KlikFakta.com, SARAJEVO – Jejak tangan pengukir Jepara yang telah bertahan selama puluhan tahun di Sarajevo kini kembali dirawat oleh generasi penerusnya. Tiga pengukir asal Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, tiba di Bosnia dan Herzegovina untuk melakukan restorasi ornamen kayu di Masjid Istiklal, yang menjadi salah satu simbol hubungan persahabatan Indonesia dan Bosnia, Kamis (15/10/2026).
Ketiga pengukir tersebut adalah Sutrisno, Jawawi Firnandes, dan Widodo. Mereka berangkat dari Indonesia pada Selasa (13/10/2026), bersama rombongan yang dipimpin Ikhwan Syaefulloh, Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat.
Restorasi tersebut tidak sekadar menyangkut perbaikan ornamen bangunan. Karya ukir yang menjadi objek restorasi merupakan bagian dari peninggalan hubungan Indonesia-Bosnia yang disebut sebagai hadiah Presiden ke-3 RI B.J. Habibie kepada Bosnia dan Herzegovina.
Hingga kini, identitas pengukir yang mengerjakan ornamen tersebut pada masa lalu belum berhasil ditelusuri.
Kerusakan ornamen Masjid Istiklal menjadi perhatian setelah Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat melakukan kunjungan ke Bosnia pada Februari 2026. Dalam kunjungan tersebut, ditemukan sejumlah bagian ukiran kayu yang mengalami kerusakan dan membutuhkan penanganan.
Restorasi antara lain mencakup enam pilar ukiran berbahan kayu jati yang kondisinya disebut sudah tidak memungkinkan diperbaiki hanya dengan metode penambalan. Selain pilar, pekerjaan juga meliputi bagian tangga serta sejumlah hiasan dinding.
Lestari kemudian menawarkan dukungan untuk membantu proses restorasi. Tawaran tersebut mendapat sambutan dari pengelola Masjid Istiklal.
Sekitar delapan bulan setelah kunjungan tersebut, proses restorasi memasuki tahap pelaksanaan dengan keterlibatan langsung tiga pengukir dari Jepara.
“Diplomasi budaya bukan sekadar kerja sama antarpemerintah. Ketika pengukir Jepara diundang merestorasi karya bersejarah Indonesia di Sarajevo, kita sedang menunjukkan bahwa warisan bangsa memiliki nilai yang diakui lintas negara,” ujar Lestari dalam keterangan tertulis, Kamis (15/10/2026).
Menurut Lestari, keberadaan ornamen ukir Jepara di Sarajevo menunjukkan bahwa keterampilan tradisional Indonesia telah menjangkau dunia internasional sejak puluhan tahun lalu.

“Fakta bahwa ukiran Jepara telah hadir di Sarajevo sejak puluhan tahun lalu menunjukkan bahwa keterampilan tradisional kita memiliki daya jangkau yang jauh lebih luas dari yang sering kita sadari. Ini adalah warisan bangsa yang harus kita rawat bersama,” katanya.
Bagi Jepara, keterlibatan tiga pengukir dalam restorasi tersebut menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa seni ukir tidak hanya merupakan bagian dari sejarah dan identitas daerah, tetapi juga keterampilan yang terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Keterlibatan pengukir Jepara sekaligus memperlihatkan bentuk diplomasi budaya melalui kerja nyata. Jejaknya dimulai dari kunjungan Lestari Moerdijat ke Bosnia pada Februari 2026, dilanjutkan dengan koordinasi pelaksanaan restorasi, hingga keberangkatan para pengukir ke Sarajevo.
Restorasi ini juga diharapkan mendukung upaya memperkenalkan seni ukir Jepara sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang memiliki nilai di tingkat internasional, termasuk dalam proses pengajuan seni ukir Jepara sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO.
“Warisan budaya bukan benda mati yang hanya dipajang. Ia adalah jejak peradaban yang harus terus dirawat agar generasi berikutnya mengenali akar identitasnya. Pengukir Jepara yang bekerja di Sarajevo hari ini sedang menjaga jejak itu,” ujar Lestari.
Puluhan tahun setelah karya pengukir Jepara meninggalkan jejak di Sarajevo, generasi penerusnya kini datang untuk merawatnya.
Nama para pembuat karya tersebut mungkin belum diketahui. Namun, keterampilan yang mereka tinggalkan masih dapat ditemukan dalam detail ukiran kayu yang kini kembali disentuh tangan pengukir Jepara.
Restorasi itu menjadi pengingat bahwa warisan budaya tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana sebuah keterampilan tetap hidup dan diwariskan lintas generasi serta melintasi batas negara.(ADV)







