Oleh: Wahyu Khoiruz Zaman (Dosen IAIN Kudus)
Pada masa lalu, seseorang biasanya mengenal penceramah melalui jaringan sosial yang relatif dekat. Ia mendengar nama seorang kiai dari keluarga, guru, tetangga, pengurus masjid, pesantren, kampus, atau organisasi keagamaan. Rekomendasi tentang siapa yang layak didengar berjalan melalui hubungan sosial dan keilmuan. Kini, semakin banyak orang mengenal penceramah melalui rekomendasi platform. Video muncul di beranda, potongan ceramah lewat begitu saja, siaran langsung ditawarkan oleh aplikasi, dan konten yang mirip terus menerus disodorkan. Dalam situasi ini, algoritma menjadi salah satu pintu dakwah. Ia menentukan pesan apa yang lebih sering terlihat, siapa yang lebih mudah ditemukan, dan isu apa yang lebih cepat menjadi perbincangan.
Algoritma tentu bukan manusia yang memiliki niat berdakwah. Ia adalah sistem teknis yang bekerja berdasarkan data, interaksi, kebiasaan pengguna, dan tujuan platform. Namun dampaknya terhadap ruang keagamaan sangat nyata. Jika seseorang sering menonton ceramah dengan tema tertentu, platform akan menawari konten serupa. Jika ia sering berhenti pada video yang memancing emosi, sistem akan membaca bahwa konten semacam itu menarik baginya. Jika banyak orang membagikan potongan ceramah yang keras, konten tersebut berpeluang lebih luas beredar. Dengan demikian, suara keagamaan yang muncul di hadapan publik tidak hanya ditentukan oleh kualitas ilmu, tetapi juga oleh logika keterlibatan digital.
Di sinilah masalah besar mulai tampak. Media sosial cenderung memberi penghargaan kepada konten yang mampu menarik perhatian. Konten yang singkat, emosional, kontroversial, lucu, mengejutkan, atau mudah diperdebatkan sering memperoleh ruang lebih besar daripada penjelasan yang panjang dan tenang. Padahal, banyak persoalan agama membutuhkan uraian mendalam. Fikih membutuhkan konteks. Tafsir membutuhkan perangkat ilmu. Sejarah membutuhkan kehati-hatian. Akhlak membutuhkan keteladanan, bukan sekadar kutipan. Ketika semua dipaksa mengikuti logika perhatian, ada risiko pesan agama menjadi terlalu sederhana, terpotong, atau bahkan berubah menjadi komoditas tontonan.
Namun kita tidak bisa menyalahkan algoritma secara mutlak. Algoritma bekerja karena ada perilaku pengguna. Jika masyarakat lebih suka menonton konten yang memancing kemarahan, maka konten seperti itulah yang akan terus muncul. Jika publik lebih senang pada debat yang saling menyerang daripada penjelasan yang menyejukkan, maka suasana dakwah digital akan ikut memanas. Dengan kata lain, algoritma bukan hanya mengatur kita; ia juga mencerminkan kebiasaan kita. Ia memperkuat apa yang sering kita lakukan. Karena itu, perbaikan ruang dakwah digital tidak cukup dilakukan dengan mengkritik platform, tetapi juga dengan mendidik perilaku audiens.
Dalam dunia dakwah, situasi ini membawa pertanyaan penting: siapa sebenarnya yang mengatur suara keagamaan di media sosial? Jawabannya tidak tunggal. Ulama dan dai masih berperan karena mereka memproduksi pesan. Lembaga keagamaan berperan karena memberi legitimasi. Pengelola media berperan karena mengemas dan mendistribusikan konten. Jamaah berperan karena menonton, menyukai, mengomentari, dan membagikan. Platform berperan karena mengatur sistem rekomendasi. Bahkan judul, thumbnail, durasi video, dan waktu unggah ikut menentukan nasib sebuah pesan. Suara keagamaan di media sosial adalah hasil pertemuan banyak aktor.
Kondisi ini menuntut ulama dan lembaga dakwah memahami bahwa kebenaran pesan saja belum cukup untuk menjamin pesan itu sampai kepada publik. Dalam ruang digital, pesan yang benar tetapi tidak ditemukan bisa kalah pengaruh dari pesan yang dangkal tetapi mudah beredar. Ini bukan alasan untuk menurunkan mutu dakwah, melainkan panggilan untuk memperbaiki strategi komunikasi. Konten agama yang baik harus mampu hadir dalam format yang sesuai dengan kebiasaan audiens digital, tanpa kehilangan tanggung jawab ilmiah. Ia perlu ringkas ketika menjadi konten pendek, tetapi tetap menyediakan jalur menuju penjelasan yang lebih utuh.
Salah satu strategi penting adalah membangun ekosistem konten berlapis. Potongan video pendek dapat menjadi pintu masuk. Artikel populer dapat memberikan penjelasan lanjutan. Kajian panjang dapat menjadi rujukan mendalam. Siaran langsung dapat membangun interaksi. Podcast dapat membuka percakapan reflektif. Infografik dapat merapikan informasi. Dengan cara ini, dakwah tidak dipaksa hanya menjadi konten singkat, tetapi disusun sebagai perjalanan pengetahuan. Audiens yang hanya membutuhkan pengantar mendapat pintu. Audiens yang ingin mendalami mendapat jalan. Inilah cara mengimbangi logika algoritma tanpa tunduk sepenuhnya kepadanya.
Selain itu, lembaga keagamaan perlu mengembangkan kemampuan membaca data digital. Data tidak harus dipahami secara kaku sebagai angka semata. Data dapat membantu melihat pertanyaan apa yang banyak muncul, isu apa yang membingungkan masyarakat, kelompok usia mana yang membutuhkan pendekatan tertentu, dan konten seperti apa yang efektif untuk pendidikan agama. Selama digunakan secara etis, data dapat membantu dakwah menjadi lebih responsif. Dalam tradisi dakwah, memahami kondisi mad’u selalu penting. Hari ini, sebagian kondisi mad’u terbaca melalui jejak digital. Maka literasi data dapat menjadi bagian dari manajemen dakwah modern.
Akan tetapi, ada garis batas yang harus dijaga. Dakwah tidak boleh berubah menjadi sekadar pengejaran angka. Jumlah penonton penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Viralitas bisa membantu penyebaran pesan, tetapi tidak selalu menunjukkan keberkahan dan kemanfaatan. Ada konten yang tidak viral tetapi menyelamatkan cara berpikir seseorang. Ada penjelasan yang hanya dibaca sedikit orang tetapi memberi dampak mendalam. Dunia digital sering menggoda kita untuk mengukur semua hal dengan angka. Padahal, dakwah memiliki dimensi ruhani, etis, dan sosial yang tidak selalu dapat dihitung oleh metrik platform.
Pertanyaan tentang algoritma juga berkaitan dengan keadilan informasi. Jika hanya konten tertentu yang sering muncul, publik dapat terjebak dalam ruang gema. Mereka merasa seluruh dunia berpikir sama karena platform terus menampilkan pandangan yang serupa. Dalam isu agama, ruang gema dapat mempersempit pemahaman. Orang sulit menerima perbedaan pendapat karena jarang bertemu penjelasan lain. Perbedaan mazhab, tradisi, atau pendekatan dapat dilihat sebagai ancaman. Padahal khazanah Islam kaya dengan keragaman. Karena itu, dakwah digital perlu membuka ruang dialog, bukan hanya memperkuat kelompok sendiri.
Pada titik ini, tanggung jawab bersama menjadi sangat penting. Para dai perlu belajar bahasa platform. Pengelola media perlu menjaga integritas pesan. Lembaga keagamaan perlu hadir dengan rujukan resmi yang mudah ditemukan. Jamaah perlu mengendalikan kebiasaan digitalnya. Platform, sejauh mungkin, perlu didorong lebih bertanggung jawab terhadap penyebaran konten yang berpotensi menyesatkan atau memecah belah. Tidak ada satu pihak yang dapat menyelesaikan persoalan ini sendirian. Ruang dakwah digital adalah ruang bersama, maka perbaikannya juga harus dilakukan secara bersama.
Ketika algoritma menjadi pintu dakwah, kita tidak boleh panik, tetapi juga tidak boleh naif. Algoritma dapat membantu pesan kebaikan menjangkau banyak orang, tetapi juga dapat mempercepat penyebaran kebencian dan kesalahpahaman. Masa depan dakwah di media sosial akan sangat ditentukan oleh kemampuan umat membaca logika ini. Islam tidak kekurangan ajaran yang mencerahkan. Yang dibutuhkan adalah cara menghadirkan ajaran itu secara bijak dalam ekosistem digital. Dakwah harus tetap berpegang pada ilmu dan akhlak, sambil memahami jalan baru yang dilalui pesan: beranda, rekomendasi, komentar, dan algoritma.
Karena itu, para pengelola dakwah perlu mulai memikirkan etika optimasi konten. Menggunakan judul yang menarik diperbolehkan, tetapi jangan menipu. Memilih potongan video yang kuat diperbolehkan, tetapi jangan memelintir konteks. Mengikuti tren visual boleh dilakukan, tetapi jangan membuat ajaran agama kehilangan martabat. Optimasi yang etis berarti memahami cara kerja platform sambil tetap menjaga amanah pesan. Inilah perbedaan antara strategi dakwah dan manipulasi perhatian. Dakwah membutuhkan kreativitas, tetapi kreativitas itu harus tunduk pada kejujuran.
Kita juga perlu mendorong riset-riset kecil di tingkat lembaga dan komunitas. Masjid, kampus, pesantren, atau media dakwah dapat memantau konten apa yang paling banyak ditanyakan jamaah. Dari sana dapat dibuat rubrik khusus, kelas pendek, atau seri video klarifikasi. Dengan pendekatan seperti ini, algoritma tidak hanya menjadi tantangan, tetapi juga dapat dibaca sebagai petunjuk tentang kebutuhan umat. Tentu, kebutuhan itu tetap harus disaring dengan ilmu dan kebijaksanaan. Tidak semua yang ramai harus diikuti, tetapi yang ramai dapat memberi tanda tentang kegelisahan publik.
Dakwah yang sadar algoritma pada akhirnya bukan dakwah yang tunduk kepada mesin, melainkan dakwah yang memahami medan. Seperti dai masa lalu memahami pasar, pelabuhan, pesantren, dan kampung sebagai ruang sosial, dai hari ini perlu memahami beranda digital sebagai ruang perjumpaan baru. Medannya berubah, tetapi amanahnya sama: menyampaikan kebenaran dengan hikmah, menjaga akhlak, dan menuntun masyarakat agar tidak tersesat oleh kebisingan.
Dengan begitu, algoritma dapat diperlakukan sebagai medan dakwah yang perlu dipahami, bukan sebagai kuasa yang menentukan seluruh arah keberagamaan kita.







