klikFakta.com, SEMARANG – Griya Sehat Syafa’at 99 Semarang menerapkan bimbingan keagamaan sebagai salah satu pendekatan dalam membantu proses penyembuhan pasien. Berbeda dengan anggapan masyarakat yang sering mengaitkan ruqyah dengan pengusiran jin, terapi yang diterapkan di Griya Sehat Syafa’at 99 lebih menitikberatkan pada upaya menenangkan hati melalui pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan pendampingan spiritual.
Dalam proses pelayanan, terapis terlebih dahulu melakukan anamnesis dengan menggali identitas pasien, keluhan utama, serta kondisi fisik dan emosional yang dirasakan. Pasien kemudian diminta menjelaskan lokasi ketidaknyamanan pada tubuh serta tingkat emosi yang muncul, seperti marah, takut, sedih, atau cemas. Informasi tersebut menjadi dasar dalam menentukan titik terapi yang akan diberikan selama proses ruqyah.
Keunikan metode yang diterapkan di Griya Sehat Syafa’at 99 adalah setiap pasien tidak langsung dibacakan ayat tertentu, melainkan dilakukan pengujian terlebih dahulu untuk mengetahui ayat Al-Qur’an yang memberikan rasa nyaman.
Setelah ditemukan ayat yang paling sesuai, terapi dilakukan dengan membacakan ayat tersebut sambil memberikan sentuhan atau pijatan ringan pada titik tubuh tertentu yang berkaitan dengan kondisi emosional pasien.
Dalam salah satu sesi terapi, seorang pasien yang mengeluhkan sering marah diminta mengingat kembali pengalaman yang memicu emosinya. Terapis kemudian mengukur tingkat emosi dan sensasi fisik yang muncul, lalu memperdengarkan beberapa surah Al-Qur’an untuk mengetahui bacaan yang paling memberikan ketenangan. Hasilnya menunjukkan bahwa Surah Al-Fatihah dan An-Nas memberikan respons yang lebih menenangkan dibandingkan surah lainnya, sehingga kedua surah tersebut digunakan dalam proses terapi dan dianjurkan untuk diamalkan secara mandiri di rumah.
Menurut terapis, prosedur tersebut diterapkan pada berbagai keluhan pasien, baik yang berkaitan dengan masalah kesehatan fisik, kecemasan, kesulitan memperoleh keturunan atau jodoh, hingga permasalahan ekonomi.
Fokus utama terapi bukan pada jenis masalah yang dihadapi, melainkan pada respons emosi dan sensasi fisik yang dirasakan pasien. Apabila terapi awal belum menunjukkan perkembangan yang berarti, maka dilakukan asesmen yang lebih mendalam pada sesi berikutnya.
Melalui pendekatan tersebut, Griya Sehat Syafa’at 99 menunjukkan bahwa bimbingan keagamaan dapat menjadi pelengkap dalam proses pelayanan kesehatan.
Pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an dipadukan dengan asesmen psikologis sederhana sehingga pasien tidak hanya memperoleh ketenangan spiritual, tetapi juga diajak mengenali hubungan antara kondisi emosi dan keluhan fisik yang dialaminya. Pendekatan ini diharapkan mampu membantu pasien lebih tenang, optimis, dan aktif dalam proses pemulihan.
Penulis: Siti Ning Silfi Ainun Nasikhah, dkk







