Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Reshuffle Keempat Kabinet Merah Putih, Presiden Prabowo Didesak Benahi Barantin dan Selamatkan Ekspor Sarang Burung Walet

Dewan Pembina PPSWN, Benny Hutapea

KlikFakta.com, JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto kembali melakukan perombakan (reshuffle) Kabinet Merah Putih untuk keempat kalinya di tengah tekanan kondisi ekonomi global yang belum stabil. Langkah ini dinilai sebagai sinyal bahwa pemerintah berupaya merespons langsung persoalan di lapangan, termasuk keluhan dari pelaku usaha di sektor riil.

Salah satu sorotan utama dalam reshuffle kali ini adalah pergantian Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin). Posisi tersebut kini diisi oleh Abdul Kadir Karding, yang diharapkan mampu memperbaiki tata kelola serta mengembalikan kepercayaan pelaku usaha, khususnya di sektor ekspor komoditas strategis.

Kalangan pelaku usaha Sarang Burung Walet (SBW) menaruh harapan besar pada kepemimpinan baru di Barantin. Mereka menilai selama ini terdapat persoalan serius berupa tumpang tindih regulasi, lemahnya koordinasi antar-lembaga, hingga minimnya diplomasi perdagangan internasional.

Dewan Pembina PPSWN, Benny Hutapea, dalam kajian yang disusunnya menyebut Barantin cenderung belum optimal dalam menghadapi tekanan dari otoritas negara tujuan ekspor, termasuk hambatan dari bea cukai luar negeri. Akibatnya, akses pasar ekspor SBW Indonesia dinilai belum maksimal.

“Koordinasi dan diplomasi belum berjalan efektif. Ini berdampak langsung pada menurunnya daya saing produk kita di pasar global,” ujar Benny dalam keterangannya.

Ia juga menyoroti adanya indikasi ego sektoral di internal kelembagaan yang menghambat sinergi lintas kementerian. Kondisi tersebut disebut berkontribusi pada penurunan signifikan nilai dan volume ekspor SBW dalam lima tahun terakhir.

Padahal, Indonesia merupakan produsen utama sarang burung walet dunia, dengan kontribusi mencapai sekitar 80 persen dari total produksi global. Secara historis, komoditas ini telah memiliki nilai tinggi sejak era Dinasti Ming, dan hingga kini tetap menjadi produk unggulan bernilai ekonomi tinggi.

Lebih lanjut, Benny mengungkapkan adanya praktik pengalihan ekspor yang memicu maraknya perdagangan ilegal. Volume ekspor SBW ilegal diperkirakan mencapai sekitar 2.000 ton per tahun, dengan potensi kerugian negara yang disebut mencapai puluhan triliun rupiah setiap tahun.

Dengan kondisi tersebut, pelaku usaha berharap Kepala Barantin yang baru dapat memperkuat koordinasi dengan kementerian terkait seperti Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta lembaga lainnya. Barantin diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pengawasan, tetapi juga menjadi instrumen ekonomi dan diplomasi yang mampu membuka akses pasar internasional.

“Petani dan pelaku usaha SBW menunggu perubahan nyata. Dengan kepemimpinan baru, kami optimistis sektor ini bisa kembali bangkit dan memberi kontribusi besar bagi perekonomian nasional,” kata Benny.

Reshuffle kabinet ini pun menjadi ujian bagi pemerintah untuk memastikan reformasi kelembagaan berjalan efektif dan mampu menjawab tantangan sektor strategis, termasuk industri sarang burung walet yang selama ini dinilai belum tergarap maksimal.

Reporter: Aris.S

Share: