KlikFakta.com, JEPARA – Suasana berbeda mewarnai perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di Kabupaten Jepara. Puluhan warga keturunan Tionghoa yang beragama Islam berkumpul di Masjid Walisongo, Kecamatan Pecangaan, Selasa (17/2/2026), untuk menggelar pengajian sekaligus tradisi berbagi angpao.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 20 jemaah yang terdiri dari Muslim Tionghoa dan kalangan mualaf. Mereka tampak khidmat menyimak tausiah yang disampaikan Ustadz Mahdi, penceramah keturunan Tionghoa asal Magelang.
Dalam ceramahnya, Ustadz Mahdi menekankan pentingnya menjaga dan meningkatkan kualitas keimanan, terlebih momentum Imlek tahun ini berdekatan dengan datangnya bulan Ramadan.
“Iman itu bisa naik dan turun. Agama seseorang sangat tergantung siapa teman dekatnya, lingkungannya yang selalu mengingatkan kepada Allah dan Rasul-Nya,” ujar Ustadz Mahdi.
Ia mengajak para jemaah, khususnya mualaf, untuk aktif mencari majelis taklim dan lingkungan yang saling menguatkan dalam kebaikan. Menurutnya, seorang mualaf memulai perjalanan spiritual dari awal sehingga membutuhkan pendampingan dan penguatan yang konsisten.
Terkait perayaan Imlek, Ustadz Mahdi menilai tradisi tasyakuran dan berbagi dapat dimaknai sebagai bentuk rasa syukur, selama tetap berada dalam koridor syariat Islam.
“Kalau tahun baru Imlek itu kan bentuk syukur, semacam sedekah bumi. Mensyukuri hasil rezeki, berkumpul keluarga, makan bersama. Tasyakuran tidak masalah, selama tetap dalam koridor syariat,” katanya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri pengurus Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jawa Tengah, Maria Leoni atau Tan Swan Chu (38). Ia menyebut, kegiatan serupa umumnya lebih banyak terpusat di Semarang, namun komunitas di Jepara tetap berupaya menjaga silaturahmi meski jumlahnya belum besar.
“Chinese Muslim di sini kebanyakan pendatang. Tapi komunikasi tetap berusaha kami jalin. Silaturahmi dan saling mengenal itu penting,” ujar Leoni.
Ia menjelaskan, komunitas Muslim Tionghoa di Jepara telah ada sejak sekitar 1970-an. Saat ini, pihaknya terus berupaya mempererat tali persaudaraan dan mendorong keterbukaan agar semakin membaur dengan masyarakat luas.
Pengajian yang digelar bertepatan dengan perayaan Imlek tersebut juga diisi dengan tradisi berbagi angpao.
Amplop merah dibagikan kepada jemaah tanpa memandang usia, baik anak-anak maupun orang dewasa, sebagai simbol berbagi rezeki dan kebersamaan.
Bagi komunitas Muslim Tionghoa di Jepara, Imlek tidak sekadar pergantian tahun, melainkan momentum refleksi diri dan peningkatan kualitas ibadah. Harapan yang dipanjatkan pun sederhana: kesehatan, keberkahan rezeki, serta keteguhan dalam menjalankan ajaran agama.
“Harapannya setiap tahun sehat, panjang umur, anak-anak sejahtera, semakin istiqamah,” tutur Leoni.
Kegiatan tersebut menjadi.
gambaran harmonisasi tradisi dan nilai keagamaan yang berjalan seiring, sekaligus memperkuat semangat persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat Jepara.
Reporter: Aris. S







