Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Tradisi Jembul Tulakan Meriah, Ribuan Warga Padati Donorojo

Warga Donorojo antusias dalam arak-arakan Jembul Tulakan

KlikFakta.com, JEPARA — Tradisi budaya Jembul Tulakan kembali digelar meriah di Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Senin (10/04). Kegiatan tahunan yang dilaksanakan setiap Senin Pahing di bulan Apit dalam kalender Jawa ini disambut antusias oleh ribuan warga yang memadati sepanjang rute arak-arakan.

Perhelatan budaya tersebut menjadi salah satu agenda rutin masyarakat setempat sebagai wujud pelestarian tradisi sekaligus ungkapan syukur. Arak-arakan Jembul yang sarat nilai estetika dan filosofi lokal itu berlangsung semarak dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Jepara mengapresiasi konsistensi warga Desa Tulakan dalam menjaga tradisi leluhur. Bupati Jepara yang diwakili Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsospermades) menilai, Jembul Tulakan bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan cerminan kearifan lokal yang tetap hidup di tengah masyarakat modern.

“Tradisi Jembul Tulakan yang rutin digelar setiap tahun ini alhamdulillah berjalan lancar dan penuh antusiasme. Semoga membawa berkah bagi masyarakat Desa Tulakan,” ujarnya.

Ia menambahkan, ke depan tradisi ini diharapkan dapat berkembang menjadi agenda wisata unggulan daerah yang mampu menarik minat wisatawan serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.

IMG 20260420 WA0005
Arak-arakan Jembul Tulakan di Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara

Sementara itu, Petinggi Desa Tulakan, Budi Sutrisno, menjelaskan bahwa tradisi Jembul Tulakan memiliki nilai historis dan spiritual yang kuat. Tradisi ini berkaitan dengan kisah Ratu Kalinyamat yang melakukan tapa di wilayah Donorojo pascawafatnya sang suami, Sultan Hadlirin.

“Tradisi ini terinspirasi dari laku spiritual Ratu Kalinyamat yang bersumpah dengan kalimat ‘ora ingsun topo, budar ingsun sedurunge keset jambule Aryo Penangsang’. Dari kata ‘jambul’ inilah kemudian berkembang menjadi ‘Jembul’, yang diwujudkan dalam sedekah bumi sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT,” jelasnya.

Dalam pelaksanaannya, Jembul Tulakan terbagi menjadi dua bagian, yakni Jembul Lanang dan Jembul Wadon.

Jembul Lanang berisi hasil bumi seperti sayur dan buah, sedangkan Jembul Wadon berisi aneka lauk pauk.Keduanya disusun di atas ancak yang dihias dengan irisan bambu dan ornamen kain warna-warni, mencerminkan kekayaan budaya lokal.

Parade budaya tersebut juga dimeriahkan dengan kehadiran tokoh-tokoh punggawa dalam cerita rakyat setempat, seperti Said Usman, Suto Mangun Joyo, dan Mbah Leseh, serta pasukan prajurit yang mewakili sejumlah dukuh, di antaranya Kerajan, Kamituwo, Winong, Ngemplak, dan Drojo.

Kemeriahan Jembul Tulakan tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga memperkuat identitas masyarakat serta mempererat kebersamaan warga di Kabupaten Jepara.

Tradisi ini pun diharapkan terus lestari dan menjadi daya tarik budaya yang mampu mengangkat potensi daerah ke tingkat yang lebih luas.(ADV)

Share: