Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Hadiri Festival Tongtek, Ketua DPRD Jepara: Simbol Kekayaan Seni Budaya Kota Jepara

Ketua DPRD saat menyaksikan Festival Tongtek bersama Bupati dan Jajaran Forkopimda Jepara

KlikFakta.com, JEPARA – Dentuman ritmis kentongan berpadu dengan sorak penonton memecah malam di pusat Kota Ukir. Festival Tongtek Piala Bergilir Bupati Jepara 2026 resmi digelar pada Jumat (13/3/2026) malam, menghadirkan puluhan kelompok seni dari berbagai kecamatan yang menampilkan kreativitas musik perkusi tradisional, kostum unik, serta kekompakan tim dalam sebuah parade budaya yang memikat ribuan warga.

Kegiatan yang dimulai pukul 20.00 WIB itu mengambil titik start dan finish di Alun-Alun I Jepara. Sebanyak 25 grup peserta ambil bagian dalam festival tahun ini, dengan masing-masing tim beranggotakan antara 20 hingga 30 orang.

Rute festival melintasi sejumlah ruas jalan utama kota, mulai dari Jalan Kartini menuju Jalan Pemuda, dilanjutkan ke Jalan MH Thamrin hingga Jalan Brigjend Katamso sebelum kembali ke titik akhir di alun-alun kota.

Pengamanan festival dilakukan secara ketat oleh jajaran Polres Jepara melalui satuan lalu lintas yang menerapkan rekayasa arus kendaraan di sepanjang jalur parade. Selain itu, pemantauan juga dilakukan menggunakan teknologi drone “Mata Langit” guna memastikan keamanan dan kelancaran acara.

Ketua DPRD Jepara, Agus Sutisna, yang turut hadir menyaksikan jalannya festival, menilai kegiatan tersebut bukan sekadar hiburan malam Ramadan, melainkan representasi kekayaan seni budaya masyarakat Jepara yang terus hidup dari generasi ke generasi.

“Festival Tongtek ini bukan hanya lomba musik kentongan. Ia adalah simbol kekayaan seni budaya Kota Jepara yang lahir dari tradisi masyarakat. Dari bunyi sederhana kentongan untuk membangunkan sahur, kini berkembang menjadi pertunjukan seni yang penuh kreativitas,” ujar Agus.

Ia menambahkan bahwa keberadaan festival ini menjadi ruang ekspresi bagi generasi muda sekaligus sarana menjaga warisan budaya lokal agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

“Anak-anak muda Jepara mampu mengolah tradisi menjadi pertunjukan yang kreatif dan modern tanpa meninggalkan akar budayanya. Inilah yang harus terus kita jaga dan dukung bersama,” lanjutnya.

Dalam kompetisi tahun ini, dewan juri menilai peserta berdasarkan beberapa kriteria utama, antara lain harmonisasi irama alat musik tradisional, kreativitas kostum serta dekorasi gerobak atau kendaraan, serta kekompakan tim saat melintasi rute parade hingga panggung kehormatan di depan Tugu Pancasila.

Adapun total hadiah yang diperebutkan untuk Juara I senilai Rp7.500.000 beserta piala bergilir Bupati Jepara. Hingga berita ini ditulis, pengumuman resmi pemenang Festival Tongtek 2026 masih menunggu proses rekapitulasi nilai dari dewan juri dan rencananya akan diumumkan melalui kanal resmi Pemerintah Kabupaten Jepara.

Tradisi Tongtek sendiri memiliki sejarah panjang di Jepara. Pada awalnya, kegiatan ini dilakukan secara sederhana oleh para pemuda kampung yang berkeliling membangunkan warga untuk sahur menggunakan kentongan bambu. Bunyi “thong” dan “tek” yang dihasilkan dari pukulan bambu kemudian menjadi asal-usul nama tradisi tersebut.

Seiring waktu, fungsi sederhana itu berkembang menjadi bentuk ekspresi seni kolektif masyarakat. Instrumen yang digunakan tidak lagi terbatas pada kentongan, tetapi juga dipadukan dengan kendang, angklung, hingga berbagai alat musik dari barang bekas seperti drum plastik dan jeriken yang dirangkai menjadi ansambel perkusi unik.

Melihat potensi kreativitas tersebut, Pemerintah Kabupaten Jepara sejak awal dekade 2010-an mulai memformalkan tradisi ini menjadi festival budaya tahunan yang kini dikenal luas dan selalu dinanti masyarakat setiap bulan Ramadan.

Bagi warga Jepara, Tongtek bukan sekadar pertunjukan musik malam hari. Ia adalah cerminan kebersamaan, gotong royong, dan identitas budaya yang terus hidup di tengah masyarakat Kota Ukir. (ADV)

Share: