klikFakta.com, KUDUS — Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 76 UIN Sunan Kudus menggelar kegiatan sosialisasi bertajuk “Iman, Alam, dan AI: Ngobrol Ekoteologi dan Teknologi untuk Masa Depan” pada Sabtu, (22/8/2026), sore, bertempat di Balai Desa Papringan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus.
Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja tim KKN 76 sekaligus bentuk kolaborasi antara mahasiswa dengan Dosen.
Dalam kegiatan tersebut, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Wahyu Khoiruz Zaman, M.S.I, bertindak sebagai narasumber. Sementara itu, jalannya diskusi dipandu oleh Muhammad Maimuna Falahi, yang juga menjabat sebagai Wakil Koordinator Desa (Wakordes) Kelompok 76.
Sosialisasi ini diikuti oleh perwakilan dari sejumlah organisasi yang ada di Desa Papringan, di antaranya PKK, IPNU-IPPNU, IRMAJA, dan Karang Taruna.
Dalam paparannya, Wahyu mengajak peserta untuk melihat kembali hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan yang sebenarnya sudah dibangun sejak zaman Nabi Muhammad SAW.
Bedanya, kata Wahyu, dulu dakwah disampaikan lewat lisan, kemudian berkembang seiring munculnya mesin cetak sehingga Al-Qur’an bisa dicetak secara massal, lalu radio dan televisi yang melahirkan ulama-ulama dengan kemampuan komunikasi yang mumpuni, hingga akhirnya internet membuat umat Islam tidak lagi bergantung sepenuhnya pada ulama untuk mencari jawaban keagamaan.
Kini, teknologi AI hadir sebagai babak baru yang menurutnya tidak bisa dihindari, melainkan perlu dimanfaatkan dengan bijak.
Selain itu, Wahyu juga menjelaskan tiga unsur yang menjadi inti bahasan sosialisasi ini. Teknologi digambarkan sebagai alat, iman sebagai kepercayaan, dan alam sebagai amanah yang dititipkan Allah kepada manusia. Ketiganya membentuk hubungan segitiga yang dalam kajian keilmuan disebut ekoteologi. Manusia, menurutnya, berperan sebagai khalifah yang bertugas menjaga dan mengelola alam, bukan merusaknya.
Ia tidak menutup mata terhadap sisi positif dan negatif AI. Di satu sisi, AI banyak membantu pekerjaan manusia. Namun di sisi lain, teknologi ini membutuhkan sumber daya alam yang besar, terutama air, yang pada akhirnya turut menyumbang pada suhu bumi yang semakin panas.
Wahyu mencontohkan sejumlah pemanfaatan AI yang bisa mendukung penyelesaian masalah lingkungan di tingkat desa, seperti perancangan pekarangan rumah melalui prompt, dukungan bagi komunitas dan program lingkungan, hingga pengembangan usaha UMKM.
Sesi tanya jawab berlangsung hangat. Salah satu peserta melontarkan pertanyaan yang cukup menggelitik, jika AI bisa menjawab hampir semua pertanyaan, lalu apa gunanya guru?
Merespon pertanyaan tersebut, Wahyu menegaskan bahwa AI tidak dirancang untuk menggantikan peran manusia sepenuhnya. Menurutnya, AI memang tidak memiliki keterbatasan waktu dalam belajar sebagaimana manusia, sehingga mampu mempelajari berbagai buku dan referensi dengan cepat tanpa lupa. Meski begitu, hal itu tidak lantas menghilangkan fungsi guru sebagai pembimbing.
Pertanyaan lain yang muncul adalah bagaimana caranya agar anak-anak usia sekolah tidak terlalu bergantung pada AI. Menanggapi hal ini, Wahyu menyarankan agar penggunaan gawai pada anak-anak dibatasi, mengingat usia mereka belum sepenuhnya siap menerima laju perkembangan teknologi saat ini. Ia mengusulkan agar orang tua maupun pendamping memberikan tugas atau aktivitas alternatif supaya perhatian anak tidak melulu tertuju pada telepon genggam.
Melalui sosialisasi ini, tim KKN 76 berharap masyarakat Desa Papringan, khususnya perwakilan organisasi yang hadir, dapat memiliki bekal pemahaman yang lebih utuh dalam menyikapi perkembangan teknologi AI, tanpa melupakan nilai iman dan tanggung jawab menjaga alam sekitar.
Editor: Saiful







