Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Menguatkan Akar Tradisi, Gen-Z UIN Sunan Kudus Antusias Ikut Kajian Kitab Klasik

Dr. KH. Nur Said, M.A., M.Ag., dosen UIN Sunan Kudus yang juga Sekretaris PCNU Kudus serta Pengasuh Pesantren Literasi Prisma Quranuna (PrismaQu) Kudus saat mengisi kajian di masjid kampus UIN Sunan Kudus.

KUDUS – Pagi itu, suasana Masjid kampus UIN Sunan Kudus tidak seperti biasanya. Di tengah keheningan Ramadan, sekelompok mahasiswa duduk rapi dengan kitab kuning di tangan. Sebagian membuka catatan, lainnya menyimak dengan khidmat. Di hadapan mereka, seorang kiai menjelaskan pelan, menuntun satu per satu makna dari teks klasik yang telah menjadi fondasi pemikiran Nahdlatul Ulama.

Bagi sebagian orang, pemandangan ini mungkin tampak sederhana. Namun, di tengah arus digitalisasi dan budaya instan yang lekat dengan generasi muda, suasana tersebut menyimpan makna yang lebih dalam: sebuah upaya kembali ke akar.

Kajian kitab Muqoddimah Al Qonun Al Asasi, karya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, menjadi salah satu magnet utama kegiatan keislaman di kampus ini selama Ramadan 1447 Hijriah. Digelar setiap Senin pagi, kajian ini diasuh oleh Dr. KH. Nur Said, M.A., M.Ag., dosen UIN Sunan Kudus yang juga Sekretaris PCNU Kudus serta Pengasuh Pesantren Literasi Prisma Quranuna (PrismaQu).

Sejak awal pelaksanaan, kegiatan ini menarik antusiasme tinggi dari kalangan mahasiswa, khususnya generasi Gen-Z yang memiliki minat kuat terhadap penguatan literasi keislaman berbasis tradisi pesantren.

Peserta kajian berasal dari beragam latar belakang, mulai dari remaja masjid kampus, santri mahasiswa yang bermukim di Ma’had Al-Jami’ah UIN Sunan Kudus dan PrismaQu, hingga mahasiswa lintas fakultas yang memanfaatkan waktu luang di sela aktivitas akademik. Kehadiran mereka mencerminkan gairah baru di kalangan mahasiswa untuk mendalami khazanah keilmuan klasik dengan pendekatan yang kontekstual.

Kitab Muqoddimah Al Qonun Al Asasi sendiri dikenal sebagai fondasi ideologis berdirinya Nahdlatul Ulama (NU). Dalam setiap sesi, peserta diajak menelusuri nilai-nilai dasar berorganisasi yang bersumber dari Al-Qur’an dan keteladanan Nabi Muhammad SAW. Nilai-nilai seperti tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (adil) menjadi penekanan utama, yang dinilai relevan dalam menghadapi dinamika sosial serta derasnya arus informasi di era digital.

Tidak hanya itu, Masjid dan mushala kampus UIN Sunan Kudus juga menjadi pusat kajian berbagai kitab klasik lainnya selama Ramadan. Kitab At-Tibyan dikaji bersama Dr. KH. Saiful Mujab, M.S.I.; Irsyadul ‘Ibad bersama Dr. K. Thoifuri, M.Ag.; Adabul Islam fi Nidhamil Usroh bersama Dr. K. Fauzan Adim, M.A.; serta Ayyuhal Walad bersama Dr. K. Cihwanul Kirom, Lc., M.E.I.

Sementara itu, kajian Fathul Qorib dan Al-Hikam dipandu oleh K. Nurul Fatah, S.H.I., M.A., yang memperkuat pemahaman fikih dasar sekaligus memperkaya dimensi tasawuf dalam kehidupan mahasiswa.

Rangkaian kegiatan ini mencerminkan sinergi yang kuat antara budaya akademik kampus dan tradisi pesantren. Di satu sisi, mahasiswa ditempa melalui pendekatan ilmiah di ruang kuliah, sementara di sisi lain mereka diperkaya dengan kedalaman spiritual dan adab melalui kajian kitab kuning di lingkungan masjid kampus.

Ramadan menjadi momentum strategis untuk menguatkan nilai tersebut. Di sela aktivitas perkuliahan, mahasiswa memanfaatkan waktu untuk mengikuti kajian, berdiskusi, serta memperluas wawasan keislaman. Masjid kampus pun tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat literasi turats dan pembinaan karakter.

Melalui konsistensi penyelenggaraan kajian rutin yang dipelopori oleh Kelompok Remaja Masjid UIN Sunan Kudus, Forum Kajian Turats, takmir masjid, Ma’had Al-Jami’ah, serta dukungan penuh dari rektorat, UIN Sunan Kudus terus berupaya melahirkan generasi mahasiswa yang unggul secara akademik sekaligus kokoh dalam nilai keislaman dan kebangsaan berakar pada tradisi lokal, namun tetap adaptif terhadap perkembangan zaman dan tantangan global.

Share: