mempunyai tantangan untuk menghadirkan keberanian intelektual yang sama.
Bukan untuk kembali ke Baghdad abad kesembilan. Tetapi untuk ikut menentukan seperti apa peradaban manusia abad ke-21 hendak dibangun.
Dan mungkin, itulah salah satu pesan terpenting yang bisa kita bawa pulang dari kuliah umum Menteri Agama di UIN Sunan Kudus.
Penulis: Wahyu Khoiruz Zaman (Dosen UIN Sunan Kudus)







