Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Harmoni Lintas Generasi: FORSIKABANU Jati dan Undaan Gandeng Dosen UIN Sunan Kudus Perkuat Komunikasi Empatik

Suasana hangat dan penuh keceriaan menyelimuti Balai Desa Wates, Kecamatan Undaan, pada Jumat Pon, 10 Juli 2026 lalu. Di tengah tuntutan zaman yang semakin kompleks, Forum Silaturrahim Ikatan Alumni Banat Nahdlatul Ulama’ (FORSIKABANU) Wilayah Jati dan Undaan berinisiatif menggelar roadshow bertajuk “Menjaga Kesehatan Mental Keluarga di Era Digital”. Acara yang juga menyediakan fasilitas cek kesehatan gratis serta santunan yatama ini menjadi oase bagi para ibu yang berjuang menyeimbangkan peran pengasuhan dan tuntutan era digital.

Kehadiran Erina Rahmajati, S.Psi., M.Psi., dan Primi Rohimi, S.Sos., M.S.I., C.STMI NLP., CPS., sebagai narasumber memberikan warna tersendiri. Sebagai Dosen UIN Sunan Kudus, Erina dan Primi membagikan pendekatan yang berakar pada realita sehari-hari.

Mengenal Peta Generasi

Erina membuka seminar dengan penjelasan tentang Karakteristik Lintas Generasi. Memahami peta generasi ini adalah langkah awal menuju empati. Berdasarkan paparan Erika, generasi Baby Boomers yang lahir di antara tahun 1946-1964, memiliki resiliensi tinggi dan disiplin baja, namun cenderung memendam emosi (stoikisme) dan menganggap masalah mental sebagai hal tabu. Generasi X yang lahir di antara tahun 1965-1980 menjadi generasi sandwich yang mandiri dan bersikap pragmatis, melihat kesehatan mental sekadar alat untuk tetap produktif.

Sedangkan generasi Milenial yang lahir pada tahun 1981-1996 mulai terbuka membicarakan trauma lintas generasi dan memprioritaskan pendekatan pengasuhan gentle parenting. Adapun Gen Z adalah mereka yang lahir pada tahun 1997-2012. Generasi ini fasih digital dan vokal tentang isu mental, namun sangat rentan terhadap tekanan algoritma media sosial dan screen insecurity. Dan Gen Alpha yang lahir pada tahun 2013-2024, lahir sebagai “asli digital”, rentan terhadap kecemasan dini karena nilai-nilai kehidupan mereka mulai dibentuk oleh algoritma melebihi keluarga.

IMG 20260713 WA0001

Menghadapi “Hilangnya Sinyal” di Ruang Keluarga

Era digital kerap kali diibaratkan sebagai pisau bermata dua yang memunculkan fenomena phubbing yakni perilaku mengabaikan orang di sekitar akibat terlalu fokus pada layar gawai. Primi menganalogikan fenomena ini melalui permainan interaktif bersama peserta; ketika mata sibuk menatap layar, fisik seseorang mungkin hadir, namun “sinyal komunikasinya” hilang. Perilaku ini perlahan bisa merusak suasana hati dan kedamaian seluruh isi rumah karena keluarga merupakan sebuah sistem yang saling terhubung.

Solusi Pengasuhan: E-Parenting dan Mindful Parenting

Untuk menjembatani perbedaan gaya komunikasi dan persepsi konflik antar generasi, pendekatan E-Parenting (pengasuhan sadar digital) perlu dipadukan dengan Mindful Parenting (pengasuhan berkesadaran). E-Parenting membantu mengelola batas waktu dan paparan teknologi, sementara Mindful Parenting mensyaratkan kehadiran emosional secara nyata.

Komponen utama untuk memancarkan Mindful Parenting di rumah meliputi kesadaran penuh yang melibatkan proses mendengarkan dan berbicara kepada anak secara empatik, kesadaran untuk mengenali emosi diri sendiri dan juga emosi anak, sikap penerimaan terhadap anak dan diri sendiri tanpa menghakimi, dan pendekatan pengasuhan yang dilandasi kebijaksanaan dan welas asih.

Dari kacamata Ilmu Komunikasi, Primi menyoroti pentingnya Teori S-O-R (Stimulus-Organism-Response). Respon lembut dan terbuka dari seorang anak sangat bergantung pada stimulus hangat yang diberikan orang tua. Tidak sinkron rasanya apabila orang tua menyuruh anak meletakkan gawai, namun perintah tersebut diucapkan sambil mata orang tua masih asyik scroll media sosial. Pendekatan lemah lembut ini pun sejalan dengan ajaran Islam yang tertuang dalam QS. Thaha ayat 44.

Membangun Ketangguhan Keluarga

Saat dihadapkan pada kasus anak prasekolah yang menangis berguling-guling karena gawainya diambil, Primi menyarankan agar ibu tidak bersikap reaktif. Orang tua harus mampu menciptakan jeda antara stimulus anak dan respons yang diberikan, lalu memvalidasi perasaan sedih anak tersebut alih-alih langsung menyerah mengembalikan gawai.

Keluarga yang tangguh di era digital bukanlah keluarga yang bebas dari masalah, melainkan mereka yang memiliki kelenturan peran antara suami dan istri sebagai rekan yang setara. Pengelolaan konflik harus dilakukan dengan kepala dingin, bukan dengan mengumbarnya ke status WhatsApp.

Oleh:
Primi Rohimi ( Dosen UIN Sunan Kudus)

Share: