Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Wow! Lukisan Garam Terbesar di Dunia Akan Lahir dari Kolaborasi Seniman dan Petani Garam Dasun

Petani Garam Dasun sedang membuat lukisan garam berjudul “Bancaan Rupa” pada 2023 lalu di Tambak Gede Dasun, lukisan ini berhasil menyabet REKOR MURI DUNIA

klikFakta.com, REMBANG — Garam tak lagi sekadar menjadi hasil tambak dan sumber penghidupan. Di Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, garam akan diubah menjadi medium seni dalam sebuah proyek kolaboratif. Sepuluh seniman dari berbagai daerah di Indonesia resmi terpilih untuk berkolaborasi dengan seniman-petani garam Dasun dalam proyek pembuatan Lukisan Garam Terbesar di Dunia.

Sebanyak sepuluh seniman dari berbagai daerah Indonesia terpilih untuk berkolaborasi dengan seniman-petani garam Dasun. Mereka akan membuat karya “Lukisan Garam (meneruskan) Nasirun”, yang diproyeksikan menjadi lukisan garam terbesar di dunia.

Kesepuluh seniman terpilih sebelumnya mengikuti proses open call yang digelar pada 9–25 September 2026. Puluhan portofolio dari berbagai daerah masuk dan kemudian diseleksi oleh kurator serta panitia Festival Garam Dasun 2026.

Residensi dan Belajar Bersama Petani Garam

Sebelum berkarya, para seniman akan menjalani residensi seni selama empat hari, pada 14–17 Oktober 2026.

Mereka tidak hanya datang untuk membuat karya. Para seniman akan tinggal di rumah-rumah warga Desa Dasun dan belajar langsung dari para petani garam.

Selama residensi, mereka akan menyelami berbagai pengetahuan mengenai garam, mulai dari sejarah garam Lasem, proses produksi dari tambak hingga meja, tradisi masyarakat, hingga kehidupan warga yang menggantungkan penghidupan pada kawasan pesisir dan tambak.

Kurator Festival Garam Dasun, Eggy Yunaedi, mengatakan residensi tersebut dirancang sebagai ruang pertukaran pengetahuan antara seniman dan masyarakat.

“Kami ingin pengetahuan tentang garam menyebar, hidup, ditubuhkan, dan diterjemahkan kembali melalui bahasa seni oleh para seniman bersama warga.”

Menurut Eggy, keberagaman latar belakang para seniman diharapkan membuka perspektif baru mengenai garam, kehidupan petani, serta kebudayaan masyarakat pesisir.

“Selain ingin memperluas perspektif lewat para seniman yang berasal dari berbagai daerah dan latar belakang, kolaborasi ini merupakan bagian dari strategi diseminasi pengetahuan”, imbuhnya.

Meneruskan Gagasan Maestro Nasirun

Proyek lukisan garam ini tidak lahir begitu saja. Gagasan tersebut berawal dari pertemuan maestro seni rupa Indonesia, Nasirun, dengan para seniman-petani garam Dasun yang didampingi Eggy Yunaedi.

Dari pertemuan itu muncul gagasan untuk membuat karya bersama yang mengangkat garam sebagai medium sekaligus bagian dari kehidupan masyarakat.

Nasirun kemudian berpulang pada 1 Agustus 2026. Namun, gagasan yang sempat lahir dari pertemuan tersebut tidak berhenti. Para seniman dan petani garam Dasun memilih meneruskannya melalui karya kolaboratif sebagai bentuk penghormatan kepada sang maestro.

Karya itu kemudian diberi tajuk “Lukisan Garam (meneruskan) Nasirun.”

Bagi petani garam Dasun, proyek tersebut juga menjadi kesempatan untuk menghadirkan sisi lain dari kehidupan mereka. Garam tidak hanya dipandang sebagai komoditas, tetapi juga sebagai bagian dari pengetahuan, budaya, dan keseharian masyarakat pesisir.

“Selama ini garam adalah bagian dari keseharian kami sebagai petani, dari tambak hingga menjadi sumber penghidupan. Melalui lukisan dan kolaborasi dengan para seniman dari berbagai daerah, kami ingin garam tidak hanya dilihat sebagai komoditas, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan, pengetahuan, dan cerita masyarakat petani garam,” ujar Mulyono.

Membidik Lukisan Garam Terbesar di Dunia

Kolaborasi seniman tersebut tidak berhenti pada eksperimen artistik. Karya yang dihasilkan diproyeksikan menjadi lukisan garam terbesar di dunia.

Target tersebut akan melampaui karya “Bancaan Rupa” yang dibuat pada 2023 dan telah tercatat dalam Rekor Dunia MURI.

Ketua Panitia Festival Garam Dasun 2026, Angga Hermansah, menyebut karya tersebut memiliki makna yang lebih luas dari sekadar pencapaian artistik. Menurutnya, lukisan garam menjadi ungkapan syukur para petani atas kehidupan yang mereka jalani sekaligus medium untuk menyampaikan realitas kehidupan petani garam kepada masyarakat luas.

“Karena itu, kami melihat karya ini bukan hanya sebagai karya seni, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan antara pengetahuan, pengalaman, rasa syukur, dan suara petani garam,” ujar Angga.

Seni, Garam, dan Kehidupan Pesisir

Festival Garam Dasun 2026 menempatkan proyek tersebut sebagai bagian dari upaya mempertemukan seni dengan pengetahuan dan kehidupan masyarakat pesisir.

Melalui residensi dan proses penciptaan karya bersama, para seniman akan berinteraksi langsung dengan warga serta petani garam. Proses tersebut menjadi bagian penting untuk memahami garam bukan hanya sebagai bahan produksi, tetapi juga sebagai bagian dari sejarah dan kehidupan masyarakat Dasun.

Adapun sepuluh daftar nama seniman yang terpilih dalam program residensi tersebut adalah :

1. Tri Wahyudi – Yogyakarta
2. Putut Pasopati – Pati
3. Prabowo Setyadi – Jatiwangi
4. Budi Karya – Jepara
5. Aqilur Rachman Abdul Charizs – Jakarta
6. Dwiki Naufal Ilham – Lasem
7. Sonia Prabowo – Yogyakarta
8. Munna Laili Hidayana – Kediri
9. Kharisma Widya Kartika – Rembang
10. Andita Purnamasari – Yogyakarta

Mereka akan berkolaborasi dengan sepuluh seniman-petani garam Dasun:

1. Tri Murti
2. Mulyono
3. Arif Yulianto
4. M. Sholeh
5. Suparlan
6. Mariyadi
7. Suparno
8. Agung Wibowo
9. Anas Kristiawan
10. Rohmadi

Mereka juga akan dibersamai oleh pendamping teknis yang yang terdiri dari:

1. Sofyan Deer
2. Yoyok van Badem
3. De Tejo
4. Ariz Lukman
5. Eddie Suryono.

Festival Garam Dasun 2026 mengundang publik, media, dan pecinta seni untuk mengikuti proses kolaborasi tersebut. Perjalanan karya ini sekaligus menjadi ruang pertemuan antara seni, pengetahuan, kebudayaan, dan kehidupan petani garam di Desa Dasun, Lasem, Rembang.

Editor: Saiful

Share: