Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Membangun Karakter Anak di Era Digital: Dosen UIN Sunan Kudus Berbagi Resep ‘Orang Tua Hebat

klikFakta.com, KUDUS – Tantangan mendidik anak di era digital kini semakin kompleks. Layar gawai seringkali menjadi “pengasuh pengganti” yang memicu berbagai masalah, mulai dari tantrum hingga luntur adab. Menjawab keresahan ini, RA Muslimat NU Tarbiyatul Wildan, Wates, Undaan, Kudus, menggelar acara Parenting Education bertajuk “Menjadi Orang Tua Hebat dalam Membangun Karakter Anak pada Usia Dini di Era Digital” pada Ahad (19/7/2026).

Acara ini menjadi istimewa dengan hadirnya dua narasumber Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus, Dr. Anisa Listiana, M.Ag., dan Primi Rohimi, S.Sos., M.S.I. Kehadiran akademisi UIN Sunan Kudus ini memberikan wawasan dan praktik terbaik bagi para wali murid.

Dalam paparannya, Anisa Listiana yang menyoroti usia 0-6 tahun sebagai masa keemasan (golden age). Di fase ini, otak anak ibarat spons yang dengan cepat menyerap informasi di sekitarnya. Oleh karena itu, keteladanan orang tua menjadi kunci utama karena anak adalah peniru ulung (copycat). “Keteladanan jauh lebih bersuara daripada sekadar perintah lisan,” pesan Anisa dalam paparannya.

Orang tua diimbau untuk tidak memberikan instruksi, seperti menyuruh anak membereskan mainan, sambil asyik menatap layar gawai. Sebaliknya, pendekatan yang disarankan adalah terlibat aktif, memvalidasi emosi anak, serta membiasakan tiga kata ajaib: Tolong, Maaf, dan Terima Kasih dalam keseharian.

IMG 20260723 WA0001

Melengkapi wawasan dari Anisa, materi dalam acara parenting ini juga diperkaya oleh gagasan Primi yang menyoroti pentingnya peran keluarga sebagai madrasah pertama (madrasatul ula) dan sekolah sebagai mitra strategis.

Menurutnya, membatasi anak dari dunia digital secara total melalui tembok pembatas fisik bukanlah solusi yang paling efektif di masa kini. “Membangun filter internal berupa iman dan adab jauh lebih penting. Tembok fisik akan runtuh saat anak berada di luar pengawasan, tetapi filter internal akan bekerja 24 jam melindungi jiwa anak di mana pun mereka berada,” tegas Primi.

Dosen UIN Sunan Kudus tersebut juga membagikan pendekatan praktis yang disebut ‘Security Patch’. Ia memandu orang tua untuk melakukan langkah teknis pada gawai anak, seperti mengaktifkan Parental Controls dan Restricted Mode guna menyaring konten video yang tidak pantas, serta mengarahkan anak pada aplikasi-aplikasi yang lebih edukatif dan produktif.

Di penghujung acara, Primi Rohimi mengajak para orang tua untuk segera melakukan ‘Gerakan 3 Langkah Nyata’. Pertama, menetapkan zona bebas gawai di rumah, misalnya di meja makan atau kamar tidur. Kedua, langsung mempraktikkan pembatasan konten gawai. Ketiga, menjalin sinergi harian dengan guru, seperti membiasakan menyapa dan menanyakan perkembangan positif anak setiap pagi saat mengantar ke sekolah.

“Tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua, maka kitalah yang harus terus belajar. Mari letakkan gadget kita sejenak, tatap mata anak kita, dan berikan pelukan hangat hari ini,” tutup pesan reflektif di akhir acara. Sinergi yang erat dan berkelanjutan antara orang tua dan lembaga pendidikan diyakini menjadi langkah paling konkret dalam mencetak generasi yang cerdas secara digital namun tetap berakhlak Rabbani.

Penulis: Primi Rohimi

Share: