Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Kepsek SMP Lakukan Pelecehan Seksual, Apa yang Harus Dilakukan?

little girl in coat, t-shirt, jeans holding hands on ears and looking fatigued , front view.

KlikFakta.com, JEPARA – Baru-baru ini, Jepara digemparkan kasus dugaan pelecehan seksual oleh oknum Kepsek SMP di Kecamatan Kembang. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat aman bagi anak justru menjadi tempat terjadinya pelecehan seksual.

Ika Febrian Kristiana, dosen psikologi anak Universitas Diponegoro (Undip) Semarang menerangkan longgarnya sistem pengawasan menjadi salah satu faktor terjadinya pelecehan seksual di sekolah.

Anak-anak kecil cenderung menjadi korban empuk kekerasan seksual. Seperti halnya kasus guru yang melakukan pelecehan seksual di mana pelaku kebanyakan orang dewasa.

“Mereka (anak-anak) dipandang sebagai makhluk yang lemah dan kemungkinan tidak tahu apa itu pelecehan seksual,” terangnya kepada KlikFakta.com.

Ia juga menyayangkan oknum kepsek SMP yang diduga menjadi pelaku kekerasan seksual.

“Seharusnya kepala sekolah memberikan teladan bagaimana bersikap dan berinteraksi, bukan malah memberi contoh seperti perilaku tidak senonoh kepada murid, guru, atau karyawan,” kata doktor jebolan Universitas Airlangga, Surabaya.

Aturan Jelas Pencegahan Kekerasan Seksual

Maka dari itu, Ika menerangkan pentingnya sekolah membuat aturan yang jelas mengenai etika atau cara bergaul antar unsur sekolah baik guru, siswa, atau tenaga pendidik.

Tak hanya membuat legalitas untuk mencegah kekerasan seksual, tetapi juga melakukan pengawasan sistem sosial.

“Ketika masing-masing unsur sistem sosial di sekolah tidak aware dengan pelecehan seksual, maka kemungkinan pelecehan seksual terjadi,” terangnya.

Sosialisasi Mengenai Pencegahan Kekerasan Seksual

Ika mengatakan sekolah perlu memberikan sosialisasi atau pemahaman mengenai kekerasan seksual serta dapat menggandeng instansi terkait.

“Adakan sosialisasi itu secara berkala, kalau bisa rutin di sekolah tentang pemahaman dan pentingnya mengetahui apa itu pelecehan seksual, dampaknya seperti apa, dan pencegahannya bagaimana,” katanya.

Berbicara tentang pelecehan seksual, ia menjelaskan jika tak hanya terjadi secara fisik tetapi juga dalam bentuk lain seperti memanggil dengan panggilan tak sepantasnya atau catcalling.

“Memahami mengenai pelecehan seksual itu seperti apa, tingkatannya bagaimana, dan kenapa itu harus dihindari menjadi hal yang lemah di Indonesia,” ungkapnya.

Bekali Anak dengan Edukasi Seks

Ika mengatakan pentingnya pendidikan seksual di lingkungan keluarga agar anak dapat terhindar dari pelecehan seksual.

“Mana saja anggota tubuh yang perlu dijaga dan tidak boleh dipegang atau ditunjukkan kepada orang lain. Pada siapa dia akan aman bercerita dan berinteraksi,” kata Ika.

“Apa yang harus ia lakukan ketika ada orang yang memegang atau menyentuh misalnya anggota tubuh yang tidak boleh disentuh,” lanjutnya.

Sekolah juga bisa turut andil dengan mengadakan workshop atau sosialisasi dengan peserta orang tua tentang edukasi seks.

Maka dari itu, pentingnya berbagai unsur dan elemen saling bergandengan untuk mencegah pelecehan seksual di sekolah.

“Ketika di keluarga diajarkan seks edukasi dan di sekolah ada aturan jelas dan sosialisasi pada siswa, orang tua, atau anggota sekolah tentang pelecehan seksual, maka perlu ada aturan lebih tinggi lagi yang mengikat dan mendukung implementasi sekolah ramah anak,” terang Ika.

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *