Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Jepara Uji Coba Program Prasmanan MBG, Siswa Kini Ambil Makanan Sendiri

KlikFakta.com, JEPARA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan mulai diuji coba di Kabupaten Jepara. Melalui pola baru ini, siswa tidak lagi sekadar menerima makanan yang telah diporsikan, tetapi ikut terlibat dalam proses persiapan hingga mengambil makanan sendiri dari meja prasmanan layaknya orang atau tamu undangan.

Uji coba atau pilot project tersebut berlangsung di SD Swasta Kanisius Jepara dengan melibatkan 25 siswa kelas IV dan V. Pelaksanaan dimulai Senin (5/10/2026) dan dijadwalkan berlangsung selama dua pekan.

Korwil SPPG Kabupaten Jepara Muhammad Wildan Musthofa mengatakan, uji coba tersebut dilakukan untuk melihat efektivitas sistem prasmanan sebagai salah satu pola penyajian dalam program MBG.

“Kebetulan di Jepara masuk project piloting. Sementara ini periodenya dua minggu,” kata Wildan kepada VIVAJogja Selasa (6/10).

Dalam pola ini, makanan tetap disiapkan oleh SPPG Jepara Kauman 2. Setelah dikirim ke sekolah, makanan kemudian disiapkan untuk disajikan secara prasmanan.

Pada hari pertama, makanan selesai dimasak sekitar pukul 07.00 WIB dengan suhu tercatat 124,4 derajat Celsius. Makanan diberangkatkan dari SPPG pukul 08.30 WIB dan tiba di sekolah sekitar pukul 08.33 WIB.

Penyajian prasmanan dimulai pukul 09.00 WIB.
Siswa yang terlibat tidak hanya mengambil makanan, tetapi juga mendapat kesempatan ikut dalam proses persiapan dan pemorsian dengan pendampingan petugas SPPG dengan tetap menjaga mutu makanan yang akan di sajikan seperti, mengenakan masker celemek, dan penutup Rambut.

IMG 20261007 WA0018
Kabupaten Jepara Uji coba program prasmanan MBG di SD Swasta Kanisius Jepara Senin (5/10/2026)

Pola tersebut membuat siswa terlihat antusias karena mereka mendapatkan pengalaman berbeda dalam mengikuti program MBG menjadi hal yang baru bagi siswa.

Namun, pelaksanaan perdana juga masih menjadi bahan evaluasi. Salah satu yang menjadi perhatian adalah efisiensi waktu agar proses persiapan dan pemorsian tidak mengurangi waktu belajar siswa.

“Kalau dari siswanya memang perlu adaptasi karena ini menjadi hal baru, Penyiapannya jangan sampai mengurangi jam pelajaran sekolah siswa,” ujar Wildan.

Food Waste 0,8 Kilogram

Dari pelaksanaan hari pertama, jumlah makanan yang tersisa atau food waste tercatat 0,8 kilogram dari total 25 siswa.

Sisa tersebut terdiri atas 0,5 kilogram nasi atau karbohidrat dan 0,3 kilogram sayuran. Sementara sisa protein hewani, protein nabati, buah maupun makanan lainnya tercatat nol kilogram.

“Dari sisi food waste, makanan yang tersisa hanya 0,8 kilogram. Rinciannya terdiri atas 0,5 kilogram nasi atau karbohidrat dan 0,3 kilogram sayuran. Tidak terdapat sisa protein hewani, protein nabati maupun buah atau makanan lainnya,” jelas Wildan.

Kegiatan makan selesai sekitar pukul 09.40 WIB dengan total holding time tercatat 120 menit.

Dari sisi keamanan dan higienitas, hasil uji organoleptik dinyatakan layak. Kepatuhan penggunaan alat pelindung diri (APD) siswa yang terlibat dalam penyajian tercatat 100 persen.

Sementara tingkat kepuasan siswa dan guru pada pelaksanaan awal berada pada skor 3 dari 5.

Menu Disajikan Secara Prasmanan

Dalam uji coba tersebut, siswa mendapatkan sejumlah menu yang disajikan secara prasmanan, antara lain bakso, tahu goreng tepung dan capcay.

Menu bakso menggunakan bakso sapi atau ayam yang dipadukan dengan bawang putih, bawang merah, bawang bombay, kecap manis dan saus tiram.

Tahu goreng dibuat menggunakan tahu putih atau tahu kuning dengan balutan tepung terigu dan tepung beras. Sementara capcay terdiri atas wortel, kembang kol, sawi putih dan caisim atau sawi.

Beragam menu tersebut disajikan dalam satu meja prasmanan sehingga siswa dapat mengambil makanan sesuai porsi yang telah ditentukan.

Dievaluasi Selama Dua Pekan

Meski siswa menunjukkan antusiasme, pelaksanaan sistem prasmanan masih membutuhkan pendampingan dari pihak SPPG.

Pendampingan diperlukan untuk memastikan proses persiapan dan pemorsian berjalan sesuai ketentuan sekaligus mencegah miskomunikasi antara siswa yang bertugas.

Wildan mengatakan evaluasi akan dilakukan selama dua pekan. Hasil evaluasi tersebut akan menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan efektivitas program prasmanan MBG dan kemungkinan penerapannya lebih luas.

“Ya, Selasa (6/10) ini merupakan hari kedua,” katanya.

Rencananya, Wakil Bupati Jepara akan meninjau pelaksanaan pilot project tersebut di SD Swasta Kanisius Jepara pada Kamis (8/10/2026).

Peninjauan dilakukan untuk melihat secara langsung pelaksanaan program, mulai dari proses penyajian, keterlibatan siswa, efisiensi waktu, keamanan makanan hingga respons peserta.

“Dari kami juga akan melakukan peninjauan dan mendampingi hingga selesai,” pungkas Wildan.(Aris.S)

Editor: Saiful

Share: