KlikFakta.com, JEPARA — Seni ukir Jepara mendapat panggung nasional melalui Pameran TATAH 2026 bertajuk “Suluk–Sulur–Jepara” yang digelar di Museum Nasional Indonesia pada 20 April hingga 5 Juli 2026.
Pameran ini menempatkan pengukir sebagai subjek utama, dengan menampilkan karya-karya yang menonjolkan nilai artistik, filosofi, serta tradisi panjang ukiran Jepara. Tema “Suluk–Sulur–Jepara” mengangkat motif dedaunan khas sekaligus merepresentasikan perjalanan, pertumbuhan, dan kesinambungan budaya (07/04).
Direktur TATAH, Veronica Rompies, menjelaskan bahwa pameran ini disusun berbasis riset mendalam untuk memperkuat posisi ukiran sebagai karya seni murni, bukan sekadar produk kerajinan.
“Ukiran Jepara memiliki kedalaman nilai yang lahir dari tradisi panjang. Pameran ini berupaya menghadirkan narasi tersebut secara utuh melalui pendekatan kuratorial yang kuat,” ujarnya.
Pameran TATAH 2026 juga menyoroti tantangan regenerasi pengukir. Di tengah perkembangan industri mebel massal, minat generasi muda terhadap seni ukir murni dinilai cenderung menurun.
Melalui pameran ini, para pengukir dihadirkan tidak hanya sebagai pelaku produksi, tetapi sebagai kreator yang memiliki identitas, gagasan, dan nilai artistik. Upaya ini sekaligus membuka peluang keterhubungan dengan pasar seni, termasuk kolektor nasional dan internasional.
Rangkaian kegiatan meliputi pameran utama, pemutaran film tentang Raden Ajeng Kartini, pertunjukan seni, peluncuran dan bedah buku hasil riset, serta program edukasi publik.
Kualitas pameran didukung oleh tim kurator yang terdiri dari Suwarno Wisetrotomo, Nano Warsono, dan Nurrohmad, serta tim riset lintas disiplin.
TATAH 2026 merupakan bagian awal dari rangkaian trilogi pameran hingga 2028, yang melibatkan kolaborasi antara komunitas seni, peneliti, kurator, serta pelaku industri kreatif berbasis tradisi.
Reporter: Aris.S







