Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Menelusuri Jejak Sunan Bonang: Belajar dari Pengelolaan Situs Suci yang Berkelanjutan

KlikFakta.com, TUBAN – Dalam rangka penggalian data penelitian MoRA The AIR Funds Program 2026 bertajuk “Sustainable Sacred Sites: Menyeimbangkan Iman, Budaya, Komunikasi Keagamaan, dan Harmoni Sosial di Situs Suci Islam di Asia”, tim peneliti MoRA dari UIN SUNAN KUDUS melakukan kunjungan lapangan ke Makam Sunan Bonang (Maulana Makhdum Ibrahim) di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Kamis (4/6/2026).

Kunjungan ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana situs suci Islam dikelola secara berkelanjutan, khususnya dalam aspek pelestarian nilai keagamaan, pengelolaan kelembagaan, pelayanan peziarah, komunikasi keagamaan, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Makam Sunan Bonang dipilih sebagai salah satu lokasi penelitian karena memiliki posisi penting dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara sekaligus menjadi destinasi wisata religi yang ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah.

Selama kegiatan berlangsung, tim peneliti yang terdiri dari Mubasyaroh, Primi Rohim dan Moh Anwar Yasfin disambut dengan hangat oleh Gus Hidayaturrohman, Sekretaris Umum Yayasan Mabarrot Sunan Bonang.

Dalam suasana yang terbuka dan penuh kekeluargaan, beliau menjelaskan berbagai aspek pengelolaan kawasan makam, mulai dari pelayanan peziarah, pemeliharaan fasilitas, hingga strategi menjaga keseimbangan antara fungsi spiritual, sosial, budaya, dan ekonomi yang berkembang di sekitar kawasan ziarah.

IMG 20260605 WA0003
Peneliti MoRA dari UIN SUNAN KUDUS saat lakukan kunjungan lapangan ke Makam Sunan Bonang di Kabupaten Tuban

Salah satu pengalaman berharga dalam kunjungan ini adalah kesempatan yang diberikan kepada tim untuk memasuki cungkup makam Sunan Bonang guna melakukan observasi secara lebih mendalam. Kesempatan tersebut memberikan gambaran langsung mengenai tata kelola ruang sakral, pola pelayanan kepada peziarah, serta upaya menjaga kehormatan situs yang memiliki nilai sejarah dan spiritual tinggi bagi umat Islam.

Hasil observasi menunjukkan bahwa pengelolaan kawasan makam berjalan dengan baik. Kebersihan lingkungan terjaga secara optimal, baik di area inti makam maupun kawasan pendukung di sekitarnya. Kondisi tersebut menciptakan suasana yang nyaman, tertib, dan kondusif bagi para peziarah. Selain itu, tim juga mencatat tidak ditemukannya praktik pengemisan di kawasan makam, sebuah indikator penting dalam menciptakan pengalaman ziarah yang lebih nyaman dan bermartabat.

Dari sisi kelembagaan, keberhasilan pengelolaan situs ini tampak didukung oleh kolaborasi yang kuat antara Yayasan Mabarrot Sunan Bonang dengan berbagai pihak. Sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Tuban, Balai Pelestarian Kebudayaan, Kepolisian, Puskesmas, serta unsur masyarakat sekitar menjadi modal penting dalam menjaga keamanan, ketertiban, kesehatan, dan kelestarian situs. Pola kerja sama ini menunjukkan bahwa pengelolaan situs suci yang berkelanjutan memerlukan keterlibatan aktif berbagai stakeholder, bukan hanya pengelola internal semata.

Melalui kunjungan ini, tim peneliti memperoleh data penting mengenai praktik baik (best practices) pengelolaan situs suci Islam di Indonesia. Temuan tersebut akan menjadi bagian dari kajian yang lebih luas untuk merumuskan model pengelolaan situs suci yang mampu menyeimbangkan dimensi keimanan, pelestarian budaya, komunikasi keagamaan, dan harmoni sosial secara berkelanjutan.

Semoga hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi akademik sekaligus rekomendasi praktis bagi pengelola situs-situs suci Islam di Indonesia dan Asia dalam menghadapi tantangan pengelolaan warisan keagamaan di masa depan.

Share: