Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Dorong Desa 0 Sampah, KKN UIN Walisongo Kenalkan Budidaya Maggot dan Rocket Stove di Gondowangi

Ibu-ibu PKK Desa Gondowangi mengamati secara langsung contoh budidaya magot skala rumahan dalam kegiatan Sosialisasi Desa Nol Sampah yang digelar di Balai Desa Gondowangi, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jumat (14/8/2026).

klikFakta.com, MAGELANG — Tim KKN Misi Khusus (Posko 5) UIN Walisongo Semarang menggelar sosialisasi Desa 0 Sampah di Balai Desa Gondowangi, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jumat (14/8/2026). Kegiatan ini menjadi salah satu upaya mendorong masyarakat untuk mengelola sampah secara lebih bijak sekaligus memanfaatkan sampah menjadi sesuatu yang bernilai.

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 13.40 WIB tersebut dihadiri Kepala Desa Gondowangi, sejumlah kepala dusun, masyarakat desa, serta mayoritas ibu-ibu PKK. Sosialisasi ini menjadi bagian dari upaya Tim KKN untuk mendorong masyarakat agar tidak hanya membuang sampah, tetapi mulai memilah, mengolah, dan memanfaatkannya.

Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Koordinator Desa Tim KKN Misi Khusus UIN Walisongo Semarang, kemudian dilanjutkan sambutan sekaligus pembukaan acara oleh Kepala Desa Gondowangi, Bambang Setiyadi, SE.

Dalam sambutannya, Bambang berharap kegiatan tersebut dapat memberikan sudut pandang baru bagi masyarakat dalam menghadapi persoalan sampah di desa.

“Dengan adanya kegiatan sosialisasi tersebut, masyarakat Gondowangi memiliki pandangan yang berbeda terhadap sampah, sehingga masalah sampah dapat teratasi di Desa Gondowangi,” ujar Bambang.

Memasuki acara inti, Tim KKN memperkenalkan dua solusi utama dalam pengelolaan sampah, yakni budidaya maggot untuk mengolah sampah organik dan rocket stove sebagai alternatif penanganan sampah anorganik yang sudah tidak memiliki nilai jual.

Materi budidaya maggot disampaikan oleh Agus, pemilik Insect Natural Agro Magelang. Ia menjelaskan proses budidaya secara bertahap, mulai dari memperoleh bibit, pemeliharaan, hingga bagaimana budidaya maggot dapat dikembangkan secara berkelanjutan oleh masyarakat.

Agus menilai budidaya maggot memiliki potensi yang menarik karena dapat dimulai dengan biaya yang sangat minim sekaligus memberikan manfaat ekonomi.

“Saya sangat menyukai budidaya maggot ini, karena bisa dimulai dari 0 rupiah dan malah bisa menghasilkan pundi-pundi cuan, atau setidaknya menekan pengeluaran untuk pembelian pakan ternak,” ungkapnya.

Sementara itu, materi rocket stove disampaikan oleh Akhyar Rijalullah, salah satu anggota Tim KKN. Ia menjelaskan bahwa rocket stove dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pengolahan sampah yang sudah tidak memiliki nilai jual.

Namun, Tim KKN menegaskan bahwa penggunaan rocket stove bukan berarti menghilangkan tahapan pemilahan sampah. Sampah yang masih memiliki nilai ekonomi tetap perlu dipisahkan dan disalurkan melalui bank sampah.

Karena itu, Tim KKN juga mendorong pemerataan keberadaan bank sampah di setiap dusun sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Antusiasme masyarakat terlihat ketika sesi diskusi dibuka. Ibu-ibu PKK menjadi salah satu kelompok yang aktif menyampaikan pertanyaan, terutama mengenai penerapan budidaya maggot apabila nantinya dilakukan secara mandiri di rumah.

Ketertarikan tersebut tidak berhenti ketika acara selesai. Beberapa ibu PKK bahkan meminta agar Tim KKN bersama pemateri dapat memberikan pelatihan secara langsung.

“Nanti kalau bisa kita diajarin langsung cara budidayanya ya, Mbak,” ujar salah seorang ibu PKK.

Respons tersebut menjadi salah satu hal yang diharapkan Tim KKN. Sebab, sosialisasi yang dilakukan tidak dirancang untuk berhenti pada penyampaian materi, tetapi diharapkan dapat dilanjutkan dengan praktik dan penerapan langsung di masyarakat.

Tim KKN berencana mengadakan pelatihan budidaya maggot secara langsung, mulai dari praktik pembuatan tempat budidaya, sarang lalat, pemindahan telur, hingga tahapan pemeliharaan lainnya.

Selain membahas pengelolaan sampah organik dan anorganik, Tim KKN juga memperkenalkan pemanfaatan tutup botol bekas menjadi kerajinan gantungan kunci. Ide sederhana tersebut turut menarik perhatian ibu-ibu PKK yang tertarik untuk mempelajarinya secara langsung.

Sementara untuk rocket stove, Tim KKN menyadari bahwa pembangunan fasilitas tersebut belum dapat dilakukan secara merata di seluruh dusun. Meski demikian, satu unit yang dibangun diharapkan dapat menjadi contoh yang nantinya dapat ditiru dan dikembangkan oleh masyarakat di dusun lainnya.

“Kami meminta maaf karena pembangunan rocket stove ini tidak bisa merata ke semua dusun. Kami berharap satu rocket stove yang kami bangun bisa menjadi contoh untuk ditiru dan diterapkan ke dusun lainnya. Kami juga berharap setelah kami meninggalkan desa ini, ilmu dan solusi yang kami tawarkan bisa bermanfaat sebaik-baiknya,” ujar perwakilan Tim KKN.

Bagi Tim KKN Misi Khusus UIN Walisongo Semarang, persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan mengajak masyarakat membuang sampah pada tempatnya. Lebih dari itu, masyarakat perlu didorong untuk memahami bahwa sampah memiliki jenis, karakter, dan potensi pemanfaatan yang berbeda.

Dari maggot hingga rocket stove, kegiatan tersebut menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan baru di Desa Gondowangi: sampah dipilah, diolah, dan sebisa mungkin diubah menjadi berkah.

Bukan sekadar tentang bagaimana membuang sampah, tetapi tentang bagaimana masyarakat mulai melihat sampah dengan cara yang berbeda.

Share: