Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Ibu-ibu di Jepara Antusias Buat Batik Jumputan di Taplak Meja

Ibu-ibu menunjukkan hasil karya dari pelatihan membuat batik jumputan yang dilakukan pada Minggu (18/2/2024) di Balai Desa Teluk Wetan atas kerjasama PKK Desa Teluk Wetan dan KKN Unisnu XVI Teluk Wetan (Istimewa)

KlikFakta.com, JEPARA – Belasan ibu-ibu PKK di Desa Teluk Wetan, Kecamatan Welahan, Jepara antusias belajar membuat motif batik jumputan dengan media taplak meja.

Agenda itu dilaksanakan pada Minggu (18/2/2024) di Balai Desa Teluk Wetan atas kerjasama PKK Desa Teluk Wetan dan KKN Unisnu XVI Teluk Wetan.

Batik jumputan dipilih karena proses pembuatannya yang sederhana dan bahan yang mudah dijumpai.

Tak butuh waktu sehari, belasan ibu-ibu di Desa Teluk sudah berhasil membuat taplak meja dengan motif warna-warni.

Instruktur pelatihan membatik, Anna Maulina menjelaskan kegiatan ini merupakan inisiatif dari teman-teman KKN Unisnu Teluk Wetan.

“Kami mengajak ibu-ibu PKK setempat untuk membuat batik jumputan yang nantinya bisa dijadikan sebagai alas atau taplak meja yang cantik,” kata Anna.

Anna memaparkan, proses pembuatan batik jumputan cukup mudah. Para peserta tinggal menyiapkan selembar kain berukuran 1,5 x 1 meter berwana putih polos yang akan dijadikan taplak.

Selanjutnya, ibu-ibu PKK membawa cat sumbu, menyiapkan baskom berisi air hangat dan menaburi garam secukupnya pada baskom

“Kain putih disiapkan, cat sumbu warna warni, karey atau benang sesuai selera, baskom berisi air garam untuk mengeringkan,” jelasnya.

Kain yang siap dibatik, lanjut Anna, diikatkan sebuah benang atau karet dan dibentuk sesuai motif yang diinginkan. Proses selanjutnya adalah pewarnaan pada bagian yang diikat atau dalam istilah Jawa dijumput.

“Setelah diwarnai sesuai bagiannya, didiamkan beberapa menit, kalau dirasa sudah cukup karetnya bisa dilepas,” paparnya.

Saat membuat batik jumputan, pembatik perlu mengikatkan sebuah benang atau seutas tali sesuai bentuk motifnya. Dari ikatan-ikatan benang tersebut, akan membentuk motif tertentu setelah proses pewarnaan kering.

“Baiknya kalau sudah kering didiamkan dua hari kemudian bisa digunakan jadi taplak,” ungkapnya.

Dinamakan batik jumputan, kata dia, sebenarnya sudah lama dan sudah banyak yang menerapkannya.

“Kainnya dijumput atau ditarik, jadi dinamakan batik jumputan,” tandas Anna.

Sebelum melakukan praktek pembuatan batik, peserta dari ibu-ibu PKK ini diberikan materi terlebih dahulu terkait batik jumputan dan proses pembuatannya.

“Sebelumnya, ada sosialisasi materi dari teman-teman KKN, baru dilakukan praktek,” pungkasnya.

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *