Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

BLOKADE, Tanah Hibah Warga Diserobot Pengembang

KESAL : Warga Dusun Ngelo Karangbener Kudus menuntut parit sawah yang tertutup tembok pagar bangunan perumahan untuk dibongkar karena merebut tanah milik swadaya warga. 
KlikFakta.com, KUDUS – Para petani yang memiliki lahan di area persawahan di RT 1 RW 8 Dusun Ngelo, Desa Karangbener, Kecamatan Bae, Kabapaten Kudus kesal karena parit yang berada di samping kanan kiri jalan area ditutup tembok bangunan perumahan. Mereka merasa dirugikan atas pencurian lahan yang dilakukan pihak perumahan.
Diketahui lokasi jalan hingga parit merupakan lahan hibah dari warga sejak puluhan tahun lalu. Kini, jalan tersebut ditutup aksesnya dengan blokade yang dilakukan oleh warga setempat.

Terlihat spanduk bertuliskan menuntut Pemdes Karangbener untuk segera mengembalikan parit warga, karena parit tersebut seharusnya untuk aliran air hujan dan bukan untuk didirikan pagar pengembang.

Basuki menceritakan, sekitar tahun 1985 warga yang memiliki tanah di lokasi tersebut diundang Kepala Desa Karangbener saat itu untuk membuat jalan desa. Masing-masing warga pun mewakafkan tanah yang dimiliki untuk digunakan sebagai jalan menuju area perswahan.
Jalan dengan lebar 3 meter dan panjang 500 meter pun dibangun. Ditambah kanan kiri jalan juga dibuat parit sebagai akses pengairan petani untuk lahan perawsahannya.
Berjalannya waktu, Basuki melanjutkan, tanah di lokasi teresbut mulai dijual. Beberapa diantaranya dibeli oleh pengembang dan dibuat perumahan.
“Sekitar tahun 2015 itu tanah yang dibeli pihak pengembang, termasuk parit, diuruk pakai tanah. Jadi (bekas) parit itu dibuat pagar sepanjang sekitar 150 meter,” katanya pada Rabu, (6/12) sore.
Penutupan parit itu, lanjut Basuki, sempat dikomplain dan diminta warga untuk dihentikan. Namun ternyata pihak pengembang kembali melanjutkan membangun pagar dan menutup parit setelah sempat berhenti sekitar 3 bulan sebelumnya.
Imbas dari parit yang tertutup, dikatakan Basuki, membuat air meluap ke jalan dan merugikan petani yang memiliki lahan di sekitar lokasi.
Bahkan di masa depan, Basuki juga khawatir penghuni perumahan di lokasi tersebut merasa dirugikan karena tidak ada saluran air yang mengarah ke sungai.
“Jadi kami meminta kepada pemerintah desa untuk mengembalikan parit kami di sisi kanan kiri jalan dari ujung utara sampai dengan selatan ke arah jalan dan dibuang ke barat arah sungai,” jelas Basuki.
Kerugian atas penutupan parit juga dirasakan oleh Munaji. Memiliki lahan yang cukup luas di sisi barat jalan, ia mengaku bahwa swahnya akan terendam air saat hujan datang.
Air yang biasanya bisa megalir ke sungai lewat parit, kini tertutup dan bertahan di area sawah warga.
“Kalau musim hujan, tanaman saya jadi busuk. Kemarin saja waktu saya mau jual kencur yang saya tanam, itu gak ada yang maju beli,” katanya.
Senada dengan rekannya, Munaji juga berhaap agar pemerintah desa Karangbener segera membuatkan parit yang baru di sisi kanan maupun kiri jalan. Agar air hujan bis amnegalir ke sungai sehingga tidak merusak jalan maupun lahan pertanian warga.
Dihubungi terpisah, Kepala Desa Karangbener Arifin mengungkapkan, dari keterangan perangkat desnya diketahui bahwa dulu warga swadaya mewakafkan tanahnya untuk dijadikan jalan. Namun hal itu hanya lisan semata, tidak ada bukti secara tertulis.
”Tapi saat hibah swadaya itu, tidak ada hitam di atas putih ataupun keterangan. Sertifikat juga belum diubah. Selama belum diubah itu kan masih jadi perorangan,” kata Arifin.
Oleh karena itu, pihak pengembang awal membangun lahan tersebut sesuai dengan luasan sertifikat dan akhirnya pindah tangan dan didirikan pagar tembok. Pihak pemerintah desa sendiri, dikatakan Arifin telah berupaya berkoordinasi dengan beberapa pihak terkait dan mencoba melakukan mediasi.
Namun, saat mediasi pemegang perumahan saat ini tidak datang. Hingga akhirnya polemik itu pun belum menuai titik temu.
”Tidak jadi musyawarah dan tidak jadi ada solusinya. Karena pemilik tanahnya tidak datang,” ujarnya.
Sebenarnya pihak pengembang dikatakan Arifin sudah membuat aliran air namun tetap di dalam pagar perumahan. Hal itu berbeda dengan permintaan warga yang meminta parit ada di luar pagar perumahan seperti sebelumnya.
Kini pihak desa belum menemukan jalan keluar atas masalah tersebut. Tapi setidaknya Pemdes sudah berusaha mengambil jalan tengah meskipun masih buntu.  (JIM/GIAN)
Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *