Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Dua Dosen FDKI UIN Sunan Kudus Diseminasikan Model SASTRA untuk Penguatan Mindful Communication

Inayatul Khafidhoh dan Silvia Oti Nugraheni, mendiseminasikan hasil penelitian berupa pengembangan Model SASTRA sebagai alternatif kegiatan reflektif untuk memperkuat mindful communication mahasiswa.

klikFakta.com, KUDUS – Dua dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI), Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus, Inayatul Khafidhoh dan Silvia Oti Nugraheni, mendiseminasikan hasil penelitian berupa pengembangan Model SASTRA sebagai alternatif kegiatan reflektif untuk memperkuat mindful communication mahasiswa. Kegiatan diseminasi dilaksanakan pada Selasa, 3 November 2026, dengan melibatkan 34 mahasiswa.

Model SASTRA dikembangkan sebagai pendekatan yang memanfaatkan karya sastra Nusantara sebagai media refleksi untuk membangun kesadaran dalam berkomunikasi. Pengembangan model ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan mahasiswa terhadap keterampilan komunikasi yang tidak hanya menekankan kemampuan menyampaikan pesan, tetapi juga kesadaran dalam mendengarkan, memahami orang lain, mengenali emosi, dan memberikan respons secara tepat.

Kebutuhan tersebut teridentifikasi melalui penelitian awal yang melibatkan 60 mahasiswa dari UIN Sunan Kudus, UIN Walisongo Semarang, dan UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Hasil analisis menunjukkan bahwa mahasiswa masih menghadapi sejumlah persoalan dalam komunikasi, seperti kecenderungan merespons secara spontan sebelum memahami pesan secara utuh, kesulitan mengelola emosi, serta terjadinya kesalahpahaman akibat perbedaan cara menyampaikan dan menafsirkan pesan.

Selain itu, mahasiswa juga menunjukkan kebutuhan terhadap kegiatan yang dapat membantu meningkatkan kesadaran ketika berkomunikasi. Karya sastra Nusantara dipandang memiliki potensi untuk mendukung kebutuhan tersebut karena menghadirkan pengalaman tokoh, konflik, nilai kehidupan, dan kearifan lokal yang dapat menjadi bahan refleksi.

“Model SASTRA kami kembangkan dengan memanfaatkan karya sastra Nusantara sebagai media refleksi. Melalui pengalaman tokoh dan konflik dalam cerita, mahasiswa diajak untuk melihat persoalan komunikasi dari berbagai sudut pandang, mengenali emosi, serta mempertimbangkan respons yang lebih tepat sebelum berkomunikasi,” ungkap peneliti.

Model SASTRA memiliki enam tahapan kegiatan, yaitu Siapkan Kesadaran, Apresiasi Sastra, Selami Pengalaman, Tafsirkan Makna, Respons Berkesadaran, dan Aktualisasikan. Keenam tahapan tersebut dirancang secara berurutan untuk mengarahkan mahasiswa dari proses membangun kesiapan diri, mengapresiasi karya sastra, merefleksikan pengalaman tokoh, hingga menghubungkan nilai-nilai cerita dengan praktik komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.

Pelaksanaan model tidak terbatas pada aktivitas membaca karya sastra. Mahasiswa juga dilibatkan dalam kegiatan refleksi personal, diskusi, tanya jawab, studi kasus, dan bermain peran. Melalui rangkaian aktivitas tersebut, mahasiswa diharapkan dapat berlatih mendengarkan secara aktif, memahami perspektif orang lain, mengenali respons emosional, serta membangun sikap empatik dalam berkomunikasi.

Penelitian ini menghasilkan dua produk utama, yakni Buku Panduan Operasional Model SASTRA dan Buku Kerja Praktik Mahasiswa. Buku panduan memuat landasan dan petunjuk pelaksanaan model, sedangkan buku kerja digunakan mahasiswa untuk mengikuti aktivitas serta mendokumentasikan proses refleksi selama kegiatan berlangsung.

Sebelum didiseminasikan, Model SASTRA telah melalui proses validasi oleh ahli. Hasil validasi menunjukkan bahwa model memperoleh penilaian positif dari aspek relevansi isi dan kesesuaian komponen pengembangan. Proses ini menjadi bagian penting untuk memastikan bahwa model memiliki landasan dan perangkat pelaksanaan yang sesuai dengan tujuan pengembangannya.

“Kami berharap Model SASTRA tidak hanya menjadi panduan kegiatan membaca sastra, tetapi juga dapat menjadi alternatif kegiatan reflektif yang membantu mahasiswa membangun empati, mengelola emosi, memahami perspektif orang lain, dan mengembangkan mindful communication. Dengan demikian, nilai-nilai luhur dalam sastra Nusantara dapat terus dihadirkan dan dihubungkan dengan kebutuhan komunikasi generasi muda saat ini,” tambah peneliti.

Melalui pengembangan Model SASTRA, karya sastra Nusantara diharapkan tidak hanya hadir sebagai bahan apresiasi, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran reflektif. Model ini menjadi salah satu upaya untuk menghubungkan kekayaan nilai budaya lokal dengan penguatan keterampilan komunikasi mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi.

Share: