KlikFakta.com, JEPARA – Pantai Bandengan disiapkan untuk ditata dalam rencana pengembangan pariwisata Jepara 2026–2036. Namun, penataan tersebut belum menjadi proyek pembangunan yang diputuskan. Konsep yang mencakup kawasan seluas 26 hektare itu saat ini masih berupa usulan rencana induk hasil kajian Tim Geolive Universitas Gadjah Mada (UGM) yang perlu ditindaklanjuti pemerintah daerah.
Usulan tersebut mengubah orientasi pengembangan Bandengan. Kawasan pantai tidak hanya diarahkan untuk mengejar jumlah kunjungan, tetapi juga meningkatkan aktivitas dan belanja wisatawan sehingga manfaat ekonominya lebih besar bagi masyarakat.
Guru Besar UGM Tarcicius Yoyok Wahyu Subroto mengatakan, ukuran keberhasilan pariwisata tidak cukup dilihat dari jumlah wisatawan maupun lamanya mereka tinggal.
“Paradigma tentang wisata itu bukan lagi jumlah wisatawan yang datang ke Jepara atau lama tinggal wisatawan di Jepara, tetapi justru tingkat pengeluaran wisatawan,” kata Yoyok saat memaparkan hasil kajian di Kantor Bupati Jepara, Rabu (21/10/2026).
Menurut dia, peningkatan pengeluaran wisatawan dapat didorong melalui peningkatan kualitas produk wisata dan pengembangan aktivitas pada malam hari.
Dalam kajian tersebut, Tim Geolive mengusulkan penataan Pantai Bandengan seluas sekitar 26 hektare dengan konsep Bandengan Narasagara untuk periode 2026–2036.
Rencana itu membagi kawasan menjadi lima satuan wilayah pengembangan, yakni wisata bahari, pusat budaya dan ekonomi, kawasan pejalan kaki di tepi pantai, wisata petualangan dan olahraga, serta kawasan ekologi dan kebugaran.
Sejumlah fasilitas yang diusulkan meliputi dermaga wisata, ruang pertunjukan, koridor UMKM, jalur pedestrian, dan kawasan edukasi lingkungan.
Tim juga mengusulkan perubahan pola akses kawasan. Pantai direncanakan tidak bertumpu pada satu gerbang tiket utama, dengan arus kendaraan satu arah dari Bandengan menuju Prawean.

Area parkir yang ada juga diusulkan dipindahkan ke zona pengembangan kelima. Dengan konsep tersebut, area tepi pantai dapat diarahkan menjadi ruang publik yang lebih banyak digunakan pejalan kaki.
Meski demikian, seluruh konsep tersebut masih berada pada tahap rencana induk dan rekomendasi hasil kajian. Pelaksanaan pembangunan belum otomatis mengikuti seluruh usulan tersebut karena masih memerlukan keputusan pemerintah daerah, penentuan prioritas, skema pendanaan, serta tahapan perencanaan dan pelaksanaan sesuai ketentuan.
Tim Geolive mengidentifikasi sejumlah persoalan yang perlu dijawab dalam pengembangan Bandengan. Kunjungan wisatawan masih bergantung pada musim liburan, abrasi terjadi di sisi barat pantai, sementara manfaat ekonomi pariwisata dinilai belum merata bagi masyarakat desa.
Aktivitas wisata juga masih terkonsentrasi di tepi pantai, sedangkan bagian selatan kawasan belum terhubung secara optimal.
Untuk menjawab persoalan tersebut, kajian mengusulkan 61 program yang pelaksanaannya dibagi dalam jangka pendek, menengah, dan panjang.
Sumber pendanaan yang berpotensi digunakan antara lain APBD, dana alokasi khusus, APBN, kerja sama pemerintah dengan badan usaha, tanggung jawab sosial perusahaan, hibah, serta investasi swasta.
Kajian yang dimulai pada Agustus 2026 itu disusun melalui survei dan wawancara dengan pelaku usaha pariwisata, kepala desa, serta masyarakat.
Sekretaris Daerah Jepara Ary Bachtiar mengatakan, pengembangan destinasi wisata perlu memiliki arah yang lebih jelas dan terintegrasi agar mampu menggerakkan ekonomi daerah, meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), serta memperluas manfaat bagi pelaku UMKM.
“Pengembangan pariwisata Jepara perlu diarahkan secara terpadu agar potensi setiap destinasi saling terhubung dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat,” ujarnya mewakili Bupati Jepara Witiarso Utomo.
Ary mencontohkan wisatawan yang berkunjung ke Karimunjawa kerap menghabiskan waktu sekitar tiga hari di kepulauan tersebut sebelum kembali tanpa mengunjungi destinasi lain di Jepara.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam menghubungkan potensi wisata antarkawasan.
Dengan demikian, rencana penataan Bandengan menjadi salah satu bagian dari gagasan yang lebih besar untuk membangun keterhubungan destinasi wisata di Jepara, bukan berdiri sebagai proyek yang terpisah
Dalam kesempatan yang sama, Tim UGM memaparkan model tiga dimensi interaktif Museum R.A. Kartini di Pendopo Kartini.
Model digital tersebut dikembangkan untuk mendokumentasikan bangunan, mendukung pemeliharaan dan pelestarian, serta menjadi sarana edukasi.
Pemodelan menggunakan pemindai laser terestrial Topcon GLS-2000 dan pesawat nirawak DJI Mavic 2 Pro. Data kemudian diolah menjadi visualisasi tiga dimensi, tampak bangunan, rencana tapak, serta enam gambar detail berskala 1:100.
Model tersebut dapat diakses melalui museumkartini-web.vercel.app.
Ary mengatakan, penguatan Museum R.A. Kartini juga diperlukan, termasuk terkait koleksi yang saat ini belum seluruhnya dipamerkan kepada pengunjung.
Ia berharap pengembangan museum dapat memperkuat pengenalan sejarah Kartini sekaligus mendukung pengembangan pariwisata Jepara.
Di sisi lain, seni ukir Jepara, lanjut Ary, perlu ditempatkan bukan semata-mata sebagai produk industri, melainkan juga sebagai karya seni dan warisan budaya yang memiliki nilai tersendiri.(ADV)







