Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Tradisi Jepara Diarak Lintas Generasi dalam Kirab Budaya Merah Putih

(Foto: klikFakta/Aris.S)

klikFakta.com, JEPARA – Warisan budaya Jepara kembali dihidupkan melalui Kirab Budaya Merah Putih Kabupaten Jepara 2026. Sebanyak 59 nomor atau kelompok peserta membawa beragam tradisi, tokoh sejarah, hingga kesenian lokal dalam satu arak-arakan yang melibatkan berbagai generasi.

Dari anak-anak PAUD hingga kelompok umum, kirab menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali identitas budaya Jepara kepada masyarakat. Tradisi yang selama ini hidup di tengah masyarakat dikemas dalam pertunjukan yang lebih dekat dengan generasi muda.

Salah satunya ditampilkan TK Terpadu Tarbiyatul Athfal Muslimat NU Jepara, Kelurahan Demaan, Kecamatan Jepara, melalui Obor Tegalsambi.

Tradisi yang menjadi salah satu identitas budaya Jepara itu dibawakan oleh anak-anak usia dini. Mereka tampil dengan kemasan kostum modern, tanpa menghilangkan pesan utama tentang pentingnya menjaga tradisi.

Guru pendamping, Lia, mengatakan persiapan penampilan dilakukan sekitar dua minggu. Tantangan terbesar bukan sekadar mempersiapkan pertunjukan, tetapi mengenalkan makna tradisi kepada anak-anak.

“ Tantangannya menyiapkan anak-anak usia dini. Kami harus mengenalkan bahwa tradisi ini perlu dilestarikan,” ujarnya.

Bagi Lia, keterlibatan anak-anak dalam kirab menjadi bagian penting dari proses regenerasi budaya. Tradisi tidak cukup hanya dikenang melalui cerita, tetapi perlu dikenalkan dan dipraktikkan sejak usia dini.

IMG 20260818 WA0014
Kemeriahan Kirab Budaya Merah Putih Kabupaten Jepara 2026

Peserta kirab berasal dari berbagai jenjang, mulai PAUD, SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA hingga kelompok umum. Keragaman peserta itu membuat kirab menjadi gambaran lintas generasi dalam menjaga budaya Jepara.

Sejumlah tradisi dan tokoh sejarah Jepara juga dihadirkan dalam parade. Di antaranya Perang Obor, Pesta Lomban, Ratu Shima, Ratu Kalinyamat hingga R.A. Kartini.

Ana, warga Desa Mulyoharjo, Kecamatan Jepara, sengaja datang bersama tiga anaknya untuk menyaksikan kirab. Ia melihat kegiatan tersebut bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga kesempatan bagi anak-anak untuk mengenal budaya daerahnya.

“Anak saya paling suka melihat drumband,” kata Ana.

Kirab Budaya Merah Putih Kabupaten Jepara 2026 berlangsung sejak pukul 08.00 WIB. Seluruh peserta mengikuti rangkaian kirab hingga selesai.

Wakil Bupati Jepara Muhammad Ibnu Hajar mengatakan kirab tidak semata-mata diarahkan untuk menentukan pemenang. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya mengembangkan budaya Jepara sekaligus memberikan ruang bagi UMKM lokal.

Gus Hajar hadir mewakili Bupati Jepara Witiarso Utomo. Kegiatan tersebut turut dihadiri unsur Forkopimda dan Bunda PAUD Jepara Laila Saidah Witiarso.

Menurut Gus Hajar, keberadaan kirab diharapkan mampu membuat budaya Jepara semakin dikenal dan terus berkembang. Keterlibatan anak-anak dan generasi muda menjadi salah satu kunci agar warisan budaya tidak berhenti pada generasi sebelumnya.

Di tengah parade budaya itu, keramaian juga membawa dampak ekonomi bagi pedagang kecil.

Firman Maulana, penjual es krim keliling, mengaku dagangannya lebih laris dibandingkan hari biasa. Saat peserta PAUD tampil, hampir satu ember es krim berkapasitas delapan liter habis.

“Alhamdulillah ada kenaikan. Baru tingkat TK PAUD saja, satu ember hampir habis,” kata Firman, Selasa (18/8/2026).

Firman yang telah berjualan es krim keliling selama lima tahun itu bahkan menambah stok untuk mengantisipasi ramainya pembeli. Ia menjual es krim rasa vanila, cokelat, dan stroberi. Varian cokelat dan vanila menjadi yang paling banyak diminati.

Pedagang mainan keliling, Nor Ahmad, juga merasakan hal serupa. Warga Desa Karanganyar, Kecamatan Welahan, itu menyebut kitiran dan balon menjadi mainan yang paling banyak dicari anak-anak.

Kitiran dijual Rp10 ribu untuk tiga buah. Menurut Nor, pembeli cenderung memilih mainan dengan harga terjangkau.

Sementara itu, salah satu juri, Sarjono, mengatakan penilaian peserta meliputi penampilan, kreativitas, kekompakan, dan kesesuaian tema.

Seluruh peserta, kata dia, telah memenuhi kriteria yang ditetapkan.

Pada akhirnya, Kirab Budaya Merah Putih Jepara bukan hanya tentang siapa yang tampil paling menarik atau menjadi pemenang. Di balik arak-arakan itu, ada proses pewarisan nilai, sejarah, dan tradisi dari generasi ke generasi.

Anak-anak belajar mengenal warisan leluhur, masyarakat kembali menyaksikan identitas budayanya, sementara keramaian yang tercipta turut menghidupkan aktivitas ekonomi warga.

Budaya pun tidak sekadar dipertontonkan. Ia kembali hadir, berjalan di tengah masyarakat, dan diteruskan kepada generasi berikutnya.

Reporter: Aris.S

Share: