klikFakta.com, JEPARA – Kesempatan pengukir Jepara merestorasi bagian Masjid Istiklal di kawasan Otoka, Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina, awalnya tidak direncanakan. Pekerjaan itu muncul setelah tim Jepara berkunjung ke Bosnia dalam agenda yang berkaitan dengan penguatan pengajuan ukir Jepara sebagai warisan budaya takbenda UNESCO.
Sutrisno, salah satu anggota tim, mengatakan perjalanan tersebut semula diarahkan untuk mencari dukungan terhadap upaya Jepara dalam pengajuan ukir sebagai warisan budaya takbenda UNESCO. Tim kemudian mengunjungi sejumlah pihak di Bosnia, termasuk kawasan Konjic.
Dari perjalanan itu, tim mendapat informasi mengenai Masjid Istiklal yang merupakan masjid pemberian Indonesia. Mereka kemudian berkunjung dan mengetahui adanya bagian ukiran yang mengalami kerusakan.
“Tidak sengaja. Awalnya kami ke Bosnia itu karena Bu Lestari (red. Lestari Moerdijat) mau membantu Jepara mengajukan ukir sebagai warisan budaya takbenda UNESCO,” kata Sutrisno, maestro ukir, saat ditemui di tempat produksinya, Jepara Carver, di sentra industri ukir Desa Senenan, Kecamatan Tahunan, Jepara, Senin (28/9/2026).
Saat mengunjungi Masjid Istiklal, tim mendapat informasi dari pengelola masjid mengenai kerusakan pada sejumlah bagian ukiran. Sutrisno mengatakan terdapat enam pilar yang mengalami kerusakan sehingga tidak dapat sekadar ditambal.

Lestari kemudian menawarkan bantuan untuk merestorasi bagian tersebut. Tawaran itu diterima dan pekerjaan berkembang mencakup bagian lain, termasuk tangga serta hiasan dinding.
Menurut Sutrisno, informasi yang diterima tim dari staf protokol kepresidenan menyebut ukiran di masjid tersebut merupakan hadiah Presiden BJ Habibie dan dibuat oleh pengukir Jepara. Namun, ia mengatakan alamat atau identitas pengukir yang mengerjakan karya tersebut belum berhasil ditelusuri.
“Informasinya dari staf protokol, itu hadiah Pak Habibie. Yang membuat orang Jepara, tetapi alamatnya tidak ketemu,” ujarnya.
Informasi tersebut menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian tim karena karya ukir Jepara berada di sebuah masjid di Sarajevo. Sutrisno mengatakan pekerjaan restorasi itu sekaligus membawa nama Jepara melalui keterampilan pengukir yang masih bertahan hingga sekarang.
Maestro ukir tersebut berharap keberadaan pengukir Jepara dalam pekerjaan tersebut dapat memperkenalkan kembali tradisi ukir Jepara kepada generasi muda. Menurut dia, pekerjaan di Sarajevo juga membuka kemungkinan adanya kerja sama budaya dengan pihak lain, karena karakter ukiran di Bosnia memiliki perbedaan dengan ukiran Jepara.
Tiga pengukir Jepara, termasuk Sutrisno, dijadwalkan berangkat ke Sarajevo pada 13 Oktober 2026. Mereka akan membawa peralatan kerja dan kebutuhan restorasi dari Jepara untuk mengerjakan perbaikan ukiran di Masjid Istiklal.(ADV)







