Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Gus Baha, Sosok Ulama Sederhana yang Menginspirasi Generasi

Perawakannya tampak sederhana dengan postur tubuh sedang. Wajahnya teduh, dihiasi senyum ramah yang selalu menyambut siapa pun tanpa membedakan latar belakang. Rambut hitam yang dipotong pendek, kumis dan janggut tipis, serta sorot mata yang tenang menjadi ciri khas sosok Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha.

Dalam berbagai kesempatan, beliau lebih sering mengenakan baju koko atau kemeja sederhana yang dipadukan dengan sarung dan peci hitam. Penampilannya jauh dari kesan mewah, namun justru dari kesederhanaan itulah terpancar wibawa seorang ulama. Dengan gaya penyampaian yang santai, penuh humor, tetapi sarat makna, Gus Baha berhasil menarik perhatian ribuan orang untuk mempelajari Al-Qur’an lebih mendalam. Sosoknya menjadi bukti bahwa kewibawaan tidak lahir dari penampilan, melainkan dari keluasan ilmu, akhlak, dan ketulusan dalam mengabdi kepada umat.

Ahmad Bahauddin Nursalim lahir di Desa Narukan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Ia merupakan putra dari KH. Nursalim Al-Hafizh, seorang ulama sekaligus penghafal Al-Qur’an yang disegani di daerahnya. Sejak kecil, Gus Baha tumbuh di lingkungan keluarga yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Dari ayahnya, ia mulai belajar membaca, menghafal, dan memahami Al-Qur’an. Pendidikan agama telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-harinya sehingga membentuk pribadi yang disiplin, rendah hati, dan mencintai ilmu.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, Gus Baha melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, di bawah asuhan KH. Maimun Zubair atau yang akrab dikenal sebagai Mbah Moen. Di pesantren tersebut, ia mendalami berbagai disiplin ilmu Islam, seperti tafsir Al-Qur’an, hadis, fikih, ushul fikih, nahwu, sharaf, dan ilmu-ilmu bahasa Arab.

Ketekunannya dalam belajar membuat Gus Baha dikenal sebagai santri yang memiliki kemampuan luar biasa dalam memahami kitab-kitab klasik. Bahkan, sejak masih menjadi santri, ia telah dipercaya membantu menjelaskan berbagai kitab kepada teman-temannya. Baginya, belajar bukan sekadar menghafal, tetapi memahami isi dan mengamalkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.

Perjalanan hidup Gus Baha tidak ditempuh dengan jalan yang instan. Bertahun-tahun beliau menghabiskan waktunya untuk belajar, menghafal Al-Qur’an, mengkaji kitab-kitab ulama terdahulu, serta berguru kepada para kiai. Kesabaran dan keistiqamahannya dalam menuntut ilmu menjadi bekal utama hingga akhirnya dikenal sebagai salah satu ulama ahli tafsir di Indonesia.

Meski memiliki keluasan ilmu, Gus Baha tetap memilih hidup sederhana. Ia tidak pernah menampilkan dirinya sebagai sosok yang harus dipuji atau diagungkan. Sebaliknya, beliau selalu menunjukkan bahwa seorang pencari ilmu harus rendah hati dan terus belajar sepanjang hayat.

Menjadi seorang ulama tentu bukan perjalanan yang mudah. Gus Baha harus melewati proses belajar yang panjang dengan disiplin tinggi. Waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk bersantai lebih banyak dihabiskan bersama kitab-kitab dan para guru.

Beliau juga harus menjaga semangat belajar dalam berbagai kondisi serta terus mengembangkan pemahamannya terhadap Al-Qur’an dan hadis. Namun, semua proses tersebut dijalani dengan penuh keikhlasan karena baginya, ilmu adalah amanah yang harus dijaga.

Seiring berjalannya waktu, Gus Baha mulai dikenal luas melalui berbagai pengajian dan kajian tafsir Al-Qur’an. Ceramah-ceramahnya yang sederhana, diselingi humor, serta mudah dipahami membuat banyak masyarakat dari berbagai usia tertarik untuk belajar agama. Kajiannya tidak hanya dihadiri secara langsung, tetapi juga tersebar melalui berbagai media digital sehingga dapat dinikmati oleh masyarakat di berbagai daerah, bahkan hingga luar negeri.

Keistimewaan Gus Baha bukan hanya karena keluasan ilmunya, tetapi juga karena cara beliau menyampaikan pesan-pesan agama dengan penuh kasih sayang. Beliau mengajarkan pentingnya memahami Islam secara utuh, tidak mudah menyalahkan orang lain, serta selalu mengedepankan akhlak dalam berdakwah. Sikap rendah hati yang tetap dipertahankan meskipun telah dikenal luas menjadi salah satu alasan mengapa beliau dihormati oleh para ulama maupun masyarakat umum.

Bagi Gus Baha, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mampu mendekatkan seseorang kepada Allah sekaligus membawa manfaat bagi sesama manusia. Beliau selalu menekankan bahwa dakwah bukan tentang mencari popularitas, melainkan mengajak manusia memahami agama dengan cara yang bijaksana, damai, dan penuh kasih. Prinsip inilah yang membuat sosok Gus Baha tetap dicintai dan menjadi inspirasi bagi banyak generasi muda untuk terus belajar tanpa merasa paling benar.

Perjalanan hidup Gus Baha mengajarkan bahwa kesuksesan bukan hanya diukur dari banyaknya pengikut atau tingginya jabatan, melainkan dari seberapa besar manfaat yang diberikan kepada orang lain. Dengan kesederhanaan, ketekunan dalam menuntut ilmu, dan keikhlasan dalam berdakwah, beliau membuktikan bahwa ilmu akan semakin bernilai ketika disertai akhlak yang baik.

Kisah hidupnya menjadi inspirasi bahwa setiap langkah kecil dalam mencari ilmu akan membawa seseorang menuju keberkahan. Seperti yang sering tercermin dari perjalanan hidup beliau, semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin rendah pula hatinya dalam memperlakukan sesama.

Penulis: Riska Naylis Saputri

Share: