Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Gen Z, TikTok, dan Cara Baru Mencari Jawaban Agama

Oleh: Wahyu Khoiruz Zaman (Dosen IAIN Kudus)

Setiap generasi memiliki cara sendiri dalam belajar agama. Generasi orang tua kita mungkin lebih akrab dengan pengajian kampung, ceramah radio, khutbah Jumat, majelis taklim, atau kitab yang dibaca bersama guru. Generasi setelahnya mulai mengenal kaset ceramah, televisi, VCD, buku populer, dan forum kajian kampus. Kini, generasi muda tumbuh bersama internet, media sosial, video pendek, podcast, dan aplikasi percakapan. Bagi sebagian Gen Z, pertanyaan agama tidak selalu pertama kali dibawa kepada ustaz di masjid atau guru di kelas. Banyak dari mereka mengetik pertanyaan di mesin pencari, menonton penjelasan di YouTube, menyimak potongan ceramah di TikTok, atau membaca utas pendek di media sosial.

Fenomena ini tidak bisa dipandang hanya sebagai tanda kemalasan belajar. Kita perlu membacanya sebagai perubahan budaya pengetahuan. Gen Z hidup dalam ekosistem yang serba cepat, visual, interaktif, dan personal. Mereka terbiasa mendapatkan jawaban segera. Ketika bingung tentang hukum ibadah, hubungan pertemanan, percintaan, kecemasan hidup, atau konflik keluarga, mereka mencari jawaban di tempat yang paling dekat: ponsel. Dalam banyak kasus, ponsel lebih cepat merespons daripada lembaga formal. Media sosial menjadi ruang curhat, ruang belajar, ruang bertanya, sekaligus ruang mencari identitas.

TikTok menjadi contoh menarik karena platform ini menyatukan hiburan, ekspresi diri, pendidikan, dan dakwah dalam format singkat. Di sana, konten agama hadir dalam berbagai bentuk: potongan ceramah, nasihat motivasi, kisah hijrah, tanya jawab fikih, pengingat salat, kutipan Al-Qur’an, tips hubungan islami, hingga debat keagamaan. Bagi Gen Z, format singkat ini terasa ringan. Mereka tidak harus duduk satu jam untuk mendengar kajian. Mereka bisa mendapatkan satu pesan dalam waktu kurang dari satu menit. Tetapi justru di situlah peluang dan risikonya bertemu.

Peluangnya jelas. Banyak anak muda yang sebelumnya jauh dari forum keagamaan dapat tersentuh oleh konten sederhana. Satu video pendek dapat menjadi pintu awal untuk berubah. Satu nasihat dapat mengingatkan seseorang agar salat. Satu penjelasan dapat membuat seseorang berani bertanya lebih jauh. Dalam konteks dakwah, ini tidak bisa diremehkan. Islam selalu memiliki tradisi menyampaikan pesan sesuai bahasa masyarakatnya. Jika anak muda hidup dalam budaya visual dan digital, maka dakwah juga perlu hadir di sana. Menunggu mereka datang ke ruang lama tanpa menyapa ruang baru adalah sikap yang kurang realistis.

Tetapi risikonya juga besar. Pertanyaan agama yang rumit sering kali tidak cukup dijawab dalam video pendek. Misalnya, persoalan hukum keluarga, perbedaan mazhab, relasi agama dan budaya, atau isu sosial-politik membutuhkan konteks. Ketika jawaban dipadatkan terlalu ekstrem, ia bisa berubah menjadi slogan. Ketika perbedaan pendapat disajikan tanpa penjelasan, ia bisa menimbulkan kebingungan. Ketika potongan ceramah diberi musik, teks emosional, dan visual dramatis, pesan agama bisa bergeser menjadi tontonan perasaan. Anak muda bisa tersentuh, tetapi belum tentu tercerahkan secara utuh.

Karena itu, kita perlu memahami bahwa kebutuhan Gen Z terhadap agama tidak hanya berupa jawaban hukum. Mereka juga mencari rasa aman, makna hidup, komunitas, pengakuan, dan bahasa yang dekat dengan pengalaman mereka. Banyak anak muda bertanya tentang agama ketika mereka sedang mengalami kecemasan, kesepian, kegagalan, putus cinta, tekanan akademik, atau krisis identitas. Jika dakwah hanya hadir dengan nada menghakimi, mereka bisa semakin jauh. Sebaliknya, jika dakwah hadir dengan empati tetapi tanpa dasar ilmu, mereka bisa tersesat dalam spiritualitas yang dangkal. Maka dakwah untuk Gen Z membutuhkan keseimbangan antara kedalaman ilmu dan kelembutan komunikasi.

Para dai dan lembaga keagamaan perlu belajar mendengar bahasa anak muda. Ini bukan berarti mengikuti semua tren tanpa sikap kritis. Bukan pula berarti menjadikan agama sebagai konten hiburan semata. Mendengar bahasa anak muda berarti memahami kegelisahan mereka, ruang hidup mereka, humor mereka, luka mereka, dan cara mereka berinteraksi. Banyak pesan agama gagal diterima bukan karena substansinya salah, tetapi karena cara penyampaiannya terasa jauh. Gen Z tidak selalu menolak agama. Mereka sering menolak cara beragama yang terasa kaku, penuh stigma, dan tidak memberi ruang bertanya.

Dalam konteks ini, TikTok dan media sosial lain dapat dijadikan pintu, bukan rumah utama. Pintu berguna untuk mengundang orang masuk. Tetapi setelah masuk, orang tetap membutuhkan ruang belajar yang lebih kokoh. Video pendek dapat membuka minat, lalu diarahkan ke kajian panjang, kelas daring, buku, artikel, komunitas, atau pertemuan dengan guru. Jika semua proses belajar agama berhenti pada video pendek, maka pemahaman akan rapuh. Sebaliknya, jika video pendek dipakai sebagai jembatan menuju tradisi keilmuan yang lebih kuat, ia dapat menjadi alat dakwah yang sangat bermanfaat.

Keluarga juga tidak boleh lepas tangan. Banyak orang tua khawatir melihat anak-anaknya belajar agama dari media sosial. Kekhawatiran itu wajar. Namun larangan semata tidak cukup. Orang tua perlu membuka dialog. Tanyakan siapa yang mereka dengar, apa yang mereka pahami, dan mengapa konten itu menarik bagi mereka. Jangan langsung meremehkan. Ketika anak muda merasa dihakimi, mereka akan mencari ruang lain yang lebih menerima. Keluarga perlu menjadi tempat aman untuk bertanya, termasuk bertanya tentang hal-hal yang dianggap sensitif. Di sinilah pendidikan agama kembali menemukan dimensi relasionalnya.

Sekolah, kampus, pesantren, dan organisasi keagamaan juga perlu menyiapkan literasi digital keagamaan bagi Gen Z. Mereka perlu diajari cara mengenali sumber yang kredibel, memahami perbedaan pendapat, memeriksa konteks, dan membedakan konten dakwah, opini, motivasi, serta fatwa. Anak muda tidak cukup diberi daftar akun yang boleh dan tidak boleh diikuti. Mereka perlu diberi kemampuan menilai. Dengan begitu, mereka tidak menjadi generasi yang mudah ditarik oleh siapa pun yang paling viral, tetapi menjadi generasi yang mampu mencari ilmu dengan lebih bijak.

Kita juga perlu melihat sisi kreatif Gen Z. Banyak dari mereka bukan hanya konsumen konten, tetapi juga produsen pesan. Mereka membuat video, desain, meme, podcast, dan narasi pendek. Ini bisa menjadi kekuatan dakwah jika dibimbing dengan baik. Anak muda dapat membantu menerjemahkan pesan ulama ke dalam bahasa visual yang lebih segar. Mereka dapat menjadi jembatan antara tradisi keilmuan dan budaya digital. Namun bimbingan tetap penting agar kreativitas tidak lepas dari adab dan akurasi. Dalam dakwah, niat baik harus disertai tanggung jawab.

Akhirnya, cara baru Gen Z mencari jawaban agama adalah kenyataan yang harus dihadapi dengan kebijaksanaan. Kita tidak bisa memaksa semua orang kembali ke pola lama, tetapi juga tidak boleh membiarkan agama hanya dipahami melalui potongan konten. Tugas kita adalah membangun jembatan. Dari TikTok menuju majelis ilmu. Dari video pendek menuju pemahaman yang utuh. Dari rasa ingin tahu menuju kedalaman iman. Jika jembatan itu berhasil dibangun, media sosial bukan ancaman bagi keberagamaan anak muda, melainkan pintu baru bagi tumbuhnya generasi muslim yang kritis, kreatif, dan tetap berakar pada tradisi ilmu.

Dakwah kepada Gen Z juga perlu memberi ruang partisipasi. Anak muda tidak suka hanya diposisikan sebagai objek nasihat. Mereka ingin diajak berdialog, diberi peran, dan dihargai pengalamannya. Forum tanya jawab terbuka, kelas kreator dakwah, komunitas baca, diskusi film, atau pelatihan konten Islami dapat menjadi medium yang lebih hidup. Ketika anak muda diberi ruang, mereka belajar bahwa agama bukan sekadar larangan, tetapi sumber makna yang dapat mereka olah dalam kehidupan sehari-hari. Dari sanalah rasa memiliki terhadap dakwah dapat tumbuh.

Selain itu, bahasa dakwah untuk Gen Z harus menghindari dua ekstrem. Ekstrem pertama adalah terlalu keras sehingga membuat anak muda merasa agama hanya hadir sebagai ancaman. Ekstrem kedua adalah terlalu mengikuti selera pasar sehingga agama kehilangan wibawa. Jalan tengahnya adalah dakwah yang jujur, hangat, argumentatif, dan tetap berprinsip. Anak muda sebenarnya mampu menerima nasihat yang tegas selama disampaikan dengan alasan yang jelas dan kasih sayang. Mereka membutuhkan agama yang dapat menjawab kegelisahan, bukan hanya menghukum pertanyaan.

Jika pendekatan ini dijalankan, TikTok dan media sosial tidak lagi dilihat hanya sebagai ancaman moral. Ia dapat menjadi ruang dakwah awal yang memperkenalkan anak muda kepada nilai, guru, komunitas, dan tradisi ilmu. Yang menentukan bukan semata platformnya, melainkan bagaimana kita mengisinya. Di tangan yang tepat, video pendek dapat menjadi undangan untuk perjalanan panjang menuju pemahaman agama yang lebih matang.

Pada akhirnya, mendampingi Gen Z berarti membantu mereka menemukan jalan belajar agama yang relevan, aman, dan tetap berakar pada tradisi ilmu.

Share: